Sunday, 2 December 2012

MENCARI NAMA RAHASIA ALLAH YANG KE 100


FEEL FREE TO CLICK ON RELATED POST:


+Credits to Sahabatku;
Article (Review) Di Edit Oleh: Anwar Holid
(segaja saya post bulat-bulat , pengolahan & ubah-suaian
hanya dari segi penekanan ayat, perkataan, kalimah & points to ponder
demi mengekalkan penyampaian versi asal)
-----------------------------------------------------------------


Tentang Buku Pak Muh 
---"Agus Kurniawan" 

Mencari Nama Allah yang Keseratus
Penulis : Muhammad Zuhri
Penerbit : Serambi Jakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2007
Tebal : 215 halaman

Tentang buku Pak Muh (Mencari Nama Allah yang Keseratus) mending baca sendiri atau tanya orang lain saja deh. Gak berani menjelaskannya, takut tidak tepat. Tapi sedikit yang saya bisa cerna (maklumlah "pencernaanku" jelek banget untuk urusan dunia pemikiran) mungkin begini:


Allah telah menawarkan nilai- nilai, yang secara artikulatif disimbolkan melalui asmaNya yang jumlahnya 99 (asma'ul husna, nama-nama yang agung). 

  • Tapi sumber itu tidak akan berarti apa-apa bagi seseorang bila tidak direalisasi dalam bentuk tindakan, gerak, amal, atau keterlibatan diri, yang memberi manfaat bagi kehidupan.
  • Ketika sudah direalisasikan dan menginternal dalam diri seseorang, maka seseorang itu akan menemukan/dianugrahi suatu "cara" atau metode yang efektifitasnya sangat tinggi dalam menjalankan amanatnya sebagai khalifah Allah. 
  • "Cara" tadi benar-benar khas milik orang itu sendiri, yang berbeda masing- masing orang. Sama-sama nabi, sama-sama ulama, sama-sama sufi, sama-sama pejuang, tapi perannya masing-masing khas dan berlainan. 

Atau setidak-tidaknya apa yang dihayatinya berbeda-beda. Pada saat itulah dia dikatakan telah menemukan asma Allah yang keseratus. Mungkin maksudnya begitu ya.


Dalam pemahamanku, istilah yang digunakan Pak Muh itu merupakan elaborasi imajinatif (dalam konteks positif lho) terhadap konsep literal yang sudah baku. Tujuannya adalah untuk meneguhkan tentang perlunya keterlibatan sang subjek dalam merealisasikan nilai atau konsep sehingga menjadi aktual. 

Dalam tradisi Jawa, sejauh yang saya tahu, terdapat model pemaparan serupa itu. Misalnya "sedulur papat kelima pancer", atau empat bersaudara dan yang kelimanya adalah sang pelengkap, sebuah elaborasi simbolik dari "kehadiran" Pandawa Lima. 

Puntodewo, si sulung, adalah simbol keikhlasan. 
Werkudoro/bimo simbol kejujuran (bahkan dia ditakdirkan tidak bisa berbasa-basi) . 
Arjuno simbol ilmu pengetahuan atau kemampuan mengelola kehidupan duniawi. 
Nakulo simbol kerendah hatian dan refleksi diri (na=tidak ada, kulo=aku atau ego). 
Sedangkan pelengkapnya adalah si bungsu sadewo (yang arti harfiahnya adalah berkemampuan layaknya dewa). 

Awalan "sa" atau "se" dalam bahasa Jawa artinya bisa "satu" tapi bisa juga "serupa" . Misalnya dalam kalimat "isinku segunung", yang artinya "rasa maluku sebesar gunung". Jadi "Sadewo" bisa diartikan satu dewa, bisa juga berarti berkemampuan serupa dewa. Tapi aku lebih sepakat yang kedua karena konteksnya lebih pas.



Sadewo adalah simbol keterlibatan si subjek dalam mengamalkan nilai-nilai sehingga menjadi aktual. Begitu empat nilai itu menginternal dalam diri si subjek, maka dia akan memiliki efektifitas yang tinggi dalam manajemen semesta, dan layak menjadi wakil Tuhan di bumi, atau bisa dikatakan mewarisi kemampuan ilahiyah. 

Sadewo, seperti kita tahu dalam cerita pewayangan, secara simbolik memiliki kemampuan seperti itu. Salah satu yang terkenal adalah kemampuanya mengetahui masa depan. Dalam cerita wayang, ada dua sosok yang memiliki kemampuan seperti itu, yakni Kresno dan Sadewo. Tetapi kemampuan Kresno lebih disebabkan karena dia memiliki senjata pemberian dewa, yaitu koco paesan (cermin penerawang masa depan = simbol perkakas analisis) . Sedangkan kemampuan Sadewo adalah natural, berasal dari dirinya sendiri. 




Konsep itu juga analog dengan istilah Jawa yang lain, yakni "ilmu lan laku"
Ilmu tentu saja artinya adalah pengetahuan atau kebijaksanaan. Tetapi ilmu tidak akan berarti apa-apa bila tidak disertai dengan laku atau keterlibatan si subjek. Oleh karena itu dalam tradisi Jawa dikenal istilah "nglakoni", atau melibatkan diri dalam berbuat kebaikan kepada masyarakat. 

Salah satu bentuk "laku atau nglakoni" adalah "poso ngrame". Poso hampir sama artinya dengan kata puasa dalam bahasa Indonesia, tapi maknanya lebih luas. "Poso" lebih tepat diartikan memaksa diri atau berkomitmen untuk melakukan sesuatu. 

"Ngrame" dari kata "rame" yang makna konotatifnya adalah meramaikan kehidupan dengan berbuat kebaikan. Memang bentuk "poso ngrame" adalah menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan, seperti dilakukan Raden Rama saat mencari Shinta, dimana dia menolong kera Sugriwo (dalam cerita wayang Jawa Lho) yang dianiaya oleh kakak kandungnya Subali.



Jadi, ringkasnya, dalam pemahaman saya, Pak Muh lewat bukunya ingin menyampaikan bahwa: nilai-nilai (sebaik apapun) belum sempurna bila belum direalisasikan kedalam kehidupan faktual. Mungkin begitu maksudnya. Sehingga apapun harus digenapkan atau disempurnakan, bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh diri si pelaku. Seperti dalam lakon Roro Jonggrang yang populer, seluruh patung yang diminta oleh Roro Jonggrang sebagai punagi (mas kawin) ternyata belum lengkap kecuali dilengkapi oleh diri Roro Jonggrang sendiri. Dan syahdan, Jonggrang pun akhirnya menjadi patung. Lengkaplah sudah, sempurnalah sudah.[]



Diedit oleh Anwar Holid

Awalnya tulisan ini diposting di cyberaki@yahoogroups.com

.

5 comments:

  1. Wsalam,pada fahaman saya la ,setelah membaca buku Kiyai Zuhri dan itulah jugak yg saya rasakan,tidak lain adalah diri kita sendiri sebagaimana kata kyai Zuhri lewat pengabdian kita pada Allah taala kita akan temuinya...Maksudnya diri kita lah yg menjadi pelengkap nama yg keseratus itu,maknanya kita menjadi Alhlullah(ahli Allah)Wali Allah,Kekasih Allah,Khalifah Allah,Wakil Allah.....dan tanda tandanya,kabul atau mustajab doanya,akan menjadikkan subur hati hati manusia,menolong/membantu membaikkan orang2 sakit dengan izin Allah dan sebagainya.....kita lihat saje la para Guru2 yg mulia dan orang orang salih dan tanda tanda yang ada pada mereka ,tidakkah nama nama dan sifat2 Allah jugak mereka menyandangnya......Wallahualam.
    ~ AYAHANDA IBNU MA'AROF

    ReplyDelete
    Replies
    1. asskum....ibu..menurut sya itu bukan untuk dikatakan secara Zahir karena dia bersifat Rahasia Batin Hamba.....Itu suatu larangan yang tidak sembarang tempat untuk ditulis atau dikatakan secara UMum,,,,,mohon ma'af ibu..

      Delete
  2. Temukanlah nama Allah yang ke 100 pada dirimu melalui pengabdian seutuh hidupmu. Bukan melalui referensi, pemikiran atau kitab.

    Muhammad telah menggenapi 100 Asmaul Husna ketika dia berpredikat Al-Amin, begitu juga Abubakar telah menemukan Nama Allah yang ke-100 dalam dirinya ketia dia dijuluki As-siddiq, Juga Umar bin Khattab Al-Farouq, Usman bin Affan Addz Dur Al Nurayn , dan Ali bin Abithalib al Murtadha.

    Mereka telah menemukan peranan dirinya yang tunggal di tengah semesta, lingkungannya telah meneguhkan dan menjadi saksi atas karakter dan kontribusinya dalam pengembangan kualitas hidup sesama.

    ReplyDelete
  3. bukan di langit,,

    bukan di bumi,,

    bukan di gunung,,

    bukan di laut,, tapi,,

    pada diri sendiri…

    ReplyDelete
  4. Anugerah agung dari DIA YANG MAHA AGUNG kepada WAJAH-WAJAH AGUNG yang mengagungkan NYA.
    Maa Syaa ALLAH. (quote of Ismail Sg Buloh)

    ReplyDelete