Showing posts with label Nabi Muhammad SAW. Show all posts
Showing posts with label Nabi Muhammad SAW. Show all posts

Tuesday, 25 December 2012

SEBELAS (11) TANDA MENCINTAI BAGINDA RASULULLAH S.A.W.


Related Entry (Fe.e.l.  f.r.e.e.  t.o. c.l.i.c.k.  t.h.e.  l.i.n.k.s.):



Seseorang yang mengakui bahwa dia mencintai seseorang akan lebih memilih yang dicintai dibanding semua orang, ia juga akan lebih memilih apa yang disukai oleh yang dicintainya, jika tidak demikian maka dia tidak akan bertindak sesuai yang dicintanya dan artinya cintanya juga tidak akan tulus.



Tanda-tanda berikut ini akan menjadi jelas pada mereka yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam:
Pertama : Tanda pertama cinta kepada Nabi Muhammad Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam, adalah bahwa dia akan mengikuti contoh-contohnya, menerapkan cara Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam dalam kata-kata, perbuatan, ketaatan kepada perintah-Nya, menghindari apa pun yang dilarang dan mengadopsi sikap Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam pada saat diberi kemudahan, sukacita, kesulitan, dan penderitaan. Allah berfirman, 
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) dan Allah akan mencintaimu.” [Al-Imran: 31]


--------------------  

Kedua : Tanda kedua adalah bahwa dia akan menyingkirkan keinginan sendiri dan nafsunya dengan mengikuti hukum yang didirikan dan didorong oleh Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam. Allah berfirman, 
“Kepada orang-orang sebelum mereka yang telah membuat tempat tinggal mereka di tempat tinggal (Kota Madinah), dan karena keimanannya mereka mengasihi orang yang telah beremigrasi ketempat mereka, mereka tidak menemukan irihati dan dengki dalam dada mereka untuk apa yang telah diberikan dan lebih memilih mereka atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri memiliki kebutuhan. ” [Al Hasyr: 9]
-------------------- 
Ketiga : Tanda ketiga adalah bahwa kemarahan seseorang karena orang lain hanya demi mencari keridhaan Allah. Anas, putra Malik diberitahu oleh Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  

“Anakku, jika Anda dapat menahan diri dari dendam di hati Anda dari pagi hingga sore, kemudian melakukannya.” Dia kemudian menambahkan, “Anakku, yang merupakan bagian dari jalan kenabian bahwa barang siapa yang menghidupkan kembali cara saya dan mengasihi Aku, dan barangsiapa mencintaiku akan bersama dengan saya di surga.” [Sunan Tirmidh, Kitab al-Ilm, Vol 4, Halaman 151]


Jika seseorang memiliki kualitas baik ini, maka dia memiliki cinta yang sempurna untuk Allah dan Rasul-Nya. Jika dia menjadi sedikit kurang dalam kualitas ini maka cintanya tidak sempurna. Bukti ini ditemukan dalam ungkapan Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  ketika seseorang menghadapi hukuman karena mabuk. Sebagaimanaorang itu akan menerima hukuman seorang pria mengutuk sang pelaku, dan Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  berkata, 



“Jangan mengutuk dia. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” [Sahih Bukhari, Kitab al-Hudud, Vol 3, Halaman 133]



-------------------- 
Keempat : Tanda keempat adalah bahwa seseorang yang mencintai selalu menyebutkan nama Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  dalam kelimpahan – siapa mencintai sesuatu, terus-menerus pada lidahnya bersalawat kepada Nabi saw. [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 32]
--------------------  
Kelima : Tanda kelima adalah kerinduan untuk bertemu Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  Setiap kekasih rindu untuk bersama mereka yang tercinta. Ketika suku Asy’ariyah mendekati Madinah, mereka mendengar nyanyian, “Besok, kita akan bertemu dengan orang yang kita cintai, Muhammad Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam dan para sahabatnya!” [Dalail an-Nabuwwah lil Baihaqi, Jilid 5, Halaman 351]
--------------------  
Keenam : Tanda keenam adalah bahwa setiap mengingat Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  seseorang yang mencintainya akan ditemukan memuji dan menghormati setiap kali namanya disebutkan dan kemudian menampilkan kerendahan hatinya dan lebih merendahkan dirinya sendiri ketika ia mendengar namanya. Kami diberitahu oleh Isaac at-Tujibi bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  setiap kali para sahabat mendengar namanya disebutkan mereka menjadi lebih rendah hati, kulit mereka gemetar dan mereka menangis karena cinta. 
Adapun para pengikut lain dari Nabi Muhammad Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  beberapa sahabat mengalami rasa cinta yang luar biasa sehingga meneriakkan salam kerinduan untuknya, sedangkan yang lain melakukannya karena rasa hormat dan penghargaan pada Rasulullah Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 33]
--------------------  
Ketujuh : Tanda ketujuh adalah ungkapan kasih yang diungkapkan untuk Nabi Muhammad Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam, dan para ahlul bayt (keturunan Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  dan sahabatnya – para Muhajirin dan bani Ansar sama besarnya demi kehormatan Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam . Seseorang dengan tanda ini akan ditemukan memusuhi orang-orang yang membenci mereka.


Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam berkata kepada umatnya sambil menunjuk cucunya Sayidina Al Hasan dan Al Husain, semoga Allah senang dengan mereka, Nabi 'Alay-hi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  berkata, “Ya Allah, aku mencintai mereka, maka cintailah mereka.”



Sahih Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 23

Sahih Muslim, Kitab al Fadhail, Vol 4, Halaman 1883

Sunan Tirmidzi, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 327



Al-Hasan mengatakan bahwa Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam, juga mengatakan, “Ya Allah, aku mencintainya, dan cinta orang yang mencintainya.” 



Dua cucunya, Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam juga mengatakan, “Barangsiapa mencintai mereka, maka mencintai aku.” 

Kemudian Baginda Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam berkata. "Barang siapa mencintaiku, maka dia mencintai Allah. Barang siapa yang membenci mereka membenci saya dan barangsiapa membenci saya artinya membenci Allah. ”



Muqaddam Sunan Ibn Maja, Vol 1, Page 51

Majma ‘az-Zawaid, Vol 9, Halaman 180



Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  berkata, 

“Jangan membuat teman saya sebagai sasaran setelah kepergian ku! Barangsiapa mengasihi mereka, maka mengasihi mereka itu karena mereka mencintaiku, dan barang siapa membenci mereka, adalah juga kebencian mereka terhadap aku, Barangsiapa merugikan mereka, maka mereka merugikan aku. Barangsiapa yang melukai sahabatku dan keluargaku, seolah-olah itu adalah menyakitiku (Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam) dan artinya juga Allah. Barang siapa menyaikiti Allah, maka mereka akan dibuang.

Sunan Tirmidzi, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 358
Musnad Ahmad, Vol 5, Halaman 54

Keluarga Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  adalah berasal dari Sayyidah Fathimah, semoga Allah senang dengan dia, “Dia adalah bagian dari diriku, barangsiapa yang membenci dia, maka mereka membenci saya.”

Sahih al Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 24
Sahih Muslim, Kitab Fadhail as-Sahaba, Vol 4, Halaman 1903

Nabi Muhammad Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  mengatakan kepada Sayyidina Aisyah untuk mencintai Osama, putra Zaid karena dia mencintainya. [Sunan Tirmidzi, Kitab al-Manaqib, Vol 5, Halaman 342]

Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  berbicara kepada Ansar, berkata, “Tanda iman adalah mencintai Anshar, sedangkan tanda kemunafikan adalah kebencian kepada mereka.”

Sahih al Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Page 27
Sahih al Bukhari, Kitab al Iman, Vol 1, Page 9
Sahih Muslim, Kitab al Iman, Vol, Halaman 85

Anak Omar mengatakan kepada kita bahwa Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam, berkata, “Barang siapa mencintai orang-orang Arab dan mengasihi mereka karena dia mencintaiku, dan barangsiapa membenci mereka, itu adalah karena kebencian mereka terhadap aku..” [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 34]

Faktanya adalah ketika seseorang mencintai yang lain, dia mencintai segala sesuatu yang dicintai orang itu, dan ini memang terjadi dengan para sahabat. Ketika Anas melihat Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  makan sepotong labu, ia berkata, “Dari hari itu maka akupun mencintai labu.” [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 34]

Al-Hasan, cucu Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam, semoga kedamaian Allah atas mereka, pergi dengan Jafar Salma dan memintanya untuk menyiapkan beberapa makanan Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  yang biasa digunakan untuk makan. [Shamail Tirmidzi, Halaman 155]

Omar pernah melihat Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  mengenakan sepasang sandal berwarna kuning, sehingga dia juga mengenakan sepasang sandal dengan warna yang sama.

Sahih al Bukhari, Kitab al-libas, Vol 7, Halaman 132
Sahih Muslim, Kitab al-Hajj, Vol 2, Halaman 844


-------------------- 


Kedelapan : Tanda kedelapan, kebencian terhadap siapa saja yang membenci Allah dan Rasul-Nya. yaitu dengan membenci orang-orang yang menunjukkan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. 
Orang beriman memiliki tanda ini menghindari semua yang menentang cara kenabian, dan bertentangan dengan orang-orang yang memperkenalkan inovasi dalam cara kenabian (yang bertentangan dengan semangat Islam) dan menemukan hukum yang memberatkan. Allah berkata, 

“Anda akan menemukan tidak ada umat yang beriman kepada Allah dan Hari Terakhir yang mencintai siapapun yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” [Al Mujadilah: 22]
-------------------- 
Kesembilan : Tanda kesembilan ditemukan pada mereka yang mencintai Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam, di mana mereka dibimbing. Ketika ditanya tentang Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  

Sayyidah Aisyah, ra dia, berkata, “karakter Nabi adalah Al-Qur’an.” 
Bagian dari cinta Al-Qur’an adalah mendengarkan bacaan, bertindak sesuai dengan itu, pemahaman itu, menjaga dalam batas-batas dan cinta cara Nabi Muhammad Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam. [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 35]


Sahal, putra Abdullah berbicara tentang tanda ini mengatakan, 



“Tanda mencintai Allah adalah cinta Al-Qur’an Tanda mencintai Al-Qur’an adalah cinta Nabi. Tanda mencintai Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  adalah cinta cara kenabiannya. Tanda mencintai cara kenabian adalah cinta akhirat. Tanda mencintai akhirat adalah membenci dunia ini. Tanda kebencian bagi dunia ini adalah bahwa Anda tidak mengumpulkan semua kecuali untuk sedikit saja sesuai ketentuan dan apa yang Anda butuhkan untuk tiba dengan selamat di akhirat. ” [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 35]



Anak Mas’ud mengatakan, “Tidak ada yang perlu bertanya pada diri sendiri tentang apa pun, selain Al-Qur’an, jika ia mencintai Al Qur’an maka dia mencintai Allah dan Rasul-Nya” pujian dan damai besertanya. [Baihaqi fil Aadaab, Hal 522]

.



-------------------- 
Kesepuluh : Tanda kesepuluh cinta untuk Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  adalah untuk mengasihani umatnya dengan menasihati mereka dengan baik, berjuang untuk kemajuanmereka dan menghapus segala sesuatu yang berbahaya dari jalan mereka dan dalam cara yang sama bahwa Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam, berkata “kasih sayanglah kepada orang yang beriman.” [Al-Taubah: 128]
-------------------- 
Kesebelas : Tanda kesebelas kasih yang sempurna ditemukan dalam membatasi siapa dirinya melalui penyangkalan diri, lebih memilih kemiskinan dari kenikmatan atraksi dunia. Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  berkata Abu Sa’id Al Khudri, “Kemiskinan akan datang kepada Anda yang mencintai saya, mengalir lebih cepat daripada banjir dari puncak gunung ke dasarnya.” [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Vol 4, Halaman 7]



Seorang pria datang kepada Nabi 'Alay-hi wa-aali-hi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mencintaimu.” 



Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam  memperingatkan, “Hati-hati dari apa yang Anda katakan.” 



Pria itu mengulangi cintanya sampai tiga kali, dimana Nabi Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam berkata kepadanya, “Jikalau kamu mengasihi ku maka persiapkan diri mu dengan cepat untuk kemiskinan.” [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Vol 4, Halaman 7]



Ya ALLAH SWT! Kami memohon kepadaMU untuk mengisi hati kita dengan Kasih yang benar dan besar dari sifat Karim yang terkasih, Habibullah. Kita tetap hidup pada Sunnah-nya dan memberkati kita dengan kematian pada Iman di Kota terkasih Nabi Terkasih Salla-Allah-u 'Alay-hi wa-as-Sallam   dan kuburkan kami dengan Ahl al-Baqi ‘asy-Syarif … Aamin!





Sumber: alkisah.web.id 

Monday, 3 December 2012

SIFAT-SIFAT RASULULLAH S.A.W. ( BAGINDA NABI MUHAMMAD S.A.W.)


Related Entry (Fe.e.l.  f.r.e.e.  t.o. c.l.i.c.k.  t.h.e.  l.i.n.k.s.):


SIFAT-SIFAT RASULULLAH (NABI MUHAMMAD)



* Fisikal Rasulullah


Telah dikeluarkan oleh Ya’kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata: 

Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terlalu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, 

kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, 

lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.


* Kebiasaan Nabi


Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!

Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirahat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. 

Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi:
Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.


* Rumah Nabi


Berkata Al-Hasan ra. lagi: 
Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. 
  • Satu bagian khusus untuk Allah ta’ala, 
  • satu bagian untuk isteri-isterinya, dan 
  • satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. 

Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.

Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: 

“Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat”, tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.


Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.


* Luaran Nabi


Berkata Al-Hasan r.a. lagi: 
Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? 

Jawabnya: 
Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. 

Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.

Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.



* Majlis Nabi


Berkata Al-Hasan ra. lagi: 
Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? 

Jawabnya: 
Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. 

Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.

Baginda tidak pemah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: 
Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? 

Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. 

Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut.:

  • Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. 
  • Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan 
  • tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.


Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. 

Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: 

“Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, 

hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!”. 

Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.



* Diamnya Nabi


Berkata Al-Hasan r.a. lagi: 
Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? 
Jawabnya: 
Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: 


  • Kerana adab sopan santun, 
  • kerana berhati-hati, 
  • kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan
  • kerana bertafakkur. 


Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. 
Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. 

  • Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: 
  • Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. 
  • Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. 
  • Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.


(Nukilan Thabarani – Majma’uz-Zawa’id 8:275)