Showing posts with label Luqman Al-Hakim. Show all posts
Showing posts with label Luqman Al-Hakim. Show all posts

Sunday, 25 November 2012

10 Wasiat-Nasihat Luqman Al-Hakim (Berdasarkan Ayat 13, 16, 17, 18, dan 19 Surah Luqman)


* Feel Free To Click On Other Related Post:

LUQMAN AL-HAKIM [AHLI HIKMAH]





Berdasarkan al-Qur'an surat Luqman ayat 13, 16, 17, 18, dan 19, penyusun berpandangan bahwa pada ayat-ayat tersebut terdapat sepuluh (10) nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya. Adapun sepuluh nasihat tersebut adalah sebagai berikut,

nota Eva Talya Redd Rohim : Ayat dalam The Holy Qur'an Arabic Text From http://www.alislam.org/quran/ sistem penomboran bermula dengan 
Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahiim sebagai ayat no 1, oleh itu kedudukan ayat berganjak satu number dari penumberan standard)


1. Nasihat Agar Tidak Musyrik kepada Allah SWT


13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS.Luqman [31]: 13)

Yakni syirik adalah dosa yang paling besar. Sehubungan dengan hal ini, Bukhari telah meriwayatkan hadits melalui 'Abdullah ibn Mas'ud ra:

Artinya : 
"Al-Bukhari berkata, telah menerangkan kepada kami Qutaibah, (kata Qutaibah) telah menerangkan kepada kami Jarir, dari al-A'masy, dari Ibrahim, dari ’Alqamah, dari 'Abdullah ibn Mas'ud ra ia berkata, Ketika turun ayat :'Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman,' hal itu sangatlah memberatkan para sahabat, mereka berkata, 'Siapakah diantara kami yang tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kedzaliman?.' 

Maka Rasulullah SAW bersabda, 
'Sesungguhnya bukanlah demikian (pengertiannya seperti yang kalian katakan), tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Luqman: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (Bukhari jilid II : 1995 : 287).

Syirik di sini diungkapkan dengan perbuatan zalim. Mereka mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman, yakni dengan kemusyrikan.
Selanjutnya, Luqman mengiringinya dengan pesan lain, yaitu agar anaknya menyembah Allah SWT semata dan berbakti kepada kedua orang tua sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, (QS.al-Isra [17]: 23)

Artinya : "Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (Al-Qur'an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 284).

Dan memang Allah SWT sering menggandingkan keduanya dalam al-Qur'an. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 428-429).

***    ***   ***    ***    ***
Penyusun tidak memasukkan ayat 14 dan 15 dari Qur'an surah Luqman sebagai wasiat Lukman al-Hakim kepada anaknya karena memperhatikan tekstual ayat tersebut tidak menggambarkan bahwa ayat tersebut adalah ucapan Luqman kepada anaknya, walau demikian tetap kedua ayat tersebut menjadi nasihat bagi anak dari Lukman al-Hakim dan anak dari orang tua muslim lainnya.


14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [*]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS.Luqman [31]: 14) 
* Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun


15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS.Luqman [31]: 15) 

***    ***   ***    ***    ***


2. Nasihat Agar Memegang Teguh Ketauhidan


16. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[*] lagi Maha Mengetahui (QS.Luqman [31]: 16)
*Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya. 


Seandainya amal sekecil dzarrah (biji kecil) itu dibentengi dan ditutupi berada dalam batu besar yang membisu atau hilang dan lenyap di kawasan langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah SWT pasti akan membalasnya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah pasti akan membalasnya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya dan tiada sebutir dzarrah pun, baik yang ada di langit maupun di bumi, terhalang dari penglihatan-Nya. Oleh sebab itulah disebutkan oleh firman-Nya; 

Artinya : "Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS.Luqman [31]:13)
  • Lathiifun, Maha Halus pengetahuan-Nya, sehingga segala sesuatu tiada yang tersembunyi betapa pun lembut dan halusnya. 
  • Khabiirun, Maha Mengetahui langkah-langkah semut sekecil apa pun yang ada di kegelapan malam yang sangat pekat. 
(Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 428-429).

Jamaal 'Abdul Rahman mengutip pemaparan al-Qurthubi, diceritakan bahwa anak Luqman al-Hakim bertanya kepada ayahnya tentang sebutir biji yang jatuh ke dasar laut, apakah Allah mengetahuinya? Maka Lukman menjawabnya dengan mengulangi jawaban semula yang disebutkan dalam firman-Nya,(QS.Luqman [31]: 16) 


3. Nasihat Agar Mendirikan Shalat
4. Nasihat Agar Memiliki Keberanian Memerintah kepada Kebaikan
5. Nasihat Agar Memiliki Keberanian Mencegah Kemungkaran
6. Nasihat Agar Bersabar Terhadap Musibah yang Menimpa


17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS.Luqman [31]: 17)

3) al-Hakim terus-menerus memberikan pengarahan kepada anaknya dalam pesan selanjutnya. 

Artinya : "Hai anakku, Dirikanlah shalat...." (QS.Luqman [31]: 17)

'Aqimish-shalaata, dirikanlah shalat, lengkap dengan batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).

...........................................................................................................................

4) Pesan Luqman al-Hakim yang keempat adalah agar anaknya memiliki keberanian untuk memerintah manusia untuk berbuat baik. Firman Allah SWT,

Artinya : "...dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik...."  (QS.Luqman [31]: 17)

...........................................................................................................................

5) Pesan Lukman al-Hakim yang kelima adalah agar anaknya memiliki keberanian untuk mencegah orang-orang yang berada di sekitarnya berbuat kemungkaran. Firman Allah SWT, 

Artinya :"...dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar...." (QS.Luqman [31]: 17)

Terhadap pesan Luqman al-Hakim yang keempat dan kelima kepada anaknya di atas, 
Ibnu Katsir memberikan keterangan, Wa'mur bi'l-ma'ruufi wanha 'ani'l-mungkar, perintahkanlah perkara yang baik dan cegahlah perkara yang munkar menurut batas kemampuan dan jerih payahmu. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).

...........................................................................................................................

6) Pesan Lukman al-Hakim yang keenam adalah agar anaknya bersabar terhadap musibah yang menimpa. Firman Allah SWT, 

Artinya : "...dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS.Luqman [31]: 17)

Karena sesungguhnya untuk merealisasikan amar ma'ruf dan nahyi mungkar, pelakunya pasti akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh karena itulah, dalam pesan selanjutnya Lukman memerintahkan kepada anaknya untuk bersabar.

Artinya : "... Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]: 17) 

Yakni bersikap sabar dalam menghadapi gangguan manusia termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah SWT. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).

Menurut pendapat lain, Luqman memerintahkan kepada anaknya bersabar dalam menghadapi berbagai macam kesulitan hidup di dunia, seperti berbagai macam penyakit dan sebagainya, dan tidak sampai ketidak sabarannya menghadapi hal tersebut akan menjerumuskannya ke dalam perbuatan durhaka terhadap Allah SWT. pendapat ini cukup baik karena pengertiannya bersifat menyeluruh. Demikianlah menurut al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya. Menurut makna lahiriahnya, hanya Allah yang lebih mengetahui, bahwa firman-Nya;

Artinya : "... Sesungguhnya yang demikian itu...." (QS.Luqman [31]: 17) 

Isyarat yang terkandung di dalamnya menunjukan kepada sikap mengerjakan shalat, menunaikan amaar ma'ruf dan nahyi mungkar, serta bersabar menghadapi ganguan dan musibah, semuanya termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah SWT. (Jamaal 'Abdul Rahman : 2005 : 342-343).


7. Nasihat Agar Tidak Bersikap Sombong terhadap Orang Lain
8. Nasihat Agar Tidak Angkuh dalam Menjalani Hidup


18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS.Luqman [31]: 18)

7) Pesan Lukman al-Hakim yang ketujuh adalah agar anaknya jangan memalingkan muka dari manusia karena sombong, merasa diri paling tinggi derajatnya dari orang lain.

Artinya : "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)...." (QS.Luqman [31]: 18)

Ash-Sha'r artinya berpaling. Makna asalnya adalah suatu penyakit yang menyerang tengkuk unta atau bagian kepalanya sehingga persendian lehernya terlepas dari kepalanya, kemudian diserupakanlah dengan seorang lelaki yang bersikap sombong. (Sayyid Qutb : 1992 : 2790).

Ibnu Abbas ra menafsirkan firman Allah SWT, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)...." yakni janganlah engkau bersikap sombong dengan meremehkan hamba-hamba Allah dan memalingkan mukamu dari mereka bila mereka berbicara denganmu. (Ath-Thabari jilid XXI : 1988 : 74).

Makna yang dimaksud ialah hadapkanlah wajahmu ke arah mereka dengan penampilan yang simpatik dan menawan. Apabila orang yang paling muda di antara mereka berbicara denganmu, dengarkanlah ucapannya sampai dia menghentikan penbicaraannya. Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. (Jamaal 'Abdul Rahman : 2005 : 344).
...........................................................................................................................

8). Pesan Luqman al-Hakim yang kedelapan adalah agar anaknya tidak angkuh dalam menjalani hidup. 

Artinya : "...dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS.Luqman [31]: 18)

Berjalan di muka bumi dengan angkuh, ialah cara berjalan dengan langkah yang angkuh dan sombong dan enggan untuk bercampur gaul dengan orang lain (disebabkan kesombongannya itu). Cara berjalan yang maupun Khalik (Allah SWT) atapun makhluk (manusia) sama-sama tidak menyukainya. Cara berjalan yang sombong adalah indikasi akan lupa dirinya seorang hamba kepada Dzat Allah SWT (yang hanya Dia yang berhak untuk sombong). (Sayyid Qutb : 1992 : 2790).

Manusia menjalani hidup diantaranya dengan berjalan menelusuri relung-relung kehidupan setiap harinya. Lukman al-Hakim mengajarkan kepada anaknya untuk tetap tawadhu' (rendah hati) dan tidak takabbur (sombong) diantanya dengan menekankan agar dalam cara berjalan tidak berjalan dengan angkuh dan sombong.


9. Nasihat Agar Menyederhanakan Cara Berjalan
10. Nasihat Agar Melunakkan Suara


19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[*] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. 
*  Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat. 


Pesan Luqman al-Hakim yang kesembilan adalah agar anaknya menyederhanakan cara berjalan. Nasihat kesembilan ini berserta nasihat ketujuh, kedelapan dan kesepuluh adalah sama-sama menekankan untuk tidak berlaku sombong dan menanamkan sifat tawadhu' kepada anak.


Setelah Luqman al-Hakim memperingatkan anaknya agar waspada terhadap akhlaq yang tercela dengan nasihat ketujuh dan kedelapannya, dia lalu menggambarkan kepadanya akhlaq mulia yang harus dikenakannya. 

...........................................................................................................................

9)  "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan....(QS.Luqman [31]: 19)

Waqsid fii masyika, Yakni berjalanlah dengan cara jalan yang pertengahan, tidak dengan langkah yang lambat dan tidak pula dengan langkah yang terlalu cepat, namun dengan langkah yang pertengahan antara lambat dan cepat. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).

Nasihat Luqman al-Hakim yang kesembilan ini adalah sesuai dengan salah satu sifat 'Ibaadu'r-Rahmaan (hamba-hamba yang baik dari Tuhan yang Maha Penyayang). Firman Allah SWT;

Artinya : "Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (Al-Qur'an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 365).

...........................................................................................................................

10) Nasihat Luqman yang terakhir kepada anaknya yang terdapat dalam Qur'an surahLuqman adalah agar anaknya melunakkan suara dalam berbicara dengan orang lain. 

Artinya : "...Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS.Luqman [31]: 19)

Menurut Ibnu abbas ra, waghdud min shautik, yakni rendahkanlah suarmu dan janganlah bersuara dengan keras (tanpa alasan yang baik). (Al-Fairuzabadi : tt : 345).

Menurut al-Maraghi, waghdud min shautik, yakni kurangilah dari nada suara dan ringkaslah dalam berbicara, dan janganlah meninggikan suaramu ketika tidak ada keperluan apapun untuk meninggikannya, karena hal itu adalah tindakan yang dipaksakan oleh yang berbicara dan dapat mengganggu diri dan pemahaman orang lain. (Al-Maraghi : 1974 : 86).


...........................................................................................................................

.+Credits to: Hanafi Anshory Ibnu Muharram

"Studi Analisa Sepuluh Nasihat Lukman al-Hakim kepada Anaknya sebagai Dasar Pendidikan Islam". Penulis mengangkat permasalahan ini dengan harapan dapat mengingatkan umat Islam akan pentingnya pendidikan Islam melalui penerapan sepuluh nasihat Lukman al-Hakim kepada anaknya sebagai dasar pendidikan Islam.

.

25 Wasiat Luqman Al Hakim Kepada Anaknya


* Feel Free To Click On Other Related Post:

LUQMAN AL-HAKIM [AHLI HIKMAH]





25 Wasiat Luqman Hakim Kepada Anaknya

Bicara Luqman dengan anaknya menerusi satu riwayat dalam kitab Tafsir Rahul Ma'ani dan Kitab Hidayatul Mursyidin, diriwayatkan telah memberikan anaknya dua puluh lima wasiat iaitu:

*   *   *   *   *   *   * 



1. Hai anakku, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam di dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama taqwa, isinya ialah iman dan layarnya ialah tawakkal kepada Allah.

2. Hai anakku, janganlah engkau menelan terus sesuatu makanan kerana manisnya dan janganlah terus engkau memuntahkan sesuatu barang kerana pahitnya. Kerana manis itu belum tentu mendatangkan kesegaran dan pahit itu belum tentu mendatangkan musibah.

3. Hai anakku, apabila engkau ingin mencari teman sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan perkara yang menaikkan kemarahannnya. Bila mana dalam kemarahan itu dia masih berusaha untuk menginsafkan engkau maka bolehlah engkau ambil sebagai teman dan sekiranya bukan demikian maka berhati-hatilah engkau terhadapnya.

4. Perbaikilah tuturkatamu, halus budi bahasamu dan manis wajahmu, kerana engkau akan disukai orang melebihi sukanya terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga kepadanya.

5. Hai anakku, janganlah engkau terlalu mudah ketawa kalau bukan perkara yang menggelikan, jangan engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada gunanya bagi diri kamu dan janganlah engkau mensia-siakan harta dunia kamu.



6. Hai anakku, ambillah harta dunia sekadar keperluanmu, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke bakul sampah, kelak diri kamu akan menjadi pengemis yang membebankan orang lain. Sebaliknya jangan engkau rangkul dunia ini dan meneguk habis airnya, kerana sesungguhnya semua yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau bertemankan orang bodoh dan orang yang bermuka dua, kerana akan membahayakan diri kamu.

7. Hai anakku, apabila engkau berteman, jadikanlah dirimu orang yang tidak pernah mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarlah dia mengharapkan sesuatu daripadamu.

8. Jadikanlah dirimu dalam setiap perkara sebagai seorang yang tidak berhajatkan kepada pujian atau menagih sanjungan dari orang lain, kerana penguasaan riya' itu akan menyebabkan diri kamu beroleh kecelakaan.

9. Hai anakku, janganlah engkau cenderung kepada dunia semata-mata dan hatimu jangan disibukkan dengan urusan dunia semata-mata, kerana engkau diciptakan oleh Allah bukan untuk urusan dunia sahaja. Sesungguhnya tidak ada orang yang lebih hina melainkan orang yang terpedaya dengan dunia semata-mata.

10. Hai anakku, usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata-kata busuk, kotor dan kasar kerana engkau akan lebih selamat apabila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar dirimu mendatangkan manfaat kepada orang lain.

11. Hai anakku, bukanlah sesuatu kebaikan namanya apabila engkau selalu mencari ilmu tetapi tidak engkau mengamalkannya. Hal itu tidak ubahnya seperti orang yang mencari kayu bakar, setelah banyak terkumpul maka dia tidak mampu memikulnya, padahal dia masih terus mengumpulkannya.

12. Janganlah engkau makan atau minum yang berlebihan kerana sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu akan merosakkan diri dan pemikiranmu dan alangkah baiknya makanan yang lebih itu diberikan kepada anjing sahaja.

13. Barangsiapa yang penyayang, sudah tentu akan disayang, sesiapa yang suka berdiam diri sudah tentu akan selamat daripada berkata-kata tentang perkara yang mengandungi racun dan barang siapa yang tidak mampu menahan lidahnya daripada berkata kotor, sudah tentu akan menyesal.

14. Hai anakku, bergaul mesralah dengan orang alim dan berilmu. Perhatikanlah kata-kata dan nasihatnya kerana sesungguhnya akan sejuk hati kamu mendengar nasihatnya, akan hiduplah hatimu dengan cahaya hikmah dari mutiara kata alim ulama bagaikan tanah yang subur disiram air hujan.

15. Hai anakku, bila engkau mengahdapi dua pilihan, menjenguk orang mati atau menghadiri pesta perkahwinan, maka hendaklah engkau memilih menjenguk orang mati. Sebab menziarah orang mati itu akan mengingatkan kamu kepada kampung akhirat, sedangkan menghadiri pesta perkahwinan itu hanya akan mengingatkan kamu kesenangan dunia.



16. Makanlah makananmu bersama-sama orang yang taqwa dan musyawarahlah segala urusanmu dengan para alim ulama dengan cara memohon nasihat daripadanya.

17. Orang-orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan daripada Allah. Orang yang insaf dan sedar setelah menerima nasihat daripada orang lain, akan sentiasa menerima kemuliaan dari Allah swt.

18. Hai anakku, seandainya orang tuamu memarahimu, maka marahnya itu sebagai siraman air bagi tanam-tanaman yang kering kontang.

19. Jauhilah dirimu dari berhutang kerana sesungguhnya berhutang itu akan menjadikan dirimu hina di siang hari dan hina di malam hari.

20. Selalulah berharap kepada Allah agar menjauhkan kamu daripada sesuatu yang menyebabkan kamu menderhaka kepada-Nya. Takutlah kepada Allah dengan benar-benar takut, tentulah engkau akan terlepas dari sifat putus asa daripada rahmat Allah swt.

21. Hai anakku, engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu yang besar dan besi yang amat berat tetapi adalah lebih berat daripada itu semua apabila engkau mempunyai jiran yang jahat.

22. Hai anakku, janganlah sekali-kali engkau mengirimkan utusan melalui orang bodoh dan jahat. Maka bila tidak ada orang yang baik dan cerdik, sebaiknya engkau sendiri sahajalah yang menjadi utusan.

23. Jauhilah sejauh-jauhnya sifat dusta, sebab berrdusta itu enak sekali mengerjakannya bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja perbuatan dusta yang dilakukan, akibat dan bahayanya amat besar.

24. Hai anakku, orang yang merasa dirinya hina dan rendah di dalam beribadah dan taat kepada Allah, maka orang itu akan sentiasa tawadhuk kepada Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan sentiasa menghindarkan dirinya daripada melakukan maksiat.

25. Hai anakku, seorang pendusta itu akan hilang air mukanya kerana tidak dipercayai orang dan seseorang yang telah rosak akhlaknya akan sentiasa memikirkan dan mengkhayalkan perkara-perkara yang tidak benar. Ketahuilah bahawa memindahkan batu besar yang berat dari tempat asalanya adalah lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang-orang yang tidak mahu mengerti.

*   *   *   *   *   *   * 
.

Siapa Luqman Al-Hakim ?

* Feel Free To Click On Other Related Post:

LUQMAN AL-HAKIM [AHLI HIKMAH]



Luqman Al-Hakim


Siapakah sebenarnya Luqman Al-Hakim…? 

Al-Quranul Karim tidak menjelaskan tentang biodata Luqman, sebaliknya sekadar memperincikan kata-kata hikmahnya yang begitu murni dan amat bernilai. Seandainya biodata Luqman merupakan suatu perkara yang penting, sudah tentu ia dipaparkan dalam Al-Quran. Meskipun demikian, tidak menjadi satu kesalahan, jika dihimpunkan segala perbicaraan ulama mufassirin tentang topik ini.



Berdasarkan riwayat-riwayat yang ma`thur Luqman berasal dari Nobiy yang terletak di Sudan, bahagian selatan Mesir. Beliau adalah seorang yang rendah, berkaki lebar dan terdapat pecah-pecahan yang berbelah, berbibir tebal, hidungnya pesek dan berkulit hitam. Ulama’ berselisih pendapat sama ada beliau seorang pengembala, tukang kayu, tukang jahit atau pengutip kayu api. 


Ar-Ruba’i menjelaskan: Luqman adalah seorang hamba dan beliau telah dibeli oleh seorang lelaki dari Bani Israel dengan harga 30 dinar setengah. Ulama’ juga berselisih pendapat sama ada Luqman seorang hamba ataupun tidak. Luqman pernah bertemu dengan Nabi Daud AS dan beliau juga merupakan seorang qodhi yang mengeluarkan fatwa kepada Bani Israeil. 


Bilamana diutuskan Nabi Daud, Luqman tidak lagi mengeluarkan fatwanya. Apabila ditanya kenapa beliau bersikap sedemikian, beliau menjawab:


ألا أكتفي إذا كفيت
Maksudnya: Tidaklah aku perlu mencukupkanmu, sedangkan engkau telah dicukupkan.


(Bahr Al Muhid–Abu Haiyan) Dalam tafsir Al-Muntakhab ada disebut bahawa terdapat nya dua orang Luqman iaitu: 


1) Luqman bin ‘Ad (sepertimana kenyataan Ibnu Ha-jar dalam Fathul Bariy) seorang yang popular dan terkenal. Kisah teladannya banyak terdapat dalam buku-buku sastera. 
2) Luqman Al-Hakim sepertimana yang diabadikan dalam Al-Quran. (Cetakan Majlis Al A`la Li As Syuun Al Islamiyyah: 213)


Ada riwayat yang mengatakan bahawa anak Luqman Al-Hakim tidak memeluk agama Islam,  justeru itu Baginda menyeru anaknya supaya mengesakan Allah ‘Azza Wa Jalla tidak mensyirikkan-Nya. Luqman terus memberi nasihat sehinggalah anaknya memeluk agama Islam. 


Demikian juga halnya dengan isteri Luqman. Menurut Ibn Abi Dunya: Luqman berterusan memberi nasihat kepada anaknya sehingga anaknya menghembus nafas nya yang terakhir.Ada juga riwayat yang mengatakan: Anak Luqman telahpun memeluk Islam, tegahan syirik dalam wasiat sebagai ingatan dan berwaspada kerana kemungkinan ia akan berlaku di kemudian hari.


(Ruh Al Ma`aniy: jil 7: ms 128)Ibn Hisham menyebut: 

Suwaid bin As Shomit tiba di Mekah dan membawa “Manuskrip yang mengandungi hikmah Luqman”, ia menunjukkannya kepada Rasulullah SAW. 


Maka Rasulullah SAW pun bersabda:


إن هذا الكلام حسن والذي معي أفضل قرآن أنزله الله عليّ هو هدى ونور، ودعاه للإسلام 

Maksudnya: Ini adalah ungkapan yang menarik, tetapi apa yang ada padaku adalah lebih baik, iaitu Al-Quran yang diturunkan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla kepadaku. Ia adalah petunjuk dan nur. Lalu Baginda menyerunya kepada agama Islam.

Diriwayatkan bahawa seorang yang berkulit hitam telah datang kepada Saeid Ibn Musaiyab dan bertanya kepada beliau. 


Lalu beliau menjawab: Janganlah bersedih lantaran kulitmu berwarna hitam. Sesungguhnya terdapat tiga orang (berkulit hitam) berada dalam golongan manusia yang terbaik iaitu: Bilal, Muhajji’ hamba kepada Umar Ibn Al-Khattab dan Luqman Al-Hakim.(Tafsir Al Tobariy: jil 20: ms 26)  Wallahu'alam.


.

Asas Pendidikan (Methode Luqman Al-Hakim)


* Feel Free To Click On Other Related Post:

LUQMAN AL-HAKIM [AHLI HIKMAH]




Sahabat yang dimuliakan,
Di dalam al-Qur'an terdapat satu surah yang bernama Surah Luqman. Surah ini memaparkan satu kisah mengenai Luqman yang dikurniakan hikmah kebijaksanaan dan rahsia mengenal Allah s.w.t., membanteras syrik, mendorong supaya berakhlak mulia dan menjauhi daripada akhlak tercela yang merupakan tujuan utama mengapa al- Qur'an diturunkan.


Dalam Surah Luqman didapati lapan ayat berturut-turut secara khusus memperkatakan kisah Luqman, dimana tajuk ayat tersebut merupakan isi pengajaran Luqman kepada anaknya. Dari ayat-ayat tersebut dapat diklasifikasi kepada tiga asas utama iaitu Asas Aqidah, Asas Ibadah dan Asas Akhlaq.

Sahabat yang dirahmati Allah,
Untuk mencapai kejayaan di dalam mempelajari pendidikan Islam berdasarkan sistem pendidikan Luqman, ketiga-tiga asaas tersebut perlulah difahami dan menghayat ketiga-tiga asas pendidikan tersebut 



Pertama :  Asas Aqidah
Persoalan aqidah merupakan isu terpenting dalam kehidupan Muslim . Ini disebabkan aqidah menurut Islam adalah asas bagi binaan Islam pada keseluruhannya. Daripada aspek yang lain ia juga dapat disifatkan sebagai benteng yang paling teguh bagi menjaga dan mengawasi segala bentuk penyelewengan.

Dewasa ini didapati beberapa bentuk penyelewengan berlaku sama ada dari segi pemikiran, percakapan lebih-lebih lagi tingkah laku yang semuanya berpunca daripada ketidak-fahaman mereka terhadap asas aqidah Islam  secara mendalam, sedangkan kefahaman tentang aqidah itu merupakan satu tuntutan untuk melahirkan keyakinan dan penghayatan Islam secara menyeluruh.

Asas aqidah yang ditekankan di sini adalah mentauhidkan Allah s.w.t.  Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : 


"Wahai anak kesayanganku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah (dengan satu yang lain),sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar."
(Surah Luqman ayat 13)
Dalam ayat di atas jelas menunjukkan bahawa Luqman memulai nasihat kepada anaknya supaya menjauhkan diri daripada syirik kepada Allah, kerana jiwa yang suci harus bersih daripada sebarang kerosakan dan kesesatan. Di antara punca kerosakan aqidah adalah syirik. Oleh itu ia hendaklah dijaga daripada syirik agar aqidah sentiasa berada dalam keadaan baik. Kerana kesucian dan kemurniaan aqidah itulah punca segala amalan yang baik.

Syirik adalah sebesar-besar dosa yang dilakukan oleh seseorang kepada Allah s.w.t. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : 

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa (syirik) mempersekutukan-Nya (dengan sesuatu apa jua) dan akan mengampunkan dosa yang lain daripada itu bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesiapa yang mempersekutukan Allah maka sesungguhnya ia telah melakukan dosa yang besar."

Sesungguhnya Rasulullah s.a.w pernah ditanya, yang manakah dosa yang paling besar? Baginda menjawab : "Bahawa engkau jadikan bagi Allah penyerupaan, saingan atau persamaan sedangkan Dia menjadikan engkau."



Kedua : Asas Ibadah 
Konsep ibadah dalam Islam bukan hanya terbatas kepada soal-soal ta'abbudi yang dikenali seperti solat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Malah ibadah mempunyai erti yang sangat luas dan mendalam. Ibadah merupakan pengabdian sepenuhnya dan berfungsi menjalinkan hubungan yang berterusan antara hamba dengan Allah. Hubungan ini sebenarnya yang menjadi asas utama pendidikan Islam pada keseluruhannya.

Ibadah dalam Islam merangkumi keseluruhan kehidupan manusia iaitu hubungan manusia dengan Allah s.w.t, hubungan manusia sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam dan makhluk Allah yang lain. Setiap perkara yang kita lakukan dan tinggalkan semata-mata kerana Allah dan mencari keredhaan-Nya akan dikira sebagai beribadah kepada Allah s.w.t. 

Solat adalah saluran utama hubungan manusia dengan Allah s.w.t. Ia merupakan pancaran yang menghidupkan dan menyuburkan keimanan dalam hati, kerana dengan bersolat seorang akan mengingati Allah melalui segala bacaan yang dibaca sepanjang solat. Dalam solat seseorang akan mengingati hari akhirat, ingat kepada Rasul, Malaikat, seterusnya kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul iaitu al-Qur'an. Solat juga dapat mencegah seseorang daripada mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Dengan ini jelaslah kepada kita bahawa solat adalah manisfetasi daripada keimanan kepada perkara-perkara ghaib.

Daripada aspek kejiwaan, solat mendidik seseorang agar mencapai ketenangan jiwa, memberi kekuatan dalaman kepada seseorang untuk menempuh penderitaan hidup di dunia ini. Daripada aspek kesihatan, solat mendidik seseorang supaya menjaga kebersihan, melatih badan supaya cergas dan aktif. 

Daripada aspek akhlak, solat dapat menyedarkan seseorang terhadap kesalahannya, dapat menghapuskan dosa, dapat mencegah seseorang daripada kemungkaran dan mendidik seseorang supaya berdisplin dengan waktu. Dan yang terakhir daripada aspek kemasyarakatan, solat melahirkan individu yang memiliki kemerdekaan jiwa, kemerdekaan dalam memberi teguran dan pandangan, memupuk persaudaraan dan melahirkan persamaan tanpa mengira pangkat kedudukan, harta kekayaan, mulia dan hina, tua dan muda. Semuanya sama dihadapan Allah. 


Ketiga : Asas Akhlak
Misi Islam sebenarnya ialah pengarahan manusia supaya mencapai nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, yang sesuai dengan kemuliaan manusia. Islam sangat mementingkan budi pekerti untuk mewujudkan unsur-unsur kekuatan dan peribadi yang baik, yang akan dapat mempertingkatkan taraf kehidupan di dunia serta keredhaan Allah di sebalik kehidupan sekarang ini. 

Dalam pendidikan Luqman asas ini ditekankan kepada beberapa perkara pokok iaitu :

1.Berbakti kepada kedua ibu bapa : 
Firman Allah s.w.t yang bermaksud : 

"Dan Kami wajibkan berbuat kebaikan kepada kedua ibu bapanya, ibunya mengandung dengan menanggung kelemahan demi kelemahan dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu, (ingatlah) kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan) "(Surah Luqman ayat 14)

2.Bersifat sabar :
Firaman Allah s.w.t yang bermaksud : 

"Dan bersabarlah atas segala bala bencana yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu adalah perkara-perkara yang sangat-sangat di ambil berat untuk melakukannya." (Surah Luqman ayat 17)

3.Tidak takbur dan sombong :
Firman Allah s.w.t yang bermaksud : 

"Dan janganlah engkau memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong, Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang sombong, takbur lagi membanggakan diri." (Surah Luqman ayat 18)

Takbur ialah sikap jiwa yang merasakan dirinya lebih baik daripada orang lain, samaada orang itu manusia atau jin. Sikap takbur inilah menyebabkan Iblis telah dilaknat oleh Allah s.w.t. dan akan dihumbankan kedalan api Neraka.

4.Kesederhanaan dalam semua perkara :

Kesederhanaan ini berlaku kepada keseluruhan sistem termasuk urusan ibadah. Seseorang Islam tidak digalakkan beribadah sehingga menyeksa diri sendiri kerana setiap diri itu ada hak yang mesti diberikan, seperti mana sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :


 "Sesungguh bagi tubuh badan ada haknya yang mesti kamu berikan kepadanya."

Begitu juga dalam urusan membelanjakan harta, Islam tidak menggalakkan umatnya supaya berbelanja secara berlebih-lebihan atau sebaliknya (kikir).

Dalam konteks pendidikan Luqman didapati dua aspek ditekankan iaitu: 

  • Pertama : Sederhana sewaktu berjalan, firman Allah s.w.t yang bermaksud : "Dan sederhanakanlah langkahmu sewaktu berjalan." (Surah Luqman ayat 19).
  • Kedua : Sederhana waktu bercakap., firman Allah s.w.t yang bermaksud :  "Lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara itu suara keldai." (Surah Luqman ayat 19).

Sahabat yang dirahmati Allah,
Apabila dilihat daripada aspek pengajaran, didapati bahawa Luqman al-Hakim mempunyai pendekatan tertentu tentang pendidikan anaknya. Dan dari segi methodnya pendidikan Luqman mempunyai dua sifat utama iaitu 

  • pertama, pendidikan yang bersifat melengkapi dan menyeluruh dan 
  • keduanya, pendidikan yang bersifat pemeringkatan dan menurut susunannya tersendiri. 


Oleh itu sebagai individu Muslim Mukmin mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anak  dan juga generasi umat Islam hari ini maka ambillah contoh dan cara-cara yang dilaksanakan oleh Luqman yang diceritakan kisah beliau dalam al-Qur'an.

+Credits:  AbuBasyer