Showing posts with label Haji. Show all posts
Showing posts with label Haji. Show all posts

Tuesday, 29 January 2013

IKRAR CINTA (KALAU BENAR BAGAI DIKATA, KOTAKAN LAH...)


Hari ini ialah Tanggal 17 Rabi'ul Awwal (Tahun berapa hijriyah?) 
Sungguh pun baru sahaja beberapa bulan musim Haji telah berlalu,
Aku tak rasa canggung nak letak satu artikel kopipes ni.
'Selected' - being selected because it's amusing. It does make sense to me.
Apparently, this Khutbah 'Eidul Adha stressing about performing 'Hak-hak Rububiyah' & 'Ubudiyyah .

OBEDIENCE atau dalam bahasa Melayunya KETAATAN

KHUTBAH AIDUL ADHA. KHUTABAH 'EIDUL ADHA. KHUTBAHHARI RAYA HAJI

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا .
 لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره المشركون .
 لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده .
 لا إله إلا الله والله أكبر . الله أكبر ولله الحمد .
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونستهديه ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له ، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وجاهد في الله حق جهاده.
اللهم صل على محمد وعلى آله وأزواجه أمهات المؤمنين وأصحابه الأخيار رضوان الله عليهم ومن دعا بدعوته وسلك سلوكه واتبع سنته إلى يوم الدين . أما بعد أيها المسلمون أوصيكم ونفسي بتقوى الله عز وجل.


Ma’asyiral Muslimin Rohimakumullah
Pada pagi ini kita berkumpul melantunkan Takbir membesarkan Allah Swt, MemujiNya, Bertasbih kepadaNya. Tiada yang layak dipuji kecuali hanya Dia, Dia yang menghidupkan, Dia yang mematikan, Dia yang memberi rezeki. Saudara-saudara kita pagi ini berangkat menuju Mina untuk melempar Jamratul ‘Aqabah. Semalam mereka bermalam di Muzdalifah. Kemarin mereka seharian penuh berwuquf di ‘Arafah, menadahkan tangan kepada Robb memohon ampunnya, membukakan pintu rahmatnya. Kita yang berada di tanah air, diganti Allah dengan puasa ‘Arafah tanggal 9 Zulhijjah yang Fadhilahnya dapat menghapuskan dosa tahun kemarin dan dosa pada tahun ini.
Allahu Akbar Allahu Akbar

Bukan suatu hal kebetulan Allah Swt menetapkan kewajiban Haji kepada ummat Muhammad Shallahu alaihi Wasallam walau sekali dalam seumur hidup. Haji adalah Ibadah yang mengandung makna penghambaan yang luar biasa kepada Allah Subhanah. Sementara Hakikat kehidupan ini adalah penghambaan itu sendiri. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Mawla Azza Wajalla :

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
(Tidaklah Kuciptakan Jin dan Manusia, melainkan untuk mengabdi kepadaKu). (Surat az-Zariyaat: 56) 

Bahkan setiap praktik Ibadah Manasik Haji itu mengandung makna penghambaan. Ketika seseorang thawaf, Sa’i, wuquf, Mabit, melempar Jamrah, semua kegiatan itu merupakan wujud penghambaan manusia kepada al-Ma’bud Subhanahu. Hal ini sering dilupakan umat Islam termasuk mereka yang melaksanakan Haji. Mereka umumnya melakukan manasik itu begitu saja tanpa disertai penghayatan atas penghambaan kepada Allah Azza wajalla. Bahkan tak sedikit mereka yang melaluinya sebagai formalitas belaka, tanpa mendalami dan merasakan manisnya berhaji. Seorang yang memulai rangkaian Ibadah Manasik, memulainya dengan Ihram dan membaca lafazh Talbiyah. Kalau kita perhatikan ucapan Talbiyah itu, isinya semua berupa penghambaan kepadaNya.

لبيك اللهم لبيك . لبيك لا شريك لك لبيك . إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك
Aku datang memenuhi panggilanMu, Ya Allah. Aku datang memenuhi PanggilanMu. Tiada Sekutu bagiMu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan hanya milikmu, dan juga kerajaan. Tiada Sekutu bagiMu.”


Betapa jelasnya ikrar/pengakuan akan penghambaan itu keluar dari mulut orang yang berihram haji dan umroh. Pengakuan bahwa kedatangannya dari negeri jauh, melintas samudera dan benua, hanyalah memenuhi panggilan Allah semata. Pengakuan bahwa Allah itu hanya Satu, tidak ada sekutu bagiNya. Inilah esensi Tawhid. Pengakuan bahwa pujian hanya pantas untuk Allah. Karenanya pujian-pujian berlebihan tak pantas diberikan kepada manusia, apalagi manusianya pernah memusuhi Allah, memperjuangkan bukan hukum Allah. Pengakuan bahwa nikmat adalah kepunyaan Allah semata. Kita sebagai manusia, hanya diberi amanah secuil dari nikmat itu untuk dirasakan oleh sebagian kita, dan sekaligus menjadi ujian. Karenanya kita harus banyak mensyukurinya dan tidak mabuk dalam nikmat itu. Jika Allah berkehendak, nikmat itu dicabutNya, kita suka atau tidak suka. Pengakuan bahwa kerajaan adalah milik Allah Azza Wajalla. Kekuasaan yang diberikanNya kepada sebagian manusia, hanyalah sedikit dan bersifat sementara. Kita hanyalah hamba yang tidak memiliki apapun dan tak berkuasa sedikitpun. Segala-segalanya hanya milik Allah dan tunduk pada kekuasaanNya. Pengakuan sekali lagi bahwa Allah tidak bersekutu dengan sesuatu makhluq apapun. Dia satu-satunya Ilah (Tuhan) yang berhak menerima penyembahan dari makhluq. Begitulah isi dan makna Talbiyah.



Ikrar yang begitu tegas dan diteriakkan berkali-kali sepanjang hari Arafah, malam hari di Muzdalifah, hingga sampai di Mina pada pagi 10 Dzulhijjah, seharusnya meninggalkan bekas pada diri kaum Muslimin. Kalau kita renungkan haji, ia sungguh merupakan wisata ruhany yang kental dengan muatan ‘aqidah. Ketika wukuf di Arafah, diharuskan memperbanyak dzikir kepada Allah, menjauhkan diri dari perbuatan yang tak bermanfaat, seperti berfoto ria, jalan ke sana kemari, mencari teman, mengunjungi handai taulan, seperti kebiasaan banyak jemaah haji kita. Bukan seperti itu. Arafah diisi dengan penghayatan, pematangan Aqidah, membulatkan penghambaan diri kepada Al’Aziz al-Jabbar. Bila haji dilaksanakan dengan pola seperti ini, ia akan melahirkan sosok manusia baru dengan akidah yang tangguh. Komitmen kepada Islam yang sangat tinggi. Kecintaan kepda ALLAH yang mengalahkan segala-galanya. Siapapun yang kembali dari mengerjakan haji akan berubah. Bukankah yang pergi haji itu banyak petinggi negara, pejabat pemerintah, politisi wakil rakyat, pebisnis, disamping rakyat biasa. Apa pengaruh haji pada kehidupan mereka?


Seharusnya mereka itu menampakkan perubahan drastis, karena aqidah sudah terbina. Penyelewengan jabatan, praktik korupsi, memperkaya diri, curang dan menipu, seharusnya sudah berhenti total. Ya, kita bisa terima, sebelum haji mereka banyak melakukan perbuatan-perbuatan di atas, tetapi setelah menjalani pelatihan super intensive, materi super canggih, prilaku-prilaku mereka harus berubah total, sekembalinya dari haji. Seharusnya lahir pejabat Negara, politisi, dan aparat pemerintahan yang bersih, soleh, takut menyalah gunakan uang rakyat, bahkan lahirlah politisi dan negarawan yang wala’ (loyalitas/keberpihakan)nya kepada hukum Allah. Partai/ormas boleh beda tetapi akidah harus sama, berwala’ kepada Allah dan bertahkim kepada Syari’at Allah Swt.

أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون
“Apakah Hukum Jahiliyah yang lebih mereka sukai. Dan hukum siapa yang lebih baik dari hukum buatan Allah, bagi kaum yang yakin.” (Al-Ma’idah:50)


Tidak ada tempat bagi sekularisme, Pluralisme, dan demokrasi ala kuffar. Karena apa saja yang kita butuhkan dalam mengatur Negara, ada konsep dan teorinya di dalam Syari’at Allah yang agung itu. Betapa tidak, Dzat Yang Maha Mengetahui akan melahirkan konsep yang maha canggih.

ألا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير
“Ketahuilah. Yang mengetahui adalah yang menciptakan. Dan Dia Maha lembut dan Maha Mengetahui.” (Surat al-Mulk: 14)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.
Apa yang menimpa ekonomi Amerika akhir-akhir ini, berupa hancurnya dunia usaha, yang berawal dari credit crunch dalam bisnis perumahan di Amerika, salah satu pertanda kuat kehancuran sistem ekonomi Kapitalis. Sistem Ekonomi yang berlandaskan pada Riba, uang melahirkan uang, bisnis yang menggelembungkan angka-angka padahal tidak sesuai dengan nilai riilnya, akhirnya sampai pada angka yang tak terbayang dalam otak pebisnis $600,000,000,000,000. (enam ratus trilyun Dollar US). Maka dari kasus hancurnya dunia finance di AS, dan negara-negara yang berkiblat kepadanya, apakah manusia tidak juga mau belajar bahwa sistem yang diciptakan oleh manusia untuk menandingi sistem yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, pada gilirannya akan berujung pada kehancuran, malapetaka dan kesengsaraan. Syari’at Islam mengajarkan bahwa riba adalah haram dan jual beli itu halal. Firman Allah:


أحل الله البيع وحرم الربا. 
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” 

Jual beli harus memperlihatkan wujud barang yang dijual dan harga yang masuk akal atas barang. Bukan seperti membeli kucing dalam karung. Riba lah yang menghancurkan perekonomian Kapitalis, sebagaimana telah hancur sebelumnya sistem sosialis di Eropah Timur. Allah Swt ingin memperlihatkan kepada manusia, bahwa sistem yang mereka bangun bertentangan dengan sistem yang diturunkanNya, cepat atau lambat akan hancur sekuat apapun tiang penyangga sistem itu. Allah juga ingin memperlihatkan bahwa kesombongan dan keangkuhan hanya berakhir dengan kehancuran. Kesombongan (arrogance) yang dipertontonkan oleh AS di dunia Islam, wabil Khusus di Afghanistan, Iraq, Somalia, Sudan dan lainnya tidak luput dari perhitungan Allah Tabaraka wata’ala. Berapa nyawa bangsa Afghanistan yang hilang tanpa alasan? Berapa nyawa bangsa Irak dan kekayaaan negeri itu yang musnah akibat kekejaman Negara yang sombong itu? Semuanya tercatat dalam perhitungan Allah ‘Azza wa Jalla. Krisis financial Amerika adalah mukaddimah kehancuran Negara besar itu.


Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamu. Problem manusia sebenarnya adalah problem ‘aqidah. Mayoritas manusia tidak menuhankan Allah Azza wajalla. Mereka mengambil Tuhan selain Allah. Ada yang menuhankan manusia dan leluhur. Ada pula yang menuhankan benda dan hawa nafsu, seperti roh, seks, akal, teknologi, uang, jabatan, popularitas, dan sebagainya. Firman Allah Tabaraka wata’ala:

أفرأيت من اتخذ إلاهه هواه وأضله الله على علم وختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعد الله أفلا تذكرون.
“Apakah tidak engkau ketahui orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah sesatkan dia dengan sadar, dan Allah mencap pendengarannya dan hatinya. Dan Ia jadikan penglihatannya menjadi tertutup, maka siapakah yang menunjukinya selain Allah? Apakah kamu tidak berfikir?” (al-Jatsiyah 23).


Sebagian mereka ada yang sudah menjadi Muslim tetapi tidak menyerahkan wala’ (loyalitas)nya kepada Allah. Mulut mereka mengucapkan La Ilaaha illallah, namun hati mereka dan praktik hidupnya jauh dari makna Laa Ilaaha illallah itu. Penyebabnya kerana merekapun tidak paham hakikat makna Syahadat itu. Kesan Syahadat adalah tunduk sepenuhnya kepada Allah Swt. Bukan hanya tunduk dalam soal Ibadah ritual dan aturan-aturan yang menyangkut dien (agama) saja. Tetapi kepatuhan total dan ketundukan mutlak kepada Allah Swt. 

Para Ulama Tawhid menjelaskan maknanya adalah : 

لا معبود بحق إلا الله
“Tidak ada yang disembah dengan sah selain dari Allah”. 

Jadi hawa nafsu, manusia, nenek moyang, teknologi, kecantikan, seni, ideologi, faham, benda, roh, apapun selain Allah tidak boleh diTuhankan, disembah, dikultuskan, didewa-dewakan, dianggap sakti, dan seterusnya.


Dalam kenyataan sebagian umat Islam masih terjerumus dalam menuhankan faham/ideologi yang dibuat oleh umat di luar mereka, seperti sekularisme, nasionalisme, materialisme, demokrasi, liberalisme, humanisme, feminisme, dan isme-isme lain. Berarti mereka belum menuhankan Allah dalam arti yang sesungguhnya, karena Allah tidak menerima falsafah-falsafah yang dibuat oleh manusia, lalu dianut sebagai kebenaran, selain apa yang diturunkan oleh Allah, yakni al-Islam. Mereka mengekor begitu saja kepada umat di luar mereka yang tidak memiliki petunjuk hidup. Sungguh ironi, kaum yang memiliki petunjuk hidup (hidayah) mengekor kepada kaum yang sesat. Seharusnya, kaum yang sesat mengikuti kaum yang mendapat petunjuk, agar mereka ikut selamat. Umat Islam di dunia ini rata-rata hidupnya mengekor kepada umat lain. Mereka menjadi pengekor setia kaum di luar mereka, di semua bidang dan sektor; mulai dari ideologi, faham, hobbi, idola, model, brand, trend, gaya, penilaian, dan yang lainnya. 

Umat Islam tidak hanya menjadi pasar produk teknologi saja, tetapi juga sudah menjadi pasar bagi produk ideologi dan faham kaum kuffar. Faham apa saja yang muncul di barat, akan didapatkan pengikutnya di tengah kaum Muslimin. Ini mengingatkan kita benarnya prediksi Nabi Saw empat belas abad silam yang mengatakan :

(لتتبعن أمما قبلكم شبرا بشبر ذراعا بذراع حتى إذا دخلوا جحر ضب لدخلتموه).
“Kalian akan mengikuti ummat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamupun ikuti mereka.”


Dalam soal penilaianpun, umat islam mengekor dan berkiblat kepada Barat kaum Kuffar. Apa saja yang dianggap buruk oleh kuffar, juga dianggap buruk oleh ummat Islam. Sebaliknya apa yang dianggap mereka sebagai kewajaran dan baik, juga dianggap wajar dan baik oleh ummat Islam. Akhir-akhir ini banyak isu dilemparkan oleh musuh-musuh Islam melalui media massa dan disambut oleh ummat ini dengan sikap membeo dan mengekor, seperti murid dengan gurunya. 


Barat melemparkan isu terrorisme dan menuduhkan perbuatan terrorisme kepada Islam dan ummatnya, maka umat Islampun ikut-ikutan seperti beo. Ada Orang yang dituduh oleh Barat sebagai terrorist, kitapun ikut-ikutan menuduhnya terrorist. Padahal mereka itulah induknya terrorist. Israel dan Amerika itulah yang membuat kerusuhan dahsyat di muka bumi ini. Mereka lah yang menjadi kaum perosak nombor wahid di dunia ini. Tapi, dia bisa mengalihkan tanggapan dunia, kerusuhan dahsyat yang dia buat menjadi tidak kelihatan/hilang, sementara orang Muslim yang soleh yang difitnahnya sebagai pembuat kerusuhan, dihukum oleh public secara zalim. Umat islam sekali lagi membeo kepada mereka. Pornografi, homoseks, dan penyimpangan seksual yang bejat, kotor, dan bertentangan dengan fitrah manusia, baik Muslim atau non Muslim, menjadi indah dan wajar dalam pandangan mereka. Sebagian Ummat Islam pun ikut-ikutan menilai yang bejat itu menjadi wajar. Ajaran yang dianggap sesat di dalam Islam, mereka anggap Hak Asasi Manusia dan merupakan kebebasan untuk meyakini ajaran apa saja. Na’uzu Billah min zalik.


Jika Barat menganggap poligami itu buruk dan aib, di mana seorang lelaki mempunyai isteri yang sah lebih dari satu, maka umat Islampun ikut-ikutan menilai poligami itu buruk dan penindasan terhadap perempuan. Bahkan meng”hukum” orang yang melakukannya. Tapi, jika seorang lelaki atau perempuan berganti-ganti pasangan tanpa nikah, melakukan hubungan zina dengan siapa saja yang dia sukai, mereka anggap wajar dan kebebasan sebagai manusia. 


Beginilah nasib ummat Islam sekarang. Menilai sesuatu dengan mengikuti standard penilaian kaum Kuffar. Menikahi anak belasan tahun dianggap oleh Barat sebagai pelecehan terhadap anak, maka ummat Islampun ikut mencelanya. Sementara anak-anak jalanan belasan tahun yang melakukan hubungan seks, tidak pernah diributkan oleh media. Di Barat, anak umur 14 tahun sudah diajari gurunya di sekolah cara berhubungan badan yang ‘aman’. Dan anak-anak sekolah mempraktikkannya dengan teman-temannya. Itu tidak dianggap tabu, karena tidak menikah. Jika menikah dengan sah, akan menjadi aib dan malu.


Lalu pertanyaannya sampai kapan kita sebagai pengekor? Apakah tidak tiba saatnya, ummat Islam ini hidup dewasa, merdeka, mandiri dengan kebijakan sendiri, tidak bergantung kepada bangsa lain manapun. Padahal mereka mempunyai ‘aqidah. Mereka memiliki kitab suci sebagai petunjuk. Mereka mempunyai sunnah Nabinya Saw yang dijadikan pedoman dalam memahami jalan yang benar. Kapankah saatnya, ummat Islam kembali kepada kesadarannya untuk menjalankan hukum Agamanya untuk mengatur dunia dan akhiratnya? 


Sadarkah mereka bahwa solusi tidak pernah datang dari luar mereka, melainkan dari dalam mereka sendiri? Marilah kita berdoa kepada Allah Swt agar ummat ini diberiNya petunjuk dan Hidayah untuk menapaki jalanNya yang lurus, jalan orang-orang yang beriman. Amiin.



اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه ، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه. اللهم إنا نسالك الهدى والتقى والعفاف والغنى. اللهم ارفع مقتك وغضبك عنا . اللهم لا تدع في مقامنا هذا ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا دينا إلا قضيته ولا حاجة من جوائج الدنيا إلا قضيتها ويسرتها يا رب العالمين. اللهم أعز الإسلام والمسلمين وأذل الشرك والمشركين ودمر أعداءك أعداء الدين


+Credit H.M. Nur Fauzan Ahmad
.

Thursday, 4 October 2012

Sirr Al Asrar : Fasal 21 HAJI KE MAKKAH DAN HAJI ROHANI KE HAKIKAT HATI


Pekerjaan haji menurut syariat ialah mengunjungi Ka’abah di Makkah. Ada beberapa syarat berhubung dengan ibadat hajji: memakai ihram – dua helai kain yang tidak berjahit menandakan pelepasan semua ikatan duniawi; 

Memasuki Makkah dalam keadaan berwuduk; tawaf keliling Ka’abah sebanyak tujuh kali tanda penyerahan sepenuhnya; lari-lari anak dari Safa ke Marwah sebanyak tujuh kali; pergi ke Padang Arafah dan tinggal di sana sehingga matahari terbenam; bermalam di Musdalifah; melakukan korban di Mina; meminum air zamzam; melakukan sembahyang dua rakaat berhampiran dengan tempat Nabi Ibrahim a.s pernah berdiri. 

Bila semua ini dilakukan pekerjaan haji pun sempurna dan balasannya diperakui. Jika terdapat kecacatan pada pekerjaan tersebut balasannya dibatalkan. 


Allah Yang Maha Tinggi berfirman: 
“Sempurnakan hajji dan umrah kerana Allah”. (Surah al-Baqarah, ayat 196).




Bila semua itu telah selesai banyak daripada hubungan keduniaan yang ditegah semasa pekerjaan hajji dibolehkan semula. Sebagai tanda selesainya pekerjaan hajji seseorang itu melakukan tawaf terakhir sekali sebelum kembali kepada kehidupan harian.



Ganjaran untuk orang yang mengerjakan hajji dinyatakan oleh Allah dengan firman-Nya: 
“Dan barangsiapa masuk ke dalamnya amanlah ia, dan kerana Allah (wajib) atas manusia pergi ke rumah itu bagi yang berkuasa ke sana”.(Surah al-‘Imraan, ayat 97).


Orang yang sempurna ibadat hajjinya selamat daripada azab neraka. Itulah balasannya.



*****     *****     *****     *****     ***** 

Pekerjaan hajji kerohanian memerlukan persiapan yang besar dan mengumpulkan keperluan-keperluan sebelum memulakan perjalanan. Langkah pertama ialah mencari juru pandu, pembimbing, guru, seorang yang dikasihi, dihormati, diharapkan dan ditaati oleh orang yang mahu menjadi murid itu. Pembimbing itulah yang akan membekalkan murid itu bagi mengerjakan hajji kerohanian, dengan segala keperluannya.



Kemudian dia mesti menyediakan hatinya. Untuk menjadikannya jaga seseorang itu perlu mengucapkan kalimah tauhid “La ilaha illa Llah” dan mengingati Allah dengan menghayati kalimah tersebut. Dengan ini hati menjadi jaga, menjadi hidup. Ia hendaklah mengingati Allah dan berterusan mengingati Allah sehingga seluruh diri batin menjadi suci bersih daripada selain Allah.


Selepas penyucian batin seseorang perlu menyebutkan nama-nama bagi sifat-sifat Allah yang akan menyalakan cahaya keindahan dan kemuliaan-Nya. Di dalam cahaya itulah seseorang itu diharapkan dapat melihat ka’abah bagi hakikat rahsia. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s dan anaknya Nabi Ismail a.s melakukan penyucian ini: 


“Janganlah engkau sekutukan Aku dengan sesuatu apa pun dan bersihkan rumah-Ku untuk orang-orang tawaf, dan yang berdiri, dan yang rukuk, dan yang sujud”. (Surah al-Hajj, ayat 26).



Sesungguhnya Ka’abah zahir yang ada di Makkah dijaga dengan bersih untuk para pekerja haji. Betapa lebih lagi kesucian yang perlu dijaga terhadap ka’abah batin yang ke atasnya hakikat akan memancar..


Selepas persediaan itu pekerja haji batin menyelimutkan dirinya dengan roh suci, mengubah bentuk kebendaannya menjadi hakikat batin, dan melakukan tawaf ka’abah hati, mengucap di dalam hati nama Tuhan yang kedua- “ALLAH”, nama yang khusus bagi-Nya. Ia bergerak dalam bulatan kerana laluan rohani bukan lurus tetapi dalam bentuk bulatan. Akhirnya adalah permulaannya.


Kemudian ia pergi ke Padang Arafah hati, tempat batin yang merendahkan diri dan merayu kepada Tuhannya, tempat yang diharapkan seseorang dapat mengetahui rahsia “La ilaha illa Llah”, “Yang Maha Esa, tiada sekutu”. Di sana ia berdiri mengucapkan nama ketiga “HU” – bukan sendirian tetapi bersama-Nya kerana Allah berfirman: 

Dia beserta kamu walau di mana kamu berada”. (Surah al-Hadiid, ayat 4).



Kemudian dia mengucapkan nama keempat “HAQ”, nama bagi cahaya Zat Allah – dan kemudian nama kelima “HAYYUN” – hidup Ilahi tang darinya hidup yang sementara muncul. Kemudian dia menyatukan nama Ilahi Yang Hidup Kekal Abadi dengan nama keenam “QAYYUM” – Yang Wujud Sendiri, yang bergantung kepada-Nya segala kewujudan. Ini membawanya kepada Musdalifah yang di tengah-tengah hati.


Kemudian dia di bawa ke Mina, rahsia suci, intipati atau hakikat, di mana dia ucapkan nama yang ke tujuh “QAHHAR” – Yang Meliputi Semua, Maha Keras. Dengan kekuasaan nama tersebut dirinya dan kepentingan dirinya dikorbankan. Tabir keingkaran ditiupkan dan pintu kebatilan diterbangkan.


Mengenai tabir yang memisahkan yang dicipta dengan Pencipta, Nabi s.a.w bersabda, “Iman dan kufur wujud pada tempat di sebalik arasy Allah. Keduanya adalah hijab memisahkan Tuhan daripada pemandangan hamba-hamba-Nya. Satu adalah hitam dan satu lagi putih”.
Kemudian kepada roh suci dicukurkan daripada segala sifat kebendaan.


Dengan membaca nama Ilahi ke lapan “WAHHAB” – Pemberi kepada semua, tanpa batas, tanpa syarat – dia memasuki daerah suci bagi Zat. Kemudian dia mengucapkan nama kesembilan “FATTAH” – Pembuka segala yang tertutup.


Memasuki ke tempat menyerah diri di mana dia tinggal mengasingkan diri, hampir dengan Allah, dalam keakraban dengan-Nya dan jauh daripada segala yang lain, dia mengucapkan nama yang ke sepuluh “WAHID” – Yang Esa, yang tiada tara, tiada sesuatu menyamai-Nya.



Di sana dia mula menyaksikan sifat Allah “SAMAD” – Yang menjadi sumber kepada segala sesuatu. Ia adalah pemandangan tanpa rupa, tanpa bentuk, tidak menyerupai sesuatu.
Kemudian tawaf terakhir bermula, tujuh pusingan yang dalam tempoh tersebut dia mengucapkan enam nama-nama yang terakhir dan ditambah dengan nama ke sebelas “AHAD” – Yang Esa. Kemudian dia minum daripada tangan keakraban Allah. 


“Dan Tuhan mereka membuat mereka meminum minuman asli”. (Surah Insaan, ayat 21).




Cawan yang di dalamnya minuman ini disediakan ialah nama yang kedua belas “SAMAD” – Sumber, yang menunaikan segala hajat, satu-satunya tempat meminta tolong.
Dengan meminum dari sumber ini dia melihat semua tabir tersingkap daripada wajah keabadian. Dia mendongak melihat kepada-Nya dengan cahaya yang datang daripada-Nya. 


Alam ini tiada persamaan, tiada bentuk, tiada rupa. Ia tidak mampu diterangkan, diibaratkan, alam yang tidak ada mata pernah melihatnya, tiada telinga pernah mendengarnya dan tiada hati manusia yang ingat. Kalam Allah tidak didengar dengan bunyi atau dilihat dengan tulisan. Kesukaan yang tiada hati manusia boleh merasai ialah kelazatan menyaksikan hakikat Allah dan mendengar percakapan-Nya: 


“Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal salih, maka mereka itu Allah akan tukarkan kejahatan-kejahatan mereka kepada kebaikan-kebaikan”. (Surah al-Furqaan, ayat 70).



Kemudian pekerja hajji itu dibebaskan daripada semua perbuatan yang daripada dirinya dan bebas daripada ketakutan dan dukacita. 

“Ketahuilah sesungguhnya pembantu-pembantu Allah, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak akan mereka berdukacita”. (Surah Yunus, ayat 62).




Akhirnya tawaf selamat tinggal dilakukan dengan mengucapkan semua nama-nama Ilahi.
Kemudian pekerja hajji kembali ke rumahnya, ke tempat asalnya, bumi suci di mana Allah ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik dan paling indah. Ketika kembalinya itu dia mengucapkan nama kedua belas “SAMAD”, perbendaharaan yang daripadanya semua keperluan makhluk dibekalkan. Itu adalah alam kehampiran Allah. Itulah tempat kediaman pekerja hajji batin, dan ke sanalah mereka kembali.


Hanya itulah yang dapat diceritakan sekadar lidah mampu ucapkan dan akal mampu terima. Selepas itu tiada berita yang boleh diberi kerana selebih daripada itu tidak boleh disaksikan, tidak dimengerti, tidak mampu difikir atau diterangkan. Nabi s.a.w bersabda, “Ada ilmu yang tinggal tetap seumpama khazanah yang tertanam. Tiada siapa yang boleh mengetahuinya dan tiada siapa boleh mendapatkannya melainkan mereka yang menerima ilmu Ilahi”, tetapi bila diperdengarkan kewujudan ilmu demikian, yang ikhlas tidak menafikannya.



Manusia yang memiliki pengetahuan biasa mengumpulkan apa yang boleh dikumpulkan di permukaan. Orang yang memiliki ilmu ketuhanan mengeluarkan dasarnya. Hikmah kebijaksanaan orang arif adalah sebenar-benar rahsia bagi Allah Yang Maha Tinggi. Tiada siapa yang tahu apa yang Dia tahu kecuali Dia sendiri. 

Sedang mereka tidak meliputi (sedikit pun) daripada ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuan-Nya meliputi langit-langit dan bumi, dan memelihara keduanya tidaklah berat bagi-Nya”. (Surah al-Baqarah, ayat 255).


Mereka yang dirahmati, yang dikurniakan sebahagian ilmu-Nya adalah nabi-nabi dan kekasih-Nya yang berjuang untuk datang hampir kepada-Nya. Firman-Nya: 

“Dia mengetahui rahsia dan yang lebih tersembunyi”. (Surah Ta Ha, ayat 7).
“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Kepunyaan-Nya nama-nama yang sangat baik”. (Surah Ta Ha, ayat 8).


Dan Allah paling mengetahui. 

.

Mihrab Kaum 'Arifin : HAKIKAT HAJI (IMAM GHAZALI)


Bagi yang bermaksud menunaikan haji, haruslah memperkuatkan niat - yerlah, bakal beroleh haju merdud (ditolak or being rejected or bounced back).

Seharusnya yang bermaksud menunaikan haji pasang tekad seolah-olah dia TIDAK INGIN KEMBALI LAGI, berbaik sesama teman seperjalanan. ... dan ketika dia memasuki ihram dia mengosongkan diri, membersihkan dosa-dosa serta mengenakan busana kesetiaan & kejujuran.

DIA PENUHI PANGGILAN TUHANNYA.

... dan selama di Tanah Haram, 
dia hindari perbuatan-perbuatan yang dapat menjauhkannya dari Tuhannya. 
dia bertawaf dengan hatinya di sekitar 'Kursy Kemuliaan-Nya'.
dia bersihkan lahir bathinnya saat berdiri di Bukit Safa/.
dia berlari dari kongkongan nafsu serta tidak berharap dari yg telah diharamkan Allah.
dia mengakui dosanya ketika wuquf di Padang 'Arafah
& bertaqarrub (mendekatkan diri) saat di Muzdalifah.
dia melempakan jauh-jauh syahwatnya bersamaan dengan lemparan jumrahnya.
dia sembelih hawa nafsunya serta mencukur dosa-dosanya
dia menziarah ke Baitullah dengan mengagungkan pemilikNya
lalu mencium Hajar Aswad sebagai bukti kerelaannya terhadap ketentuanNya.
dan manakala tiba detik-detik thawaf Wada' (perpisahan), dia tinggalkan selain Allah.


Part 2:


HAJI HAKIKI : bermakna KESEMPURNAAN KEISLAMAN sasaorang muslim itu. Haji ditafsirkan sebagai HAJAT. Maka apabila kita telah berjaya SE –kan diri kita dengan Zat, Sifat, Asma’ & Af’al Allah maka mencapailah kita akan HAJAT. HIDUPLAH DG KEBESARAN ALLAH. SAMPAI LAH IA.

QALBU MUKMIN BAITILLAH iaitu pasangan kepada KA'ABAH zahir di Makkah.



Part 3:


Hakikat Berhaji Menurut Imam Ghazali ; Ketika Tawaf

Yang perlu diperhatikan adalah;
1.       Ketika tawaf hati perlu diisi dengan cinta, takut, harap dan pengakuan atas keagungan Allah,
2.       Sadar bahwa ada juga lintasan malaikat yang teramat dekat dengan-Nya. Mereka mengelilingi ‘Arasy. Tawaf tidak sekedar jasmani, namun tawaf hati melalui ingat pada Allah SWT.
3.       Menyadari kehadiran-Nya, Baitullah adalah symbol pengadilan Ilahi di dunia dan sekedar gerbang menuju alam malakut. Sadar adanya hubungan dengan Bait al-Ma’mur [rumah berpenduduk banyak] yang terletak antara syurga dan ka’bah. Malaikat yang tawaf di syurga mirip dengan manusia yang tawaf di bumi.
4.       Bila tidak dapat ‘menlihat’ ini dan melakukan tawaf tingkat ini, maka yang perlu dilakukan adalah melakukan sebaik mungkin, meniru sebaik mungkin. Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa menyerupai suatu golongan, maka ia termasuk dalam golongan tersebut.’ HR. Abu Dawud, sahih. Imam Ghazali menjelaskan bahwa siapa yang mampu melakukan tawaf tingkatan tinggi ini, Ka’bah akan mengunjunginya dan berputar mengelilingi dan hanya orang yang  mempunyai kasyaf untuk melihat peristiwa ini, dia orang yang sangat dekat dengan Allah SWT.
Sumber; Ibadah Perspektif Sufistik dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam, Al Imam Abu Hamid Ghazali. Surabaya; Risalah Gusti. Penerjemah Roudlon, S.Ag. dari Inner Dimensions of Islamic Worship, Muhtar Holland.
HAKIKAT TAWAF HAKIKAT TAWAF

Haji Hakiki


Pada rukun Islam pun sudah ada kewajiban yaitu Ziarah ke Mekah dan Madinah, ke makam Rasulullah saw dan Kerajaan Allah Ta’ala yang terdapat pada diri sendiri, sebagaimana Firman Allah:

Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.(Q.S. Yunus, 10:47)

 Oleh sebab itu kita perlu penasaran, wajib untuk mengetahui akan Hakikatnya Rasulullah saw yang ada pada diri sendiri. Apalagi apabila kemampuan kita untuk pergi ke Makkah dan Madinah tidak ada, tetapi di atas sudah ditekankan bahwa pergi haji itu ada dua macam, yaitu Haji Majaji dan Haji Hakiki.

Haji Majaji adalah mereka yang mampu berziarah ke Baitullah dan Madinah. Haji Hakiki adalah yang sudah mengetahui pada Hakikat Baitullah dan Rasulullah  saw pada dirinya sendiri, karena Rasulullah  saw itu tidak “meninggal dunia”, jikalau “meninggal dunia” Alam dunia ini tidak akan ada. Maka kita ini jikalau berkehendak untuk menjadi umat Rasulullah saw harus dapat mengetahui akan Hakikat Rasulullah  saw  yang disebut Johar Awal tadi, supaya tercapai  -kelebihan dari para Wali.

Hakikat Haji Hok Sebenar


Haji itu wajib bagi setiap Muslim yang berakal sihat yang mampu melaksanakannya dan telah mencapai kedewasaan. Haji itu adalah memakai pakaian haji (ihram) pada tempat yang ditentukan, singgal di A’rafah, mengelilingi Ka’bah, dan berlari antara Shafa dan Marawah. Tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci tanpa berpakaian ihram. Kawasan suci (haram) disebut demikian karena di situ terdapat Makam Ibrahim. Ibrahim as mempunyai dua makam: makam badannya, yakni, Makkah dan makam ruhaninya, yakni, persahabatan (dengan Tuhan).


Barangsiapa mencari makam badaniahnya, dia harus menafikan semua hawa nafsu dan kesenangan, memakai pakaian ihram, mencegah dari perbuatan yang dihalalkan, mengendalikan sepenuhnya semua indra, hadir di Arafah dan dari sana menuju Muzdalifah dan Masy’ar Al-Haram, mengambil batu-batu dan mengelilingi Ka’bah, mengunjungi Mina dan tinggal di sana tiga hari, melemparkan batu-batu dengan cara yang sudah ditentukan, memotong rambutnya, melaksanakan kurban dan memakai pakaian biasa (sehari-hari).


Tetapi barang siapa mencari makam ruhaniahnya, harus menafikan pergaulan dengan sesamanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesenangan-kesenangan, dan tidak berpikir lain selain tentang Tuhan. Kemudian dia harus singgah di “Arafatnya makrifat dan dari sana pergi ke Muzdalifahnya persahabatan, dan dari sini menyuruh hatinya untuk mengelilingi Ka’bahnya penyucian Ilahi, dan melemparkan batu-batu hawa nafsu dan pikiran-pikiran kotor di Mina keimanan, dan mengorbankan jiwa rendahnya di altar musyahadat dan sampai pada makam persahabatan. Memasuki makam badaniah berarti aman dari musuh-musuh dan pedang-pedang mereka, tetapi memasuki makam ruhaniah berarti aman dari keterpisahan (dari Tuhan) dan akibat-akibatnya.


Muhammad bin Al-Fadhl mengatakan, “Aku heran pada orang-orang yang mencari Ka’abah-Nya di dunia ini. Mengapa meraka tidak berupaya melakukan musyahadat tentang-NYa di dalam hati mereka? Tempat suci kadangkala mereka capai dan kadangkala mereka tinggalkan, tetapi musyahadat bisa mereka nikmati selalu. Jika mereka harus mengunjungi batu (Ka’abah), yang dilihat hanya setahun sekali, sesungguhnya meraka lebih harus mengunjungi Ka’abah hati, di mana Dia bisa dilihat tiga ratus enam puluh kali sehari semalam. Tetapi setiap langkah mistikus adalah simbol perjalanan menuju Meakkah, dan bilamana ia mencapai tempat suci ia menerima jubah kehormatan, bagi setiap langkah.”

Dan Abu Yazid mengatakan, “Pada hajiku yang pertama aku hanya melihat Ka’abah, kedua kalinya, aku melihat Ka’abah dan Tuhannya Ka’abah, dan ketiga kalinya, aku hanya melihat Tuhan saja.” Pendeknya, tempat suci ada di mana musyahadat ada.


Karena itu, yang sebenarnya bernilai bukalah Ka’abah, melainkan kontemplasi (musyahadat) dan pelenyapan (fana’) di dalam istana persabatan, dan melihat Ka’bah merupakan sebab tidak langsung. Tetapi, kita harus tahu bahwa setiap sebab bergantung pada pencipta sebab-sebab, dari tempat tersembunyi mana pun kuasa ilahi tampak, dan dari mana pun keinginan si pencari bisa dipenuhi. Tujuan mistikus dengan melintas belantara dan padang pasir bukanlah tempat suci itu sendiri.

Tujuan mereka adalah mujahadat dalam suatu kerinduan yang membuat mereka tak bisa tenang, dan kelenyapan dalam cinta yang tak pernah berakhir. Seseorang datang kepada Junayd. Junayd bertanya kepadanya dari mana ia datang, Ia menjawab, ” Aku baru saja melakukan ibadah haji.”

“Dari saat engkau permata kali berjalan dari rumahmu, apakah engakau juga telah meninggalkan semua dosa?” tanya Junayd.
“Tidak,” jawab orang itu.
“Berarti,” kata Junayd, “engkau tidak mengadakan perjalanan. Di setiap tahap dimana engkau beristirahat di malam hari, apakah engkau telah melintas sebuah makam di jalan menuju Allah?”
“Tidak”.
“Berarti engkau tidak menempuh perjalanan tahap demi tahap. Ketika engkau mengenakan pakaian ihram di tempat yang ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan pakaian-pakaian sehari-harimu?”
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji. Ketika engkau singgah di Arafah, apakah telah singgah barang sebentar dalam musyahadat kepada Tuhan?”
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak singgah di Arafat. Ketika engkau pergi ke Muzdalifah dan mencapai keinginanmu, apakah engkau sudah meniadakan semua hawa nafsu?”
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak pergi ke Muzdalifah. Ketika engkau mengelilingi Ka’bah, apakah engkau sudah memandang keindahan non material Tuhan di tempat suci?”
“Tidak”
“Berarti engaku tidak mengelilingi Ka’bah. Ketika engkau lari antar Shafa dan Marwah, apakah engkau telah mencapai peringkat kesucian dan kebajikan?”
“Tidak.”
“Berarti engakau tidak lari. Ketika engkau datang ke Mina, apakah semua keinginanmu sirna?”
“Tidak.”
“Berarti engkau belum mengunjungi Mina. Ketika engkau sampai di tempat penyembelihan dan melakukan kurban, apakah engkau telah mengurbankan segala hawa nafsu?”
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak berkurban. Ketika engkau melemparkan batu-batu, apakah engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang menyertaimu?”
“Tidak.”
“Berarti engkau belum melemparkan batu-batu, dan engkau belum melaksanakan ibadah haji. Kembalilah dan lakukan ibadah haji seperti yang telah kugambarkan supaya engkau bisa sampai pada makam ibrahim.”


Selanjutnya, haji ada dua macam :
1. dalam ketidakhadiran (dari Tuhan) dan
2. dalam kehadiran (bersama Tuhan).

Sesesorang yang tidak hadir dari Tuhan di Makkah, maka ia dalam kedudukan yang seolah-olah ia tidak hadir dari Tuhan di rumahnya sendiri, dan seseorang yang hadir bersama Tuhan di rumahnya sendiri, maka ia berada dalam kedudukan yang seolah-olah ia hadir bersama Tuhan di Makkah.

Haji adalah suatu tindakan mujahadat untuk memperoleh musyahadat, dan mujahadat tidak menjadi sebab langsung musyahadat melainkan hanya sarana untuk mencapai musyahadat. Maka dari itu, karena sarana tidak mempunyai pengaruh lebih jauh atas realitas segala hal, tujuan haji yang sebenarnya bukanlah mengunjungi Ka’bah, melainkan untuk memperoleh musyahadat tentang Tuhan.

.