Showing posts with label Pesanan. Show all posts
Showing posts with label Pesanan. Show all posts

Friday, 4 January 2013

Zainuddin pun menulis surat pada kekasihnya Hayati (Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk)



that was back in 1989 when i first read this masterpiece.
old version with old Indonesian spelling.
the book was belong to my late uncle, properly kept under guest bed in one of the bedroom.


ealier last month i glanced at the nostalgic title on a bookshelf at Pustaka Indonesia, 2nd Floor Wisma Yakin where I hold a membership no. #0995, huhuhu. Have to wait until to the very end of year 2012, then I decided that I have to treasure this as one of my must have item.

I was so touched by the melancholic language used. Old phrases. 




Zainuddin pun menulis surat pada kekasihnya Hayati

Hayati! .... Apa yang saya lihat kemarin? Mengapa telah berubah pakaianmu, telah berubah gayamu? Mana baju kurungmu? Walaupun adinda orang dusun! Saya bukan mencela bentuk pakaian orang kini, yang saya cela ialah cara yang telah berlebih-lebihan, dibungkus perbuatan 'terlalu' dengan nama mode. 

Kemarin, Adinda pakai baju yang sejarang-jarangnya, hampir separoh dada Adinda kelihatan, sempit pula guntung lengannya, dan pakaian itu yang dibawa ke tengah-tengah ramai.

Kakanda percaya, bahwa yang demikian bukan kehendak Hayati yang sejati, Hayati hanya terturut kepada kehendak perempuan zaman kini. Mereka katakan itu kemajuan, padahal kemajuan jauh dari itu. Apakah tujuan kemajua itu kepada perubahan pakaian sampai begitu, Hayati?

Hayati, kehidupanku! Pakailah pakaian yang asli kembali, lekatkan pakaian dusunmu. Maafkan Hayati, bahwa Hayati sangat cantik, dan kecantikan itu bukannya dibantu pakaian, tetapi diciptakan sejak dia dilahirkan.

Jangan marah Hayati. Kau hanya buat saya seorang, bukan buat orang lain. Biarlah orang lain mengatakan kau perempuan dusun, tak kenal kemajuan pakaian zaman kini, kau Hayati...kau hanya untukku seorang.

Zainuddin.
.

Sunday, 30 December 2012

PESANAN SAYYIDINA 'UMAR AL-KHATTAB R.A.


1.
Siapa yang menjaga percakapannya dianugerahkan kepadanya hikmah.
Siapa yang menjaga penglihatannya dianugerahkan kepadanya hati yang khusyuk.
Siapa yang menjaga makanannya dianugerahkan kepadanya kelazatan dalam beribadah.
Siapa yang bersabar di atas ujian, Allah sempurnakan sabarnya lalu memasukkannya ke dalam Syurga mana yang dia suka.
Siapa yang menjaga daripada ketawa dianugerahkan kepadanya kehebatan.
Siapa yang menjaga daripada bergurau dianugerahkan kepadanya keelokan atau kemuliaan.
Siapa yang meninggalkan cinta dunia dianugerahkan kepadanya dapat melihat kesalahan sendiri.
Siapa yang meninggalkan kesibukan mencari kesalahan pada perbuatan Allah, dianugerahkan kepadanya pelepasan daripada nifak.





2. Jika tidaklah kerana takut dihisab sesungguhnya aku perintahkan kamu membawa seekor kambing untuk dipanggang di depan pembakar roti ini.


3. Siapa takut kepada Allah SWT, nescaya marahnya tidak dapat dilihat. Dan siapa takutkan Allah, kehendaknya akan ditunaikan.


4. Wahai Tuhan, jangan Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad SAW di tanganku.




5. Termaktub dalam sepucuk surat khalifah Umar kepada Abu Musa Al Asyaari:


“Milikilah sifat sabar. Sifat sabar itu ada dua. Sabar yang pertama lebih afdhal dari sabar yang kedua iaitu sabar dalam meninggalkan larangan Allah SWT dan sabar dalam menghadapi musibah. Ketahuilah bahawa sabar itu sangkutan iman (orang yang bersabar akan mendapat iman) kerana kebajikan yang paling utama adalah taqwa dan taqwa hanya dapat dicapai dengan sabar.”


.

Tuesday, 25 December 2012

Artikel Pilihan : Kepada Para Pengusung Dakwah (5.MENJAGA AL-ULFAH (KASIH SAYANG) DENGAN SESAMA MUSLIM)


Series:
1. <BERTAQWA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA>
2. <MENINGKATKAN TAWATTUR @ KEMAMPUAN PERIBADI>
3. <SEORANG DA'IE PANTANG PESSIMIST @ PUTUS ASA>
4. <PARA DA'IE JANGAN ISTI'JAL @ TERGESA-GESA>
5. <MENJAGA AL-ULFAH @ KASIH SAYANG SESAMA MUSLIM>



Syaikh Dr. Musnid Al Qatthani 
Wasiat bagi para da’i atau orang-orang yang berjalan di atas dakwah. 


5.    MENJAGA AL-ULFAH (KASIH SAYANG) DENGAN SESAMA MUSLIM
Saling menyayangi dan menjaga ukhuwah antara da’i dan tidak berpecah-pecah, karena ukhuwah merupakan hal yang sangat mahal harganya sebagai pemberian dari Allah Shubhaanahu Wa Taala , walaupun kita menginginkan persatuan atau ukhuwah namun jika Allah Subhaanahu Wa Taala tidak menghendakinya maka kita tidak akan memperolehnya sebagaimana dalam firman-Nya :

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(Qs.Al-An-Fal : 63)


Allah Subhaanahu Wa Taala berfirman : 

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Al Imran : 103).


Hendaknya seorang da’i saling mencintai dan menghindari perpecahan. Kalaupun ada perselisihan, hal ini wajar sebagaimana seorang suami-istri yang kadang berselisih namun tetap saling mencintai. Allah Shubhaanahu Wa Taala sangat mencela orang-orang yang selalu ingin berpecah sebagaimana dalam firmanNya :


Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka.  Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (QS.Al An‘naam : 159)

Maka marilah kita saling menjaga ulfah atau kasih sayang dan saling menasehati antar sesama da’i agar tetap bisa istiqamah di atas jalan yang lurus yaitu istiqamah dalam mendakwahkan agama Allah, Wallahu A’lam (Transkrip  Daurah  6  Agustus  2007 di Masjid Darul Hikmah  Kantor  DPP WI), 
.

Artikel Pilihan : Kepada Para Pengusung Dakwah (4. PARA DA’I JANGAN ISTI’JAL ( TERGESA-GESA )


Series:
1. <BERTAQWA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA>
2. <MENINGKATKAN TAWATTUR @ KEMAMPUAN PERIBADI>
3. <SEORANG DA'IE PANTANG PESSIMIST @ PUTUS ASA>
4. <PARA DA'IE JANGAN ISTI'JAL @ TERGESA-GESA>
5. <MENJAGA AL-ULFAH @ KASIH SAYANG SESAMA MUSLIM>



Syaikh Dr. Musnid Al Qatthani 
Wasiat bagi para da’i atau orang-orang yang berjalan di atas dakwah. 


4.     PARA DA’I  JANGAN ISTI’JAL ( TERGESA-GESA )
Salah satu bagian dari dakwah manhaj salafus shaleh adalah tidak tergesa-gesa dalam berdakwah. Dalam berdakwah tidak bisa serta merta ingin memperoleh hasil dan segera memetik buah dari dakwahnya karena ini adalah penyakit dalam dakwah. 




Mengapa dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam  di Makkah tidak ditempuh dua tahun atau lima tahun saja? Beliau berdakwah di Makkah selama 13 tahun, dan hanya mendapatkan pengikut 45 orang sahabat saja, namun beliau tetap bersabar dan terus mendidik dan mentarbiyah sahabatnya, walaupun dalam kondisi tertindas dan terasing ditengah-tengah masyarakat Makkah saat itu. Setelah 13 tahun kemudian, beliaupun berhijrah ke Madinah. Berapa tahun setelah hijrah baru terjadi Fathul-Makkah? Peristiwa ini nanti terjadi pada tahun 8 H. Mengapa tidak dilaksanakan pada tahun 5 H atau jauh sebelumnya? dan tidak ada pembukaan daerah kekuasaan kaum muslimin secara luas kecuali setelah beliau wafat. Hal  ini menunjukkan bahwasanya dakwah dan perjuangan Islam ini dilakukan tidak dengan tergesa-gesa. Ini adalah buah kesabaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam mentarbiyah para sahabat yang jumlahnya kurang lebih hanya empat puluh lima orang yang kemudian melahirkan orang-orang yang membuka lahan-lahan dakwah yang lebih luas bahkan sampai sepertiga belahan dunia, sungguh sangat menakjubkan!.

Oleh karena itu sebagai seorang da’i, hendaknya tidak tergesa-gesa dalam berdakwah karena sesungguhnya ia adalah dari syaitan. Sebagian da’i yang tidak sabar untuk segera melihat hasil dari perjuanganaya, ingin cepat mendapatkan pengikut yang banyak padahal Nabi dan Rasul dahulu yang berdakwah sekian tahun hanya memiliki beberapa pengikut bahkan ada yang tidak memiliki pengikut seorangpun sebagaimana yang digambarkan dalam hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa pada hari kiamat nanti ada seorang rasul yang datang dengan satu pengikut bahkan ada yang tanpa pengikut, apakah mereka dikatakan gagal berdakwah? Mereka adalah manusia pilihan yang diutus oleh Allah Subhaanahu Wa Ta'ala dengan membawa risalah yang bertujuan memperbaiki manusia. 

Karena tujuan kita adalah memperbaiki manusia maka hendaknya kita bersabar jangan tergesa-gesa, tergesa-gesa merupakan penyakit yang dapat merusak bangunan dakwah, olehnya itu harus senantiasa bersabar. Demikianlah manhaj Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.
Sewaktu pasukan Tar-tar masuk ke Iraq dalam waktu 40 hari mereka telah membunuh satu juta umat muslim Iraq, mereka menghancurkan perpustakaan-perpustakan dan buku-buku para ulama dibuang ke sungai Eufrat dan sungai Dajla hingga airnya menjadi hitam dan biru karena tinta dari kitab-kitab tersebut, kondisi yang mereka alami lebih dahsyat dari kondisi kita sekarang.

Tahun 313 H orang-orang syiah rafidhah membunuh 30 ribu hajajj (jamaah haji) di depan Kabbah, lalu mereka mengambil hajar aswad, sehingga kabbah kehilangan hajar aswad selama 22 tahun. Sebab orang syiah lebih menyukai tawaf di Karbala daripada di Kabbah.
Dalam masa empat kurun waktu, orang-orang syiah Rafidhah berkuasa hampir di seluruh jazirah Arab. Sehingga pada saat itu setiap tanggal 10 Muharram di seluruh jazirah Arab melakukan hari Karbala secara besar-besaran kecuali di Iran masih menjadi negara yang memegang sunnah. Demikianlah  Allah Shubhaanahu Wa Taala memberikan cobaan kepada umat ini, jangan merasa bersedih dengan kondisi sekarang dan isti’jal karena umat terdahulu juga mengalami hal yang demikian. Lihatlah para pemerintah menguasai para ulama, seperti imam Ahmad, dipenjara selama dua tahun empat bulan dan disiksa namun tetap bersabar. Demikian pula dengan imam Malik, imam Syafi’i mereka juga mengalami tantangan seperti itu. Syaikul Islam Ibnu Taimiyah dipenjara selama 26 tahun hingga akhirnya meninggal dalam penjara tetapi tidak sampai mengkafirkan penguasa yang memenjarakannya.

Artikel Pilihan : Kepada Para Pengusung Dakwah (3. SEORANG DA’I PANTANG PESIMIS / PUTUS ASA)


Series:
1. <BERTAQWA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA>
2. <MENINGKATKAN TAWATTUR @ KEMAMPUAN PERIBADI>
3. <SEORANG DA'IE PANTANG PESSIMIST @ PUTUS ASA>
4. <PARA DA'IE JANGAN ISTI'JAL @ TERGESA-GESA>
5. <MENJAGA AL-ULFAH @ KASIH SAYANG SESAMA MUSLIM>



Syaikh Dr. Musnid Al Qatthani 
Wasiat bagi para da’i atau orang-orang yang berjalan di atas dakwah. 


3.    SEORANG DA’I PANTANG PESIMIS / PUTUS ASA
Seorang muslim yang istiqomah dengan agamanya akan terasing ditengah-tengah manusia bahkan terasing di tengah-tengah kaum muslimin itu sendiri, hal ini menjadi tatangan yang berat baginya. Namun keterasingan jangan sampai membuat kita putus asa, karena sikap putus asa pantang bagi seorang muslim terlebih lagi seorang da’i. Ketahuilah keterasingan itu bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga ditemukan di belahan dunia yang lain, bahkan sampai di Mekah, Madinah pun orang yang istiqomah terasing, hanya saja tingkatannya berbeda. Jadi jangan pernah menyangka bahwa jalan perjuangan Islam ini mulus. Hidup ditengah-tengah masyarakat dianggap aneh dan  dikucilkan merupakan sunnatullah bagi orang yang istiqomah karena keterasingan itu selamanya pasti akan selalu ada. Keadaan ini juga dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya ketika Islam mulai didakwahkan. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : 
“Islam ini datang dalam keadaan ghorib (asing) dan akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing, yang memperbaiki manusia dalam keadaan rusak”.(al Hadits).

Tantangan keterasingan yang ada di Indonesia belum seberapa jika dibanding dengan situasi yang ada di wilayah Arab. Misalnya di Al Jazair, Mesir, Suriah. Disana mesjid-mesjid tidak dibiarkan bebas digunakan orang untuk melakukan kegiatan-kegiatan dakwah. Bahkan dibeberapa daerah Arab tidak diperbolehkan wanita-wanitanya mengenakan jilbab di kampus-kampus. Maka sudah sepantasnya bagi seorang muslim berputus asa dengan tantangan yang dihadapinya. 

Artikel Pilihan : Kepada Para Pengusung Dakwah (2. MENINGKATKAN TATAWWUR (KEMAMPUAN PRIBADI)


Series:
1. <BERTAQWA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA>
2. <MENINGKATKAN TAWATTUR @ KEMAMPUAN PERIBADI>
3. <SEORANG DA'IE PANTANG PESSIMIST @ PUTUS ASA>
4. <PARA DA'IE JANGAN ISTI'JAL @ TERGESA-GESA>
5. <MENJAGA AL-ULFAH @ KASIH SAYANG SESAMA MUSLIM>



Syaikh Dr. Musnid Al Qatthani 
Wasiat bagi para da’i atau orang-orang yang berjalan di atas dakwah. 


2.    MENINGKATKAN TATAWWUR (KEMAMPUAN PRIBADI)
Seorang da’i jangan pernah merasa cukup dengan tsaqafah ( ilmu ) yang dia miliki. Dia harus terus menuntut ilmu dengan bertanya, membaca, mengikuti pelatihan-pelatihan, kajian-kajian atau yang lainnya. Sambil berdakwah atau mengajar juga tetap belajar. Imam Nawawi adalah seorang ulama besar, namun beliau tetap belajar ditengah-tengah kesibukannya mengajar dan berdakwah. Karena ilmu itu tidak bertepi, sangat luas dan tiada batas. Dia bagaikan lautan yang luas tanpa tepi. Oleh karena itu menuntut ilmu itu sampai mati, jangan merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki.



Ulama mengatakan bahwa Ilmu itu tiga jengkal. Barangsiapa yang masuk pada jengkal pertama maka dia akan sombong atau takabur. Misalnya satu buku dibaca sudah mau jadi Mufti (Pemberi Fatwa). Dan siapa yang masuk pada jengkal ke dua maka dia menjadi tawadhu’ ( rendah hati ), dia merasa bodoh. Dan barang siapa yang masuk pada jengkal ketiga maka dia akan semakin merasa tidak memiliki ilmu apa-apa

Para Malaikat, Nabi dan Ulama adalah orang-orang yang tawadhu’ dengan ilmunya. Mereka sadar bahwa ilmu yang dimilikinya adalah pemberian Allah  padanya. Hendaklah seorang da’i tawadhu’ dengan ilmunya dan terus berusaha untuk meningkatkan kualitas SDM atau kapasitas ilmiahnya.

Terkhusus dalam mempelajari bahasa Arab hendaknya seorang da’i memperhatikan hal ini dan mengkhususkan untuk mempelajarinya. Jangan pernah merasa lemah untuk memperlajarinya karena bahasa Arab adalah mifhtahul ‘ilmi (kunci ilmu-ilmu syar`i) yang memudahkan seorang da’i untuk mememahami lebih dalam ilmu-ilmu syar’i terutama kandungan Al-Qur’an. Tidak ada halangan untuk tidak mempelajari bahasa Arab, karena sekarang sudah banyak sarana untuk belajar bahasa Arab. Sudah banyak sekolah atau pesantren yang telah mengajarkan dan menerapkan bahasa Arab. belajar bahasa Arab bisa ditempuh melalui kaset-kaset, situs internet atau dengan buku-buku bahasa Arab atau yang lainnya. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana memotivasi diri untuk bisa belajar bahasa Arab.

Seorang Orientalis dari Britton (Inggris) bertemu dengan Raja Faisal, kemudian berkata :” Wahai raja Faisal, saya telah membaca Al Qur’an. Ternyata isinya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa di dalamnya, dan tidak ada kandungan sastranya”. 
Lalu Raja Faisal bertanya : “ Yang kamu baca Al-Quran terjemahan atau aslinya? 
Dia menjawab : “Terjemahannya”. 
Raja Faisal berkata : “ Oh jelas, jika engkau membaca Al-Quran terjemahan engkau tidak akan merasakan keistimewaannya. Tapi jika engkau membaca Al-Quran aslinya engkau akan mendapatkan banyak keistimewaan, apakah dia mengenai sastranya, tata bahasanya atau nahwunya dan keindahannya yang lain”

Keistimewaan Al-Qur’an sungguh sangat luar biasa. Bahkan sampai sekarang ulama masih terus menggali nilai-nilai dari Al-Qur’an. Misalnya : 

Firman Allah Shubhaanahu Wa Taala dalam surat Al-Maidah ayat 69 Dan di surat Al Baqarah Ayat 62, Firman Allah Shubhaanahu Wa Taala dalam surat Al Baqarah ayat 62 : 


kata "Wasshobiuna" pada surat al-Baqarah dan kata "Wasshobiina" di surat al-Maidah yang dinasab dengan "inna", perbedaannya penyebutan ini masih diteliti oleh ulama. Menunjukkan keluarbiasaan al-Quran. Oleh karena itu, Ia disebut mukjizat abadi, yang terus menantang orang-orang Arab yang fasih dalam bahasa Arab. 

Contoh lain dalam surat Al-Fatihah ayat 6:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”,

Dalam ayat ini kenapa tidak dikatakan   Çá   (ke) sebelum kata  "Shirata" namun didahului dengan kata "ihdina"  ini memberi makna bahwa kita bukan sekedar memohon kepada Allah  untuk menunjuki jalan, akan tetapi juga memohon agar Allah Shubhaanahu Wa Taala senantiasa menetapkan kita di atas kebenaran dalam menempuh jalan tersebut. Karena bisa saja seseorang ditunjuki jalan lurus, namun dia tidak diberi hidayah untuk berjalan di atas kebenaran yang telah di ketahuinya, dan bisa saja ia menempuh jalan yang lurus tersebut namun caranya tidak sesuai dengan sunnah atau syari’at. Demikianlah keistimewaan bahasa Arab. Nikmatnya membaca Al-Quran tidak terasa jika tidak mengerti bahasa Arab. Begitupula dengan hadits-hadits Rasulullah, syair-syair Arab serta karya para ulama, kita dapat merasakan indahnya setelah mengerti bahasa Arab. 



Artikel Pilihan : Kepada Para Pengusung Dakwah (1. BERTAQWA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA)

Series:


Kepada Para Pengusung Dakwah!


Syaikh Dr. Musnid Al Qatthani 
Wasiat bagi para da’i atau orang-orang yang berjalan di atas dakwah. 

1.  BERTAQWA KEPADA ALLAH Shubhaanahu Wa Taala
Seorang da’i harus memulai dari dirinya sendiri, yaitu mendakwahi dirinya sendiri sebelum mendakwahi orang lain. Sebab bagaimana dia akan mendakwahkan agama kepada orang lain sementara dia lalai pada dirinya. 

Allah Shubhaanahu Wa Taala berfirman : 
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS.Al Baqarah :44)

Sasaran dakwah seorang dai yang pertama terhadap dirinya, hendaklah dia berazam :“saya ingin menyelematkan diri saya dahulu”.  

Allah Shubhaanahu Wa Taala telah memerintahkan kepada para RasulNya dan orang-orang beriman untuk senantiasa memulai dakwahnya dari diri dan keluarganya.

Allah berfirman : 
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS.At Tahrim: 6)

Prioritas pertama bagi seorang da’i adalah dia berusaha menyelamatkan dirinya, penghuni rumahnya, keluarganya dari ancaman Allah . Seorang da’i tidak melupakan amalan-amalan pribadi misalnya sholat berjamaah, membaca Al Qur’an, sedekah. Sibuk berdakwah namun melupakan dirinya, keluarganya maka itu bukan dakwah tetapi syahwat atau hawa nafsu. Inilah perbedaan antara dakwah dengan hawa nafsu. 

Nabi dan Rasul adalah para da’i yang diutus oleh Allah Shubhaanahu Wa Taala untuk menyampaikan risalah agama ini. Mereka sibuk berdakwah, sibuk membina umat namun tidak melupakan diri untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Mereka bangun malam untuk sholat malam, berdoa kepada Allah  dengan (rohbah wa raghbah) harap dan cemas.

Maka begitulah seharusnya seorang da’i, sibuk mengurus umat namun tidak lupa mengurus diri sendiri. Jangan sampai karena sibuk mengurus dakwah, tapi lupa mentarbiyah diri. Sebagaimana para Nabi yang telah Allah Shubhaanahu Wa Taala utus. Mereka berdo’a kepada Allah Shubhaanahu Wa Taala pada malam hari lalu mereka sibuk mengurus umat pada siang hari.

Begitupula para imam-imam kita. Misalnya Imam Ahmad, beliau sanggup shalat (nafilah) satu hari satu malam 300 rakaat. Imam Syafi’I, beliau sanggup menghatamkan Al Qur’an sekali dalam tiga hari dan dalam bulan Ramadhan 2 kali sehari atau 60 kali dalam satu bulan, beliau bersungguh-sungguh untuk dirinya. Imam Malik, Imam Abu Hanifah mereka tekun beribadah kepada Allah  disamping beliau sibuk mengajar, dan berdakwah namun tidak lupa pada dirinya. 

Ketahuilah pintu-pintu kebaikan banyak sekali, tergantung dari pintu mana kita mau memasukinya. Ada pintu sedekah, jika ada rezki maka kita bisa masuk dari pintu  sedekah. Ada pintu sholat masuklah darinya dengan memperbanyak sholat nafilah. Ada pintu puasa dan masih banyak pintu-pintu kebaikan yang lain. Yang terpenting adalah bagaimana (meriadhoh) melatih diri dengan ibadah-ibadah untuk mendidik (mentarbiyah) diri masing-masing.




Allah Shubhaanahu Wa Taala memasukkan hamba-hambaNya kedalam Surga melalui pintu-pintu yang sesuai dengan amalan-amalan yang telah mereka kerjakan. Bagi hamba yang rajin sedekah dipanggil dari pintu sedakah. Ahli shoum ( puasa) akan dipanggil dari Arraya (pintu) ahli puasa. Ahli Jihad dipanggil dari pintu jihad. 

Para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam diberikan oleh Allah Shubhaanahu Wa Taala tingkatan-tingkatan dalam beramal. Mereka ada yang rajin berpuasa, ada yang rajin berjihad, mereka sibuk berdakwah. Dalam kesibukan tersebut mereka tidak lupa mentarbiyah dirinya. 

Maka jangan sampai ada (khalal) celah pada diri, yang bisa dimanfaatkan syetan untuk mengoda kita sebagai da’i supaya lupa memperbaiki diri. Oleh karena itu seyogyanya sebagai seorang da’i mentarbiyah dirinya dengan amalan atau ibadan-ibadah yang pintunya banyak sekali untuk menguatkan imannya.

Monday, 24 December 2012

EVERYBODY JUST HAVE A GOOD TIME (?)

Masih di Manjalara @ 7:06 pm, waktu Malaysia. GMT +8.00.

Ucapan "Merry Christmas!" "Happy Holiday" tak putus-putus dari pagi tadi.
Bunyi gelas berlaga-laga "Ka-ching" sejak makan tengahari bersama colleagues di sebuah private restaurant tengahari tadi bersambung-sambungan sehingga petang tadi antara pukul 5.00 - 6.30 petang.

Ramai colleagues ku mengambil 'half-day leave' hari ini.
Gigih nak panjat Genting Highlands katanya the whole big family celebrate Christmas Eve di sana... Ramai juga yang tanya saya "You celebrate kat mana? You ada pergi celebrate kat The Curve, Mutiara Damansara? Foresure jam giler malam ni... tengok fireworks .. "



At this time, masih ada colleagues yang baru balik beli Christmas Gifts, last minutes shopping, gigih masing-masing membalut hadiah-hadiah untuk diberi kepada sesiapa yang dimaksudkan.

Last week there was a X'mas party at private club. And there were a X'mas Gift Exchange and Lucky draw. It's a 'successful' and full of glitters event as a part of Celebrate Success culture in my workplace which held once in a quarter of year. Everybody was shuffling .. lmfao bershuffle dalam party rock anthem yang bergenre electropop seperti gangnam style....

"Party rock is in the house tonight
Everybody just have a good time
And we gonna make you lose your mind
We just wanna see ya shake that
Everyday I'm shufflin
'Shufflin', shufflin'




Hmmm... aku just buat muka separa 'cute' dengar itu semua.  Yang aku tau aku nak rest and relax ... my own way.

***   ***   ***   ***   ***   ***   ***
Ada orang, hidup tak dapat fikrah Islam. Ada orang, ada fikrah Islam, tetapi belum mampu memahamkan seluruh family members and rakan-rakan sekerja. Keluarganya, rakan-rakannya tak faham fikrah Islam, tetapi ada semangat nak tunjukkan ukhuwwah keluarga. Di sini perlunya kesabaran, hikmah, kekreatifan  dan kelenturan disamping do'a  yang tak kunjung putus asa.

Tetapi dalam bab 'orang sekadar tersilap cara nak ekspresikan kegembiraan dan hubungan erat kekeluargaan, persahabatan....

... maka hentikanlah semua tasyabbuh budaya songsang walaupun niat kita memparodi hanya untuk bergembira dan berlucu-lucu, padahal kesannya meresap pemikiran hedonisme dan jauhnya penghayatan pada nilai sopan, adab dan akhlak .

Sunday, 25 November 2012

10 Wasiat-Nasihat Luqman Al-Hakim (Berdasarkan Ayat 13, 16, 17, 18, dan 19 Surah Luqman)


* Feel Free To Click On Other Related Post:

LUQMAN AL-HAKIM [AHLI HIKMAH]





Berdasarkan al-Qur'an surat Luqman ayat 13, 16, 17, 18, dan 19, penyusun berpandangan bahwa pada ayat-ayat tersebut terdapat sepuluh (10) nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya. Adapun sepuluh nasihat tersebut adalah sebagai berikut,

nota Eva Talya Redd Rohim : Ayat dalam The Holy Qur'an Arabic Text From http://www.alislam.org/quran/ sistem penomboran bermula dengan 
Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahiim sebagai ayat no 1, oleh itu kedudukan ayat berganjak satu number dari penumberan standard)


1. Nasihat Agar Tidak Musyrik kepada Allah SWT


13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS.Luqman [31]: 13)

Yakni syirik adalah dosa yang paling besar. Sehubungan dengan hal ini, Bukhari telah meriwayatkan hadits melalui 'Abdullah ibn Mas'ud ra:

Artinya : 
"Al-Bukhari berkata, telah menerangkan kepada kami Qutaibah, (kata Qutaibah) telah menerangkan kepada kami Jarir, dari al-A'masy, dari Ibrahim, dari ’Alqamah, dari 'Abdullah ibn Mas'ud ra ia berkata, Ketika turun ayat :'Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman,' hal itu sangatlah memberatkan para sahabat, mereka berkata, 'Siapakah diantara kami yang tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kedzaliman?.' 

Maka Rasulullah SAW bersabda, 
'Sesungguhnya bukanlah demikian (pengertiannya seperti yang kalian katakan), tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Luqman: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (Bukhari jilid II : 1995 : 287).

Syirik di sini diungkapkan dengan perbuatan zalim. Mereka mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman, yakni dengan kemusyrikan.
Selanjutnya, Luqman mengiringinya dengan pesan lain, yaitu agar anaknya menyembah Allah SWT semata dan berbakti kepada kedua orang tua sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, (QS.al-Isra [17]: 23)

Artinya : "Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (Al-Qur'an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 284).

Dan memang Allah SWT sering menggandingkan keduanya dalam al-Qur'an. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 428-429).

***    ***   ***    ***    ***
Penyusun tidak memasukkan ayat 14 dan 15 dari Qur'an surah Luqman sebagai wasiat Lukman al-Hakim kepada anaknya karena memperhatikan tekstual ayat tersebut tidak menggambarkan bahwa ayat tersebut adalah ucapan Luqman kepada anaknya, walau demikian tetap kedua ayat tersebut menjadi nasihat bagi anak dari Lukman al-Hakim dan anak dari orang tua muslim lainnya.


14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [*]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS.Luqman [31]: 14) 
* Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun


15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS.Luqman [31]: 15) 

***    ***   ***    ***    ***


2. Nasihat Agar Memegang Teguh Ketauhidan


16. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[*] lagi Maha Mengetahui (QS.Luqman [31]: 16)
*Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya. 


Seandainya amal sekecil dzarrah (biji kecil) itu dibentengi dan ditutupi berada dalam batu besar yang membisu atau hilang dan lenyap di kawasan langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah SWT pasti akan membalasnya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah pasti akan membalasnya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya dan tiada sebutir dzarrah pun, baik yang ada di langit maupun di bumi, terhalang dari penglihatan-Nya. Oleh sebab itulah disebutkan oleh firman-Nya; 

Artinya : "Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS.Luqman [31]:13)
  • Lathiifun, Maha Halus pengetahuan-Nya, sehingga segala sesuatu tiada yang tersembunyi betapa pun lembut dan halusnya. 
  • Khabiirun, Maha Mengetahui langkah-langkah semut sekecil apa pun yang ada di kegelapan malam yang sangat pekat. 
(Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 428-429).

Jamaal 'Abdul Rahman mengutip pemaparan al-Qurthubi, diceritakan bahwa anak Luqman al-Hakim bertanya kepada ayahnya tentang sebutir biji yang jatuh ke dasar laut, apakah Allah mengetahuinya? Maka Lukman menjawabnya dengan mengulangi jawaban semula yang disebutkan dalam firman-Nya,(QS.Luqman [31]: 16) 


3. Nasihat Agar Mendirikan Shalat
4. Nasihat Agar Memiliki Keberanian Memerintah kepada Kebaikan
5. Nasihat Agar Memiliki Keberanian Mencegah Kemungkaran
6. Nasihat Agar Bersabar Terhadap Musibah yang Menimpa


17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS.Luqman [31]: 17)

3) al-Hakim terus-menerus memberikan pengarahan kepada anaknya dalam pesan selanjutnya. 

Artinya : "Hai anakku, Dirikanlah shalat...." (QS.Luqman [31]: 17)

'Aqimish-shalaata, dirikanlah shalat, lengkap dengan batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).

...........................................................................................................................

4) Pesan Luqman al-Hakim yang keempat adalah agar anaknya memiliki keberanian untuk memerintah manusia untuk berbuat baik. Firman Allah SWT,

Artinya : "...dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik...."  (QS.Luqman [31]: 17)

...........................................................................................................................

5) Pesan Lukman al-Hakim yang kelima adalah agar anaknya memiliki keberanian untuk mencegah orang-orang yang berada di sekitarnya berbuat kemungkaran. Firman Allah SWT, 

Artinya :"...dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar...." (QS.Luqman [31]: 17)

Terhadap pesan Luqman al-Hakim yang keempat dan kelima kepada anaknya di atas, 
Ibnu Katsir memberikan keterangan, Wa'mur bi'l-ma'ruufi wanha 'ani'l-mungkar, perintahkanlah perkara yang baik dan cegahlah perkara yang munkar menurut batas kemampuan dan jerih payahmu. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).

...........................................................................................................................

6) Pesan Lukman al-Hakim yang keenam adalah agar anaknya bersabar terhadap musibah yang menimpa. Firman Allah SWT, 

Artinya : "...dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS.Luqman [31]: 17)

Karena sesungguhnya untuk merealisasikan amar ma'ruf dan nahyi mungkar, pelakunya pasti akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh karena itulah, dalam pesan selanjutnya Lukman memerintahkan kepada anaknya untuk bersabar.

Artinya : "... Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]: 17) 

Yakni bersikap sabar dalam menghadapi gangguan manusia termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah SWT. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).

Menurut pendapat lain, Luqman memerintahkan kepada anaknya bersabar dalam menghadapi berbagai macam kesulitan hidup di dunia, seperti berbagai macam penyakit dan sebagainya, dan tidak sampai ketidak sabarannya menghadapi hal tersebut akan menjerumuskannya ke dalam perbuatan durhaka terhadap Allah SWT. pendapat ini cukup baik karena pengertiannya bersifat menyeluruh. Demikianlah menurut al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya. Menurut makna lahiriahnya, hanya Allah yang lebih mengetahui, bahwa firman-Nya;

Artinya : "... Sesungguhnya yang demikian itu...." (QS.Luqman [31]: 17) 

Isyarat yang terkandung di dalamnya menunjukan kepada sikap mengerjakan shalat, menunaikan amaar ma'ruf dan nahyi mungkar, serta bersabar menghadapi ganguan dan musibah, semuanya termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah SWT. (Jamaal 'Abdul Rahman : 2005 : 342-343).


7. Nasihat Agar Tidak Bersikap Sombong terhadap Orang Lain
8. Nasihat Agar Tidak Angkuh dalam Menjalani Hidup


18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS.Luqman [31]: 18)

7) Pesan Lukman al-Hakim yang ketujuh adalah agar anaknya jangan memalingkan muka dari manusia karena sombong, merasa diri paling tinggi derajatnya dari orang lain.

Artinya : "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)...." (QS.Luqman [31]: 18)

Ash-Sha'r artinya berpaling. Makna asalnya adalah suatu penyakit yang menyerang tengkuk unta atau bagian kepalanya sehingga persendian lehernya terlepas dari kepalanya, kemudian diserupakanlah dengan seorang lelaki yang bersikap sombong. (Sayyid Qutb : 1992 : 2790).

Ibnu Abbas ra menafsirkan firman Allah SWT, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)...." yakni janganlah engkau bersikap sombong dengan meremehkan hamba-hamba Allah dan memalingkan mukamu dari mereka bila mereka berbicara denganmu. (Ath-Thabari jilid XXI : 1988 : 74).

Makna yang dimaksud ialah hadapkanlah wajahmu ke arah mereka dengan penampilan yang simpatik dan menawan. Apabila orang yang paling muda di antara mereka berbicara denganmu, dengarkanlah ucapannya sampai dia menghentikan penbicaraannya. Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. (Jamaal 'Abdul Rahman : 2005 : 344).
...........................................................................................................................

8). Pesan Luqman al-Hakim yang kedelapan adalah agar anaknya tidak angkuh dalam menjalani hidup. 

Artinya : "...dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS.Luqman [31]: 18)

Berjalan di muka bumi dengan angkuh, ialah cara berjalan dengan langkah yang angkuh dan sombong dan enggan untuk bercampur gaul dengan orang lain (disebabkan kesombongannya itu). Cara berjalan yang maupun Khalik (Allah SWT) atapun makhluk (manusia) sama-sama tidak menyukainya. Cara berjalan yang sombong adalah indikasi akan lupa dirinya seorang hamba kepada Dzat Allah SWT (yang hanya Dia yang berhak untuk sombong). (Sayyid Qutb : 1992 : 2790).

Manusia menjalani hidup diantaranya dengan berjalan menelusuri relung-relung kehidupan setiap harinya. Lukman al-Hakim mengajarkan kepada anaknya untuk tetap tawadhu' (rendah hati) dan tidak takabbur (sombong) diantanya dengan menekankan agar dalam cara berjalan tidak berjalan dengan angkuh dan sombong.


9. Nasihat Agar Menyederhanakan Cara Berjalan
10. Nasihat Agar Melunakkan Suara


19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[*] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. 
*  Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat. 


Pesan Luqman al-Hakim yang kesembilan adalah agar anaknya menyederhanakan cara berjalan. Nasihat kesembilan ini berserta nasihat ketujuh, kedelapan dan kesepuluh adalah sama-sama menekankan untuk tidak berlaku sombong dan menanamkan sifat tawadhu' kepada anak.


Setelah Luqman al-Hakim memperingatkan anaknya agar waspada terhadap akhlaq yang tercela dengan nasihat ketujuh dan kedelapannya, dia lalu menggambarkan kepadanya akhlaq mulia yang harus dikenakannya. 

...........................................................................................................................

9)  "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan....(QS.Luqman [31]: 19)

Waqsid fii masyika, Yakni berjalanlah dengan cara jalan yang pertengahan, tidak dengan langkah yang lambat dan tidak pula dengan langkah yang terlalu cepat, namun dengan langkah yang pertengahan antara lambat dan cepat. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).

Nasihat Luqman al-Hakim yang kesembilan ini adalah sesuai dengan salah satu sifat 'Ibaadu'r-Rahmaan (hamba-hamba yang baik dari Tuhan yang Maha Penyayang). Firman Allah SWT;

Artinya : "Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (Al-Qur'an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 365).

...........................................................................................................................

10) Nasihat Luqman yang terakhir kepada anaknya yang terdapat dalam Qur'an surahLuqman adalah agar anaknya melunakkan suara dalam berbicara dengan orang lain. 

Artinya : "...Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS.Luqman [31]: 19)

Menurut Ibnu abbas ra, waghdud min shautik, yakni rendahkanlah suarmu dan janganlah bersuara dengan keras (tanpa alasan yang baik). (Al-Fairuzabadi : tt : 345).

Menurut al-Maraghi, waghdud min shautik, yakni kurangilah dari nada suara dan ringkaslah dalam berbicara, dan janganlah meninggikan suaramu ketika tidak ada keperluan apapun untuk meninggikannya, karena hal itu adalah tindakan yang dipaksakan oleh yang berbicara dan dapat mengganggu diri dan pemahaman orang lain. (Al-Maraghi : 1974 : 86).


...........................................................................................................................

.+Credits to: Hanafi Anshory Ibnu Muharram

"Studi Analisa Sepuluh Nasihat Lukman al-Hakim kepada Anaknya sebagai Dasar Pendidikan Islam". Penulis mengangkat permasalahan ini dengan harapan dapat mengingatkan umat Islam akan pentingnya pendidikan Islam melalui penerapan sepuluh nasihat Lukman al-Hakim kepada anaknya sebagai dasar pendidikan Islam.

.