Showing posts with label Suri Tauladan. Show all posts
Showing posts with label Suri Tauladan. Show all posts

Sunday, 27 January 2013

BERTASAWWUF YANG BENAR


Dua orang ulama besar pernah hidup pada satu zaman. Keduanya dikenal sebagai ahli fiqih dan sekaligus ahli ma'arifat. Yang satu bernama Syeikh Sufyan Al-Tsauri. Ia dikenal sebagai pendiri mazhab fiqih besar di zamannya; tetapi dalam perkembangan zaman, fiqihnya kalah popular dibandingkan dengan fiqih-fiqih yang lain, satunya lagi adalah Imam Ja’afar Al- Shadiq, salah satu di antara “bintang” cemerlang dalam silsilah tariqat.
Pada suatu hari Syeikh Sufyan Al-Tsauri. mendatangi Imam Ja’afar Al-Shadiq dan di dapatinya Imam Ja’afar dalam pakaian yang indah gemerlap, hingga tampak bagi Al-Tsauri sangat mewah. Dia merasa, Imam yang terkenal sangat salih dan zahid, tidak pantas untuk memakai pakaian seperti itu. Dia berkata, “Busana ini bukanlah pakaianmu!”. 
Imam Ja'afar Al-Shadiq membalas ucapan Al-Tsauri dengan berkata: 
“Dengarkan aku dan semak apa yang akan aku katakan padamu. Apa yang akan aku ucapkan ini, baik bagimu sekarang dan pada waktu yang akan datang, jika kamu ingin mati dalam sunnah dan kebenaran, dan bukan mati di atas bid’ah.
Aku beritakan padamu, bahwa Rasulullah saw hidup pada zaman yang sangat miskin. Ketika kemudian zaman berubah dan dunia datang, orang yang paling berhak untuk memanfaatkannya adalah orang-orang salih, bukan orang-orang yang durhaka; orang-orang mukmin, bukan orang-orang munafik; orang-orang Islamnya bukan orang-orang kafirnya. Apa yang akan kau ingkari, hai Al- Tsauri? Demi Allah, walaupun kamu lihat aku dalam keadaan seperti ini sejak pagi hingga sore, jika dalam hartaku ada haq yang harus aku berikan pada tempatnya, pastilah aku sudah memberikannya semata-mata karena Allah.”


Pada saat itu datanglah rombongan orang yang 'bergaya sufi'. Mereka mengajak orang banyak untuk mengikuti kehidupan mereka yang sangat sederhana. Mendengar ucapan Imam Ja’afar, mereka berkata, “Tampaknya sahabat kami ini tidak mampu membalas pembicaraan Tuan dan tidak dapat menyampaikan hujah.” 
Imam Ja’far berkata, “Tunjukkan hujah kalian.” 
Mereka menyahut, “Kami punya hujah dari Kitab Allah.” 
Kata Imam, “Tunjukkan dalil-dalilnya, kerana Kitab Allah lebih wajib untuk diikuti dan diamalkan.berbanding selainnya” 
Mereka berkata, “Allah swt mengkhabarkan sekelompok sahabat Nabi saw: di dalam kitab-Nya; Dan mereka mendahulukan orang-orang lain di atas diri mereka sendiri sekali pun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu; siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr; 9) Allah memuji mereka. Kemudian Allah berfirman dalam ayat yang lain; Mereka memberikan makanan yang mereka cintai kepada orang miskin, yatim, dan tawanan. Cukuplah bagi kami semua keterangan ini.”
Di antara yang hadir dalam majelis itu ada seseorang yang segera membidas, “Kami tidak melihat kalian (dengan maksud orang yang 'bergaya sufi' itu) menahan diri untuk tidak makan makanan yang baik. Malahan kalian memerintahkan orang lain untuk mengeluarkan harta mereka supaya kalian bersenang-senang dengan memanfaatkan harta mereka.” 
Imam berkata pada orang itu, “Tinggalkan olehmu apa yang tidak bermanfaat bagi kamu.” 
Setelah itu Imam berkata kepada mereka yang menyampaikan dalil-dalil dari Al- Quran itu, “Hai saudara-saudara, ceritakan kepadaku apakah kalian tahu nâsikh-mansûkh dalam Al-Quran, muhkam dan mutasyâbih-nya? Karena di sinilah umat ini banyak yang tersesat atau binasa.” 
Mereka menjawab: “Sebagian memang kami ketahui. Tetapi sebagian yang lain tidak.”
Dengan bertanya seperti itu, Imam Ja’afar bermaksud untuk mengajarkan mereka untuk berhati-hati menafsirkan Al-Quran, tanpa bantuan ilmu yang memadai. Karena di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang berlaku dalam konteks tertentu tetapi tidak pada konteks yang lain (nâsikh-mansûkh). Di dalamnya juga ada yang sangat jelas maknanya dan ada yang sekilas tampak ambigu (muhkam mutasyâbih). 
Setelah itu, Imam Ja’afar berkata: 
“Apa yang kalian sebut sebagai keterangan dari Al-Quran tentang orang yang mendahulukan orang lain, walaupun diri mereka dan keluarga mereka kepayahan, perbuatan mereka itu hanyalah hal yang diperbolehkan bukan hal yang dilarang. Mereka mendapat pahala di sisi Allah. (Tidak ada perintah untuk melakukan perbuatan seperti itu. Mereka boleh saja melakukan hal demikian). Tetapi Allah setelah itu memerintahkan mereka untuk melakukan hal yang bertentang dengan apa yang mereka lakukan. Perintah Tuhan itu menjadi nâsikh (menghapuskan) bagi perbuatan mereka.
Allah melarang mereka untuk berbuat demikian sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada kaum mukmin. Supaya mereka tidak menyengsarakan dirinya dan keluarganya. Mungkin ada di antara mereka anak-anak kecil yang lemah, anak-anak, orang tua renta, orang yang sudah sangat tua yang tidak sanggup lagi menahan lapar. Jika aku menyedekahkan makananku kepada orang lain, padahal padaku tidak ada lagi makanan selain itu, pastilah semua keluargaku ditelantarkan dan binasa dalam keadaan lapar."

Karena itulah Rasulullah saw bersabda: 
"Jika ada lima butir kurma atau lima dinar atau dirham yang dimiliki seseorang, kemudian ia ingin mengekalkan wang itu, maka yang paling utama ialah ia memberikannya kepada kedua orangtuanya, kemudian kepada dirinya dan keluarganya, kemudian kepada kerabat dan saudaranya kaum muslim, kemudian kepada tetangganya yang miskin, dan terakhir pada ranking kelima, ia mensedekahkannya di jalan Allah."
Seorang Anshar memerdekakan lima atau enam orang budak sebelum matinya, padahal ia tidak punya harta lain selain itu. Ia meninggalkan anak-anak kecil. Nabi saw pernah berkata kepada sahabatnya: 
‘Sekiranya kalian memberitahukan kepadaku keadaan dia, aku tidak akan membiarkan kalian menguburkannya di pekuburan muslimin. Ia menelantarkan anak-anak kecil dan membiarkan mereka mengemis kepada orang lain.’ 
Kemudian Imam berkata: ‘Ayahku menyampaikan kepadaku dari Nabi saw bahwa ia bersabda; 
' Mulailah dari tanggunganmu yang paling dekat, kemudian yang paling dekat, dan seterusnya! '
Kemudian, inilah yang difirmankan dalam Al-Quran, yang menolak argumentasi kalian dan diwajibkan kepada kalian oleh Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana; 
" Dan orang-orang yang apabila membelanjakan hartanya, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan; 67). 
Tidakkah kalian perhatikan bahwa Allah mengecam orang yang berlebih-lebihan dalam menginfakkan hartanya? Pada ayat lain Allah swt berfirman, 
“Sesungguhnya Ia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-An’am; 141, QS. Al-A’raf; 31). 
Tuhan melarang mereka berlebihan dan melarang mereka kedekut. Yang benar itu ialah yang berada di tengah-tengah. Seseorang tidak boleh memberikan seluruh hartanya, lalu setelah itu, ia berdoa agar Tuhan memberinya rezeki. Doa seperti itu tidak akan dikabulkan.
Rasulullah saw bersabda: 
Ada beberapa kelompok dari umatku yang doanya tidak akan dikabulkan; Doa seorang anak yang disampaikan untuk mencelakakan orang tuanya, doa seseorang untuk mencelakakan pengutangnya padahal ketika ia membuat transaksi tidak ada saksi, doa seorang lelaki untuk mencelakakan isterinya padahal Allah sudah menyerahkan tanggungjawab memelihara isteri itu di tangannya, dan doa seseorang yang duduk di rumah lalu ia tidak henti-hentinya bermohon: ‘Tuhanku berilah rezeki padaku’; kemudian ia tidak keluar rumah untuk mencari rezeki. 
Allah swt akan berkata kepadanya: ‘Wahai hamba-Ku, bukankah Aku sudah memberi jalan bagimu untuk mencari rezeki dan berusaha di bumi dengan modal tubuhmu yang sihat? Supaya kamu tidak bergantung pada orang lain. Jika Aku kehendaki, Aku akan memberi rezeki. Jika Aku kehendaki, Aku batasi rezeki kamu. Dan alasanmu Aku terima.’
“Selain itu, doa orang yang tidak akan Aku dengar adalah doa seseorang yang mendapat rezeki yang banyak dari Allah swt. Ia mengeluarkan semuanya kemudian ia kembali sambil berdoa: ‘Ya Rabbi, berilah aku rezeki’. 
Tuhan berfirman: ‘Bukankah Aku telah memberimu rezeki yang banyak. Kenapa kamu tidak berhemat seperti yang Aku perintahkan? Mengapa kamu berlebih-lebihan seperti yang Aku larang?’ 
Kemudian terakhir, doa yang tidak akan didengar Tuhan adalah doanya orang yang memutuskan silaturahim.’
Allah mengajari Nabi-Nya bagaimana cara berinfaq. Di suatu hari, pada diri Rasulullah saw ada beberapa wang emas. Ia tidak ingin tidur bersama wang itu. Kemudian ia mensedekahkannya. Pagi hari ada seseorang yang datang meminta bantuan kepadanya. Tapi Rasulullah tidak punya apa pun. Peminta itu kecewa karena Nabi saw tidak membantunya. Rasulullah saw juga berduka cita karena tidak dapat memberinya apa pun, padahal Nabi saw adalah orang yang sangat santun dan penuh kasih. Allah swt lalu mendidik beliau dengan firman-Nya: 
Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu di kudukmu, jangan juga engkau buka selebar-lebarnya, nanti kamu duduk dalam keadaan menyesal dan rugi (QS. Al-Isra 29).”
Sufyan Al-Tsauri, boleh dikatakan, mewakili pandangan sekelompok orang yang meyakini bahwa kesucian harus dicapai dengan mengorbankan segala-galanya, meninggalkan pekerjaan, memberikan seluruh harta, meninggalkan keluarga, mengasingkan diri, dan menjauhkan diri dari dunia. Konon, kerana cinta dunia itu sumber segala kejahatan, akhirnya mereka memilih untuk membenci dunia.
Mujahadah dan Riyadhah.gaya Al-Tsauri, tidaklah boleh dikatakan salah, kerana memang ada segolongan orang yang disebabkan  'kondisi tertentu harus menjalani model itu', tetapi tidak dapat diterapkan sepenuhnya kepada semua orang, kerana jika demikian, siapakah di antara kita yang harus membayar zakat, melakukan ibadah haji, mengurus orang yang lemah, membiayai pendidikan, melakukan penelitian ilmiah dan sebagainya ? 
Hanya melihat kehidupan tasawuf model ini, boleh melahirkan pendapat yang keliru dalam memandang tasawwuf dan kehidupan Sufi yang oleh sebagian penentangnya, dikaitkan dengan identiti kemiskinan, kelusuhan, dan bahkan kekotoran. Boleh membuat orang takut belajar tasawwuf dan menjalani kehidupan sufi kerana khuatir menjadi miskin.
Imam Ja’afar menunjukkan dengan argumentasi yang sangat fasih, bahwa tasawwuf sejati tidak demikian. Ia menjelaskan bahwa kemiskinan yang disamakan dengan kesalihan berasal dari kekeliruan dalam memahami Al-Quran dan hadith. 
Tasawuf sejati bukan tidak memiliki dunia tetapi tidak dimiliki dunia. Sufi bukan berarti tidak mempunyai apa-apa, tetapi tidak dipunyai apa-apa.( Laisa Zuhud bian La tamlika Syaian , Innama Zuhud an laa yamlikaka dzalikas syaik), seperti hal ini ditegaskan oleh Imam Abil Hasan Ali Assadzili
Seorang sufi boleh saja, malah mungkin harus, memiliki kekayaan yang banyak; tetapi ia tidak akan melupakan kewajiban diri maupun hartanya, dalam meraih dan mengagihkannya dan dia tidak meletakkan kebahagiaan pada kekayaannya. Hatinya tidak bergantung pada harta dan kekayaannya melainkan kepada ALLAH yang memberinya anugerah harta dan kekayaan itu.dan kepadanya sepenuhnya ia bersujud dan menumpahkan puji syukur.
Update : 14 / Oktober / 2005
Edisi 16 Th. 2-2005M/1426H
+Credits to: almihrab.com

Sunday, 30 December 2012

PESANAN SAYYIDINA 'UMAR AL-KHATTAB R.A.


1.
Siapa yang menjaga percakapannya dianugerahkan kepadanya hikmah.
Siapa yang menjaga penglihatannya dianugerahkan kepadanya hati yang khusyuk.
Siapa yang menjaga makanannya dianugerahkan kepadanya kelazatan dalam beribadah.
Siapa yang bersabar di atas ujian, Allah sempurnakan sabarnya lalu memasukkannya ke dalam Syurga mana yang dia suka.
Siapa yang menjaga daripada ketawa dianugerahkan kepadanya kehebatan.
Siapa yang menjaga daripada bergurau dianugerahkan kepadanya keelokan atau kemuliaan.
Siapa yang meninggalkan cinta dunia dianugerahkan kepadanya dapat melihat kesalahan sendiri.
Siapa yang meninggalkan kesibukan mencari kesalahan pada perbuatan Allah, dianugerahkan kepadanya pelepasan daripada nifak.





2. Jika tidaklah kerana takut dihisab sesungguhnya aku perintahkan kamu membawa seekor kambing untuk dipanggang di depan pembakar roti ini.


3. Siapa takut kepada Allah SWT, nescaya marahnya tidak dapat dilihat. Dan siapa takutkan Allah, kehendaknya akan ditunaikan.


4. Wahai Tuhan, jangan Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad SAW di tanganku.




5. Termaktub dalam sepucuk surat khalifah Umar kepada Abu Musa Al Asyaari:


“Milikilah sifat sabar. Sifat sabar itu ada dua. Sabar yang pertama lebih afdhal dari sabar yang kedua iaitu sabar dalam meninggalkan larangan Allah SWT dan sabar dalam menghadapi musibah. Ketahuilah bahawa sabar itu sangkutan iman (orang yang bersabar akan mendapat iman) kerana kebajikan yang paling utama adalah taqwa dan taqwa hanya dapat dicapai dengan sabar.”


.

Friday, 23 November 2012

Kisah Taubat Para Wali (iii) : KISAH ABID & PELACUR BERNAMA AL-MALIKAH YANG BERTAUBAT [Bani Israel]

KISAH ABID & PELACUR YANG BERTAUBAT:
-------------------------------------------------


Diceritakan pada suatu masa dahulu terdapat seorang wanita yang sangat cantik rupa parasnya. Dia berketurunan Bani Israel yang kerjanya menjadi primadona
 dan pelacur kelas atas. Namanya Al-Malikah berketurunan bangsawan. Bayaran yang ia peroleh juga cukup tinggi. Kemewahan dan kekayaan yang dimilikinya adalah hasil daripada pekerjaan terkutuk itu. Pintu rumahnya akan sentiasa terbuka bagi memberi ruang kepada kaum lelaki melihat keseksian dirinya, apa sahaja akan dilakukan bagi menarik perhatian orang yang melalui rumahnya. Dengan memiliki rupa paras yang cantik sudah cukup untuk menambat hati kaum lelaki. Apatah lagi jika dia berpakaian seksi dan menjolok mata.
------------------------
Justeru itu, sesiapa yang bertuhankan nafsu, maka wanita inilah dijadikan tempat untuk melepaskan hajatnya. Segala yang dilakukan oleh wanita ini adalah dengan kerelaan dan kehendak dirinya sendiri. Dia memiliki beberapa orang pembantu bagi menguruskan pelanggannya yang datang silih berganti. Dia sedikit pun tidak merasa berdosa dengan apa yang dilakukannya pada ketika itu. Hatinya cukup senang dan puas bila mendapat pendapatan lumayan. Kecantikannya sangat terkenal sehingga banyak pemuda yang menyukainya. 
------------------------
Pada suatu hari seorang pemuda abid beriman melalui rumah wanita tersebut. Walaupun dia seorang lelaki beriman, akan tetapi dia juga manusia biasa yang memiliki hawa nafsu dan keinginan syahwatnya seperti manusia lain juga. Pemuda abid itu sungguh terpesona dengan kecantikan dan tingkah laku mengghairahkan yang ditunjukkan wanita tersebut. Hatinya mula memberontak dan terpedaya dengan pujuk rayu syaitan serta hawa nafsunya. Lantas Keimanan yang dipeliharanya selama ini mula tergugat dan hancur berkecai. Namun demikian, pemikirannya masih waras lalu dia berdoa kepada Allah agar dia dapat mengawal perasaannya yang bergelora hebat ketika itu. "Ya Allah, Ya Tuhanku. Tenangkanlah perasaanku ini. Jauhilah aku daripada maksiat dan dosa. Tunjukkanlah aku ke jalan yang benar.”
------------------------
Nafsu dan imannya berperang hebat di dalam dirinya. Imannya menasihati supaya menjauhkan diri daripada wanita tersebut, tetapi nafsu dan syaitan memujuk rayu supaya mendekatinya. Sebelum ini dia tidak pernah diuji dengan ujian sehebat ini. Akhirnya nafsu berahi memuncak. Dia tidak dapat lagi mengawal perasaan dan kemahuan nafsunya. 
------------------------
Abid sebenarnya pemuda miskin yang taat ibadah. Namun kepopuleran paras cantik Al-Malikah di seantero negeri rupanya telah menggoda keimanan sang pemuda untuk mencoba menikmati kecantikan Al-Malikah. Fikirannya melayang-layang memikirkan keseronokan dan kenikmatan bersama wanita itu. 
Sayangnya, Abid seorang yang miskin dan tidak mempunyai wang yang cukup untuk mendapatkan khidmat Al-Malikah. Untuk bisa bertemu Al-Malikah, Abid harus mengeluarkan biaya sebesar 100 dinar.
------------------------
Lalu dia mendekatinya untuk berbincang mengenai bayarannya. Sedangkan pada waktu itu dia tidak memiliki wang walau sedirham untuk diberikan kepada pelacur itu. Setelah perbincangan selesai, dia pun berusaha mendapatkan kos bayaran.Oleh kerana besarnya wang bayaran itu jadi abid terpaksa menjual bekerja sekuat tenaga untuk mengumpulkan uang.

Disebabkan nafsu Abid yang meluap-luap itu membuatkan hati Abid tergila-gila, dikerah tenaganya untuk mengumpul wang sebanyak yang diperlukan. “Primadona itu harus berada dalam dakapannya,” bisik hati kecilnya.
Dia ingin bertemu dengan 'pujaan' hatinya. Setelah uang terkumpul, datanglah Abid menemui Al-Malikah. 
------------------------
Apabila telah mencukupi wang, dengan berbekalkan 100 dinar, pergi ke rumah pelacur tersebut dan mereka berbincang untuk menentukan bilakah masa yang sesuai untuk bersama wanita tersebut. Apabila tiba masa dan waktu yang dijanjikan, dia sekali lagi datang dengan hati yang sangat gembira. Abid datang menemui Al-Malikah pujaannya. “Silakan masuk,” pelawa Al-Malikah dengan manisnya. Mendengar sapaan pujaannya itu, Abid melangkahkan
------------------------
Dia mendapati wanita tersebut sudah bersedia menunggu kedatangannya dengan senyuman manis terukir diwajahnya. Wangi-wangian yang dipakai semerbak harumnya sehingga menusuk masuk ke dalam hidung menyebabkan dia tidak sabar lagi untuk duduk bersama dengan wanita tersebut. Apabila semuanya telah sedia, lelaki beriman itu duduklah berdekatan dengannya. Lalu dia menghulurkan tangannya untuk bersalam-salaman sebelum bersama wanita itu. 
------------------------
Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Pada waktu itu, dia teringatkan pembalasan dari Tuhannya dan bahawa sesungguhnya Allah itu Maha Melihat dan Maha Mengetahui perbuatan hamba-hambaNya sama ada di tempat sunyi atau terang sama ada perkara yang dilakukan itu baik atau maksiat. Di kala itu dia tidak dapat menahan perasaan takutnya kepada Allah.
------------------------
Gementarlah seluruh anggota badannya. Fikirannya menjadi berkecamuk dan tidak menentu. Wajahnya serta merta menjadi pucat lesi kerana menyesal dengan perbuatan dosa yang igin dilakukannya. Dia merasa azab seksa menimpa dirinya. Keinsafan dan kesedaran yang teramat sangat menyebabkan hatinya begitu resah dan kecewa kerana terpedaya dengan godaan syaitan dan nafsu. Walau apapun yang difikirkannya, namun keadaan tidak akan dapat mengubah segala-galanya yang telah berlaku.
------------------------
Akan tetapi, apa yang terjadi tiada siapa yang dapat menduganya. Ketika Abid telah berada di hadapan Al-Malikah, tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Keringat bercucuran keluar dari sekujur tubuhnya. Yang terjadi, sang pemuda justru ingin lari dari tempat itu. Al-Malikah malah menjadi heran dengan tingkah Abid yang mendadak berubah. 
Malah ketika pelacur itu memeluknya, Abid berusaha melepaskan diri sambil berteriak.. Ketika Al-Malikah sudah berada di depannya, Abid justru teringat akan Rabb-nya.
------------------------
"Apakah yang menyebabkan tiba-tiba sahaja muka tuan berubah seperti orang dalam ketakutan? Adakah hamba tidak melayan tuan hamba dengan baik? Atau apakah yang menggangu fikiran tuan di waktu ini?" Tanya pelacur tersebut kehairanan apabila lelaki beriman itu menjauhkan diri daripadanya secara tiba-tiba. 
------------------------
“Mengapa tuan tiba-tiba menjadi begini?” tanya Al-Malikah.
"Aku takut kepada Allah, bagaimana aku mempertanggungjawabkan perbuatan maksiat ku nanti," kata Abid.
------------------------
Pemuda abid itu berkata: "Sesungguhnya aku takut kepada azab dan balasan Allah, sebab itulah seluruh anggota ku gementar dan muka ku pucat. Oleh itu izinkan ku keluar dari tempat ini. Aku tidak mahu menurut hawa nafsu dan syaitan. Aku menyesal di atas kelalaian ini dan ingin bertaubat seta memohon ampun kepada Allah."
------------------------
"Apakah tuan belum pernah melakukan perkara seperti ini sebelum ini?" tanya wanita itu. 
------------------------
"Sesungguhnya ini pertama kali aku terpedaya dengan pujukan hawa nafsu dan syaitan. Sebelum ini aku tidak pernah terfikir untuk terjebak dengan perbuatan yang berdosa dan haram ini. Aku adalah seorang manusia yang sentiasa mendekatkan diri kepadaNya. Jadi aku telah dilalaikan oleh pujukan hawa nafsu dan syaitan." Jawab lelaki beriman dengan perasaan sebak dan menyesal.
------------------------
Mendengarkan jawapan itu, terpegun Al-Malikah di katilnya. Nuraninya tersentuh oleh sikap lelaki yang berdiri dekatnya. Suatu peristiwa aneh yang tidak pernah dialaminya sebelum ini. Tanpa disedarinya, air matanya mengalir di pipi. Terbayang olehnya sejuta dosa yang menyelubunginya sebagai perempuan murahan lagi hina.
------------------------
Ucapan Abid yang spontan malah membuat Al-Malikah terkejut. Entah bagaimana, ucapan Abid seakan menjadi wasilah yang memberi kesadaran kepada Al-Malikah. Di luar dugaan, hati Al-Malikah tersentuh oleh ucapan Abid yang polos itu. 
------------------------
"Sungguh mulia hati orang beriman ini. Imannya sangat kuat dan tebal. Belum sempat dia melakukan apa-apa, dia sudah merasa bersalah dan berdosa.." Bisik hati kecil pelacur itu. "Sesungguhnya orang ini baru pertama kali ingin melakukan dosa, tetapi sudah merasa takut kepada Allah, sedangkan aku ini telah berbuat dosa bertahun-tahun lamanya, tidak pernah merasa berdosa dan takut kepada Allah. Padahal Tuhannya adalah Tuhan aku juga. Sepatutnya akulah yang lebih takutkan Allah di atas segala yang telah aku lakukan selama ini." Bisik hati kecilnya.
------------------------
Abid pun lantas pergi menjauh meninggalkan Al-Malikah. Kakinya langsung berjalan seribu langkah. Namun tanpa diduga, belum jauh Abid meninggalkan tempat itu, Al-Malikah mengejar dan menghentikan langkah Abid. Al-Malikah mencegah Abid. Tapi bukan untuk memaksa Abid untuk berzina. Yang dilakukan Al-Malikah justru meminta Abid menikahinya.
------------------------
Perempuan itu tiba-tiba menangis di depan Abid, sambil memohon-mohon. Tentu saja kini giliran tingkah Al-Malikah yang membuat heran Abid. Bahkan dengan nada mengancam, Al-Malikah tidak akan melepaskan langkah Abid sebelum pemuda itu benar-benar berjanji menikahinya. Keteguhan iman sang pemuda rupanya telah menawan hati Al-Malikah.
------------------------
“Aku tertarik kepadamu. Jadikanlah aku isterimu” kata Al-Malikah tersedu-sedu. “Tidak! Aku akan meninggalkan tempat ini” jawab Abid. “Jangan pergi! kecuali engkau berjanji akan mengahwiniku.” “Baiklah,” ujar Abid singkat sambil meninggalkan bilik maksiat itu.
------------------------
“Lepaskan aku, ambillah wang 100 dinar ini,” sambil dia bangkit dari katil pelacur itu
------------------------
Kata-kata keimanan yang keluar dari mulut Abid benar-benar telah membuka hati, mata dan pikiran sang wanita. Sebaik sahaja Abid meninggalkan bilik, pelacur bernama Al-Malikah ini sudah bertekad akan meninggalkan maksiat itu untuk selama-lamanya. Dia sudah menyesal dan ingin bertaubat. 
------------------------
Semenjak dari peristiwa itu, timbul keinsafan dan penyesalan. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahawa dia akan meninggalkan perbuatan terkutuk itu buat selama-lamanya. Mulai daripada hari itu, dia menutup pintu rumahnya. Dengan tekad dan azam, dia berjanji akan menjauhkan dirinya daripada melakukan maksiat. Dia merasa terhutang budi kepada lelaki beriman tersebut kerana mengajarnya erti iman dan takwa kepada Allah. Mulai daripada hari itu, perangai dan perilakunya serta merta berubah. Dia telah mulakan satu cara hidup baru yang lebih baik. 
------------------------
Usai pertemuan yang awalnya untuk bertransaksi maksiat kepada Allah itu, Al-Malikah bertekad untuk memperbaiki diri dan segera keluar 'lembah hitam' pekerjaannya. Tujuannya tak lain, menyempurnakan benih iman yang mulai tumbuh karena disiram ucapan sang pemuda. Setelah sekian lama mengasingkan diri dan hanya beribadat kepada Allah, pada suatu hari timbul perasaan ingin berjumpa lelaki beriman yang telah menyedarkannya.
------------------------
Al-Malikah akhirnya melangkah keluar untuk mencari Abid, lelaki yang telah menyedarkan dirinya dari lumuran dosa dan maksiat. 
------------------------
Dia berkata dalam hatinya: "Alangkah baik jika aku dapat berjumpa dengan lelaki itu, manalah tahu dia ingin berkahwin dengan aku. Jika dia ingin menjadikan aku isterinya, dapatlah aku mempelajari dan mendalami agama dengan lebih mendalam lagi."
------------------------
Dia pun mencari sang pemuda hingga ke pelosok. Bertahun-tahun Al-Malikah berjalan keluar masuk kampung hanya untuk mencari sosok pemuda teguh iman yang pernah ditemuinya itu. Al-Malikah menuju ke negeri tempat tinggal Abid dengan penuh debaran. Apabila dia sampai di rumah lelaki beriman itu, keluarlah lelaki itu untuk mendapatkan tetamu yang datang. 
------------------------
Apabila dia melihat lelaki beriman di adapannya, dia pun membuka tudung yang menutupi wajahnya supaya dapat dikenali oleh lelaki itu. Tetapi alangkah malang nasib wanita itu apabila lelaki itu terpandang wajahnya, lelaki itu teringat perbuatan jahatnya dahulu. Sebaliknya setelah bertemu, Abid kelihatan ketakutan. Lantaran Belum sempat wanita itu menerangkan tujuan kedatangannya, ketakutan yang mendadak dan keterlaluan telah menyebabkan pemuda abid itu menjerit sekuat hati sehingga pengsan lalu meninggal dunia.. Kejadian itu membuatkan wanita itu sedih. Menangislah Al-Malikah menyaksikan lelaki pujaannya meninggal dunia sebelum sempat berkahwin dengannya. 
------------------------
"Aku ke sini semata-mata untuk berjumpa dan menerangkan keadaan diriku yang telah berubah, tapi belum sempat aku menceritakannya dia mati kerana melihatku. Mungkin kerana dia terlalu takut kepada Allah. Mungkin juga dia menyangka aku masih lagi seorang pelacur dan mungkin dia teringatkan dosanya yang telah lalu. Jadi alangkah berdosanya aku kerana telah menyebabkan kematiaannya." 
------------------------
Wanita itu merasa amat bersalah. Justeru dia bertanya dan mencari sama ada lelaki beriman yang telah meninggal dunia itu mempunyai saudara, adik beradik atau keluarga terdekat. Dia ingin menjadi isteri kepada saudara lelaki beriman itu. Dia mendapat tahu lelaki beriman itu mempunyai saudara yang soleh dan taat. Akan tetapi dia sangat miskin. 
------------------------
“Gagal berkahwin dengan Abid, dapat saudaranya pun tidak mengapa!” Pinta Al-Malikah dengan dorongan ingin menebus dosanya selama ini.
------------------------
Seorang teman Abid memberitahu bahawa saudara Abid adalah seorang lelaki yang miskin. Dia khuatir Al-Malikah akan menyesal nanti. “Biarlah dia miskin. Aku tetap ingin berkahwin dengannya sebagai memenuhi rasa cintaku terhadap saudaranya,” kata Al-Malikah. 
------------------------
Tekadnya sudah bulat, memperbaiki diri dan keimanannya. Karena tekadnya itu, Al-Malikah lalu berniat menikahi saudara Abid. Dalam pandangannya, jika ucapan dan perilaku Abid dapat mempengaruhi dirinya, apalagi terhadap saudaranya yang lebih dekat itu. Pastilah, menurut Al-Malikah, saudara Abid juga memiliki keteguhan iman yang tak kalah kokohnya dengan Abid.
------------------------
Wanita itu merasa sangat sedih dan berkata, “Aku datang ke mari semata-mata kerananya. Sekarang dia sudah mati. Adakah kaum keluarganya yang sanggup berkahwin denganku?”
------------------------
Jawab orang yang ada di situ, “Ada, dia ada seorang saudara yang soleh tetapi tidak mempunyai apa-apa dan sangat miskin.”
------------------------
Wanita itu mengatakan. "Sesungguhnya aku mempunyai harta yang mencukupi untuk keperluan hidup berumah tangga. Harta dan kekayaan bukanlah menjadi pilihanku."
------------------------
Ternyata saudara Abid menerima permintaan dari sang wanita paras cantik ini. Keduanya pun menikah, meskipun sebenarnya Al-Malikah tahu jika baik Abid maupun saudaranya adalah pemuda miskin. Bagi Al-Malikah yang sudah bertekad kuat, hal itu bukan penghalang. Iman di hati yang telah disiram Abid kini menjadi kekayaannya yang baru.
------------------------
Karena kekayan iman baginya lebih besar dari sekadar kekayaan duniawi. . Jadilah Al-Malikah bekas pelacur yang insaf. Setelah diadakan perbincangan, akhirnya dia berkahwin dengan saudara lelaki beriman. Dia berkahwin dengan lelaki miskin. Allah telah membuka hati wanita itu dengan taufiq dan hidayahNya. Maka, berbahagialah Al-Malikah seorang bekas Primadona bersama suaminya yang tercinta.
------------------------
Al-Malikah lalu hidup berbahagia dengan lelaki saleh, saudara Abid. 
------------------------
.Setelah beberapa tahun Allah mengurniakan mereka tujuh orang anak. Hasil perkahwinan dengan saudara si abid yang soleh lagi alim itu mereka dikurniakan mendapat tujuh orang anak laki-laki yang mana kesemuanya menjadi nabi-nabi kepada kaum Bani Israil.
------------------------
Dikhabarkan, Al-Malikah menjadi salah seorang perempuan bani Israil calon penghuni syurga.

.

Friday, 5 October 2012

Keyaqeenan & Keras Hati = Tawakkal


Dalam bab Karektor dan Keistimewaan Aisyah, Sulaiman An-Nadawi dalam karyanya bertajuk Aisyah: Keanggunan Sebenar menceritakan salah satu perwatakan Aisyah yang menarik perhatianku, ‘Maruah serta Keras Hati’. Begini penulis menceritakan sebagai membuktikan sikap ini terbentuk dalam diri wanita unggul itu:

Walaupun Aisyah adalah wanita yang rendah hati, namun dalam hal tertentu beliau agak keras hati. Beliau tidak suka hidup di bawah telunjuk orang lain. Kadang-kadang sifat keras hatinya ditunjukkan dengan sikap merajuk kepada suaminya.

Seperti dalam peristiwa fitnah haditsul ifki, Aisyah berkeras enggan pergi kepada suaminya walaupun wahyu berkenaan kesucian dirinya sudah diturunkan. Ucapan pertama yang keluar daripada pesuruh Allah adalah,“Bergembiralah, wahai Aisyah! Allah sudah membebaskanmu daripada segala tuduhan”.

Ayat 11 surah an-Nuur yang menegaskan kesuciannya adalah seperti berikut, “Sesungguhnya orang yang membawa berita yang dusta itu adalah segolongan daripada kalangan kamu; Janganlah kamu menyangka (berita yang dusta) itu buruk bagi kamu, bahkan ia baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang antara mereka akan mendapat hukuman sepadan dengan kesalahan yang dilakukannya, dan orang yang mengambil bahagian besar dalam menyiarkannya antara mereka, akan beroleh seksa yang besar (di dunia dan di akhirat)”.

Selepas ayat itu diwahyukan, ibu Aisyah menyuruhnya pergi kepada Nabi Muhammad.

Aisyah enggan lalu menjawab, “Demi Allah, saya tidak akan mendatangi beliau. Hanya Allah yang saya puji kerana Dialah yang menurunkan wahyu dan membebaskan diriku daripada segala tuduhan”.

Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Hibban mengisahkan, “Aisyah akan bersumpah dengan ‘Demi Tuhan Muhammad’, tetapi lain halnya semasa merajuk. Semasa merajuk, beliau biasanya bersumpah dengan kata, ‘Demi Tuhan Ibrahim’ ”.

Walau bagaimanapun, sikap keras hati dan ucapannya semasa merajuk itu adalah dalam konteks hidup berumah tangga.

Anak saudaranya, Abdullah bin Zubair adalah orang yang dikasihinya. Abdullahlah orang yang memenuhi segala keperluan Aisyah. Aisyah memang pemurah, suka bersedekah sehingga habis apa sahaja yang dimilikinya. Oleh itu, Abdullah pernah berkata, “Sepatutnya tangan-tangan Aisyah itu diikat”.

Aisyah terdengar kata-kata Zubair itu lalu berkata, “Apa? Tangan saya perlu diikat? Saya bernazar tidak akan bercakap dengan Abdullah bin Zubair lagi”. Nazar ialah janji menunaikan sesuatu apabila hasrat tercapai.

Bukhari mencatatkan, “Nazar Aisyah itu merisaukan Abdullah bin Zubair. Abdullah pun meminta pertolongan daripada beberapa orang suku Quraisy. Beberapa org bapa saudara Nabi Muhammad pun turut diajak. Aisyah akhirnya mengalah lalu membatalkan nazarnya. Sebagai tebusan kepada nazarnya, beliau memerdekakan 40 orang budak suruhan”.

Secara umumnya, orang yang keras hatinya sukar berlaku adil. Sifat keras hati serta mampu berlaku adil adalah dua perkara yang berlawanan. Hanya mereka yang sudah mencapai akhlak yang sempurna sahaja mampu menyatupadukan dua sifat yang bertentangan ini. Tetapi, Aisyah sudah diasuh oleh pendidik terunggul iaitu Nabi Muhammad. Tidak hairanlah sekiranya beliau mampu menyatupadukan dua sifat yang bertentangan ini. Walaupun keras hatinya, namun beliau sentiasa dapat berlaku adil.

Abdurrahman bin Syamasah pernah datang berjumpa Aisyah bagi bertanya berkenaan satu masalah. Aisyah bertanya, “Kamu dari mana?”
“Saya dari Mesir”, jawab Abdurrahman.
“Bagaimana sikap pemerintah kamu dalam perang yang baru sahaja terjadi ini?” tanya Aisyah.
“Kami menyukainya. Jika unta salah seorang daripada kami mati, beliau menggantikannya dengan unta lain. Jika budak suruhan kami meninggal dunia, beliau juga akan menggantikannya dengan budak lain. Jika kami memerlukan nafkah, beliau akan memberikan kami nafkah”.
“Walaupun pemerintah kamu itu tidak adil ke atas saudara saya, Muhammad bin Abu Bakar, namun saya tetap mahu menyampaikan kata-kata Nabi Muhammad. Kata-kata ini dinyatakannya di dalam rumah ini juga, ‘Ya Allah, sesiapa yang berkuasa atas umatku ini lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan sesiapa yang berkuasa atas umatku lalu ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia’ ”. Hadis ini direkodkan oleh Muslim.

Seusai membaca bab ini, aku cuba merenung dalam diri. Keras hati… Sungguh kuakui sikap itu telah sebati dalam diri. Terkadang aku sendiri berasa cuak, kenapa mesti terlalu keras. Dan memang ada ketikanya aku tidak mampu bersikap adil lantaran belitan sikap keras hatiku. Paling teruk sekali apabila aku tidak mampu bersikap adil kepada diriku sendiri. Itu telah cukup membuktikan betapa akhlakku belum cukup sempurna, sesempurna akhlak wanita unggul yang cuba kucontohi itu. Aisyah…, seindah namamu begitu jua akhlakmu… Moga aku mampu mencontohimu sebagai seorang hamba yang tercipta selaku wanita.

Wednesday, 13 June 2012

Jika VS Jangan





Baqir a.s.`Jiwa yang agung,“Kuwasiatkan lima hal kepadamu: 

(1) jika engkau dizalimi, jangan berbuat zalim,
(2) jika mereka mengkhianatimu, janganlah engkau berkhianat, 
(3) jika engkau dianggap pembohong, janganlah marah, 
(4) jika engkau dipuji, janganlah gembira, dan 
(5) jika engkau dicela, kontrollah dirimu”.



.

Thursday, 12 April 2012

Kenali Diri



-Anda di mata orang lain-


Sambil memegang wang RM100, dia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang nak duit ini?”.

Kelihatan ramai penonton angkat tangan menunjukkan ramai yang minat.



“Saya akan berikan ini kepada salah seorang dari anda , 
tapi sebelumnya perkenankanlah saya buat ni dulu.”



Wang itu diramas-ramas dengan tangannya sehingga renyuk. 
Lalu bertanya lagi, “Siapa yang masih mahu duit ini?”
Jumlah tangan yang mengangkat tak berkurang.

“Baiklah,” jawabnya, “Apa jadinya bila saya melakukan ini?”

Ujarnya sambil menjatuhkan wang itu ke lantai & melenyek-lenyekkan dgn kasutnya.
Meski masih utuh, kini wang itu jadi amat kotor,lusuh dan amat renyuk.

"OK, sekarang masih ada yang berminat?”. Tangan-tangan yang angkat ke atas masih tetap banyak.

Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting.
Apapun yang terjadi dengan wang ini, anda masih berminat kerana apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya.

Biarpun renyuk, lusuh dan kotor, wang ini tetap bernilai RM100 juga..



Dalam kehidupan ini, kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan dipenuhi kotoran akibat keputusan yang kita buat & situasi yang menerpa kita dalam sesuatu keadaan dahulu.

Dalam keadaan seperti itu, kita merasa tak berharga, tak bererti.
Padahal apapun yang telah & akan terjadi, anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai anda, lebih-lebih lagi di mata Tuhan.

Jadi walau bagaimana kotor pun anda, kita masih mempunyai nilai yang tersendiri. Sayangilah diri anda, bertaubat jika membuat dosa, terus berusaha jika gagal kerana diri kita sebenarnya amat berharga.
Dan jangan terlupa kita adalah makhluk Allah yang di pandang sama, hanya iman dan takwa yang membezakan kita.


.

Sunday, 1 April 2012

Bertaubat Di Florence

Bab 9: Travelog HAJI
Mengubah Sempadan Iman
Muhd Kamil Ibrahim

Ibadat haji benar-benar mengundang manusia supaya melihat kisah lampau, berfikir sambil berpeluang merenung arah perjalanan baki kehidupan. Terutamanya dalam konteks hubungan manusia dengan Penciptanya.

Mengapa tertulis kata-kata di atas?

Saya menjadikan diri saya sendiri sebagai contoh. Umur sudah melebihi 42 tahun. Seorang yang jahil. Ilmu agama ternyata sedikit. Tentu sekali banyak dosa-dosa yang dilakukan. Dosa besar, dosa kecil, doa yang dibuat secara terang-terangan dan dosa yang dibuat secara sembunyi-sembunyi. Kesemuanya ada. Banyak buku ibadah haji yang sudah dibaca menyarankan supaya setiap bakal haji membersihkan diri sebelum menjadi tetamunya. Maksudnya, kita hendaklah bertaubat dengan bersungguh-sungguh.

Hampir semua rencana atau ceramah yang membincangkan perkara taubat mengatakan, orang-orang yang benar-benar mahu bertaubat perlu meminta ampun dengan sepenuh hati, berasa berdosa, berniat tidak mengulangi dan sekiranya boleh, menangis serta meratapi dirinya. Ratapan ini pula seharusnya dari bisikan dan suara jiwa dalamannya. Dikatakan, dosa seorang hamba kepada Allah terampun apabila syarat-syarat taubat dipatuhi. Ia dinamakan taubat nasuha.

Antara kami, tiada yang pernah bertaubat mencukupi syarat. Kita biasa menyebut, "Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku" selepas solat fardhu sebagai rutin doa. Ia kata-kata di bibir yang tidak turun ke hati. Lalu, kerana ibadat haji, terasa ia kewajipan besar untuk bertaubat dan pergi dalam keredhaan-Nya.

Maka solat sunat Taubat menjadi kemestian. Kami berdo'a menggunakan Doa Taubat Besar yang disusun oleh Ja'afar Sabran melalui buku Risalah Do'a. Terdapat perubahan pada sebutan dan kata-kata sesuai dengan gaya dan intonasi sendiri. Bahasa pengantar semasa berdo'a adalah bahasa Melayu supaya dapat merasai dan menghayatinya sehingga ke hujung hati (Hakikat sebenar, saya tidak tahu berbahasa Arab).


Keinginan bertaubat dan mahu diampunkan terlalu kuat. Ketika menyebut 'dosa-dosaku', hati dan minda membayangi segala dosa-dosa signifikan yang dilakukan. Lalu do'a yang dibaca adalah sepenuh perasaan dengan nada yang sebak, di hujung malam sehingga berkerut-kerut muka. Namun, ia bukan tangisan yang. Setitis air mata pun tidak keluar. Ia tidak dapat dipaksa-paksa.


Jelas, ia bukan permainan. Malah dari perspektif yang berbeza, terasa keikhlasan do'a itu masih belum mencukupi. Ia seolah-olah tidak bermula dari hati sanubari dan pastinya tidak sampai ke atas. Terbayang ia tidak dilayan oleh-Nya atas sebab-sebab yang tidak dapat dijelaskan. Itulah perasaan hati yang bercelaru mengharap simpati daripada Allah.


Hari pertama, hari kedua, minggu pertama, minggu ketiga dan bulan pertama, setiap hari berdo'a. Berdo'a dan berdo'a dengan harapan Allah memberi petunjuk dan isyarat terutamanya dalam konteks mahu menitiskan air mata. Ternyata hampa dan jauh di sudut hati, perasaan kerisauan mula muncul, "Ya Allah, mengapalah taubatku tidak diterima?"


Mungkin ada orang menyatakan, "Kita berdo'a, terima ataupun tidak, terpulang kepada Allah. Mustahil kita mengetahuinya."

Walaubagaimanapun hati tidak fikir begitu. Saya percaya, janji Allah adalah benar. Dia berjanji sebagaimana hadith, Anas bin Malik r.a. melaporkan Rasulullah SAW pernah berkata:


"Allah berkata: 'Wahai Anak Adam, sesungguhnya selagi kamu berdo'a kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku, Aku mengampuni dosamu dan kesalahanmu dan aku tidak peduli dengannya.

Wahai Anak Adam, sekiranya dosa-dosamu sampai ke langit, kemudian kamu meminta ampun kepada-Ku pasti Aku mengampuni dan tidak peduli dengannya.

Wahai Anak Adam, apabila kamu menjumpai-Ku (meninggal dunia) dalam keadaan kamu tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan menjumpaimu dengan setompok ampunan yang serupa dengannya."


Hakikatnya, setiap orang yang berdo'a dengan penuh keikhlasan terasa apabila do'anya didengari atau dimakbulkan. Namun ia tidak dapat digambarkan.

Mei 2006. Saya masih berada di Florence, Itali bersama Roza kerana membentangkan kertas kerja. Seminggu di sana. Segala kegiatan di Malaysia masih diteruskan terutamanya rutin qiyamullail dengan bersolat sunat Tahajjud, Hajat dan Taubat. Malam terakhir di Itali.Kelihatan Roza benar-benar dalam keletihan. Bisikan hati kuat tidak mahu mengganggu dia. Bangun perlahan-lahan, mengambil wudhuk dan bersolat sunat. Dengan hanya menggunakan lampu tandas, itupun dengan menutup pintunya. Selepas solat, buku do'a dibaca menggunakan cahaya lampu kecil melalui celahan pintu tandas itu. Kaki timpuh di muka pintu. Ia lansung tidak kondusif. Tidak selesa.

Bibir menyebut;


" Ya Allah, aku memohon keampunan-Mu Ya Allah, aku memohon keampunan-Mu Ya Allah, aku memohon keampunan-Mu Ya Allah.

Ya Allah, aku bertaubat kepada-Mu daripada segala dosa yang aku lakukan"



Air mata bercucuran tanpa dipaksa. Siapapun benar-benar tidak menduga dengan apa yang Allah anugerahkan. Minda terbayang dan yakin Allah mendengar permintaan hamba-Nya dan memberi isyarat dalam keadaan yang tidakl dijangkakan. Bukankah Allah Maha Berkuasa dan Dia berhak menentukan apa yang ingin Dia anugerahkan?  Astaghfirullah.

Itulah perasaan yang menusuk qalbu. Entah. Benar ataupun tidak, seluruh tubuh merasai kenikmatan bertaubat terutamanya apabila air mata menitis membasahi pipi. Seolah-olah wujud vacuum antara hati dan persekitaran. Ia perasaan yang luar biasa. Sekiranya benar taubat itu diterima, bukankah ada logiknya saya ibarat bayi yang suci? Astaghfirullah. Selama 42 tahun hidup di muka bumi ini, tidak pernah mampu bertaubat seindah ini. Ia hanya berlaku ketika ingin menunaikan fardhu haji.


.






Thursday, 29 March 2012

Ulil Albab : Fikir & Dzikir


Punyai pemikiran (M.I.N.D.) yang luas atau mendalam
Punyai perasaan (H.E.A.R.T.) yang peka, sensitif atau yang halus perasaannya
Miliki daya fikir (I.N.T.E.L.L.E.C.T.) nan tajam dan kuat
Miliki pandangan dalam atau wawasan (I..N.S.I.G.H.T.) nan luas dan mendalam
Miliki pengertian (U.N.D.E.R.S.T.A.N.D.I.N.G.) yang benar, tepat atau luas
Miliki kebijaksanaan (W.I.S.D.O.M.) iaini mampu mendekati kebenaran dengan pertimbangan yang terbuka dan adil.


(سورة آل عمران)
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ (١٩٠) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١) رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ (١٩٢) رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ (١٩٣) رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (١٩٤)
(Ali ‘Imraan 3:190-194)




Profile:
Iaitu orang yang  berdzikir kepada Allah ketika berdiri, duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.
'Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan itu semua sia-sia. Maha Suci Engkau, selamatkan kami dari siksa neraka"
(Ali 'Imran :191)

Profile:
'Dia menganugerahkan hikmah kepada siapa sahaja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa diberi hikmah, maka dia sebenarnya diberi kebaikan yang sangat besar. Dan tidak seorangpun mendapat peringatan, kecuali orang beraqal'
(Al-Baqarah :269)

.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   

So, Eva cakap kat diri Eva.
Owh... orang-orang yang mengingati Allah a.k.a. "Tadzdakkur" dalam sumer keadaan.
Digambarkan Allah SWT di dalam ayat : ketika mereka berdiri, duduk dan berbaring.
Maksudnya... mereka tidak lalai pada kebanyakan waktunya untuk mengingati kebesaran Allah SWT.

Juga "Tafakkur" iaitu memikirkan tentang rahasia ciptaan Allah.