Showing posts with label Nama Allah Ke 100. Show all posts
Showing posts with label Nama Allah Ke 100. Show all posts

Wednesday, 5 December 2012

ISMULLAH-IL ADZHOM (ASMA /NAMA ALLAH YANG PALING AGUNG)


.Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah s.w.t mempunyai 99 nama, iaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal seluruhnya) masuklah ia kedalam syurga” – Riwayat Bukhari



Mengenai apa-apa saja Ismul A’zhom itu para sahabat nabi dan ahli hadis memilki beberapa pendapat, yang mana satu dengan lainnya saling melengkapi.
Dasar-dasar dalil yang dapat dipetik adalah sebagai berikut:


Dari Abu Umamah Ra. yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dikatakan: “Ismullahil A’zhom, yaitu Nama Allah Yang Paling Agung yang apabila dibaca di dalam doa pasti akan dimustajabkan, terdapat dalam tiga tempat pada kitab suci Al Qur’anul Karim yaitu; Surat Al Baqarah, Surat Ali Imran dan Surat Thaha.” (HR. Ibnu Mardawih).

Ibnu Amr Hisyam, Khatib Kota Damaskus, mengatakan bahwa Ismul A’zhom yang ada pada surat Al Baqarah adalah: “Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya…..” (QS. Al Baqarah: 255).

Sedangkan Ismul A’zhom yang berada pada surat Ali Imran adalah: “Alif… Lam…. Mim…. Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. Ali Imran; 1-2)




[notes from Eva Talya Redd Rohim: Surah Ali-Imran Ayat 1 & 2 ]
Adapun Ismul A’zhom yang berada pada surat Thaha adalah: “Dan tunduklah semua wajah kepada Tuhan yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya.” (QS. Thaha: 111).

[notes from Eva Talya Redd Rohim: Surah Thaa Haa Ayat 111 ]

Asma’ Allah Ya Hayyu Ya Qayyum masyhur dikenal sebagai Ismullahil A’zhom



Dalam tafsir Qurthubi ketika mentafsirkan Ayat Kursi, beliau menjelaskan bahwa Al Hayyu adalah Ismullahil A’zhom. Diriwayatkan bahwa Nabi Isa bin Maryam apabila ingin menghidupkan orang mati, maka beliau berdoa dengan menyebutkan nama ini dalam doanya: “Ya Hayyu Ya Qayyum”




Demikian juga dengan Ashif bin Burkhiya ketika beliau hendak mendatangkan singgasana Ratu Balqis ke hadapan Nabi Sulaiman As. beliau berdoa dengan menyebutkan: “Ya Hayyu Ya Qayyum.”




Juga Nabi Musa As. ketika ditanya oleh bani Israil tentang perkara Ismullahil A’zhom maka beliau berkata kepada mereka: 

“Aya Hayya Syaraahiya” (lafaz bahasa Ibrani) artinya dalam bahasa Arab adalah “Ya Hayyu Ya Qayyum” (lihat kitab Al Jami’u li Ahkami al Qur’ani, Imam Qurthubi jilid III halaman 259-260)



Dalam hadis yang lain dari Asma binti Yazid Ibnu as Sakan menceritakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda sehubungan dengan dua ayat berikut ini yaitu: 

“Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya…..” (QS. Al Baqarah: 255) dan “Alif… Lam…. Mim…. Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. Ali Imran; 1-2) 


[notes from Eva Talya Redd Rohim: Surah Al-Baqarah Ayat 255 ~ Ayat-ul Kursy]


Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: 

”Sesungguhnya di dalam kedua ayat di atas terdapat Ismullahil A’zhom, yaitu Asma Allah yang paling Agung” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud melalui jalur Musaddad, Imam Turmidzi melalui Ali Ibnu Kasrom dan Ibnu Majah melalui Abu Bakar Ibnu Abu Shaibah, Hasan Shahih).


Syaikh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengemukakan sebuah hadis yang lain; dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam: 


“Nama Allah Yang Paling Agung, yaitu Ismullahil A’zhom, yang mana bila diucapkan dalam doa, niscaya dimustajabkan, doa itu berada dalam ayat ini bagian dari surat Ali Imran (pada ayat 26), 
[notes from Eva Talya Redd Rohim: Surah Ali-Imran Ayat 26]

Allah berfirman: 
“ Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Imam Thabrani, di dalamnya terdapat Jasar bin Farqad al Qishabi, Imam Bukhari menganggapnya tidak ada apa-apanya). Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Jilid II halaman 32.


Ternyata ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia telah terbiasa selama ratusan tahun mewiridkan ayat-ayat Ismullahil A’zhom setelah selesai shalat fardhu lima waktu, khususnya sholat Magrib dan shalat Shubuh, sebelum mengumandangkan doa.



Banyak orang yang terburu nafsu menuduh amalan mereka sebagai amalan bid’ah yang terlarang, hanya karena baru membaca satu-dua buku hasil tulisan Orang Timur Tengah yang anti dzikir dan anti doa. Padahal amalan para ulama tersebut justru sesuai dengan hadis-hadis Rasulullah dan dikutip dari kitab-kitab Ulama Besar yang sudah teruji pula kehebatannya.



Sudah semestinyalah kita berhati-hati terhadap orang-orang yang baru belajar agama, tapi sangat berani menghina Ulama-ulama Besar terdahulu. Semoga keterangan ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita umat akhir zaman ini.



+Dikutip dari Al-Qalad.

(+CREDITS TO ALIFBRAJA)

Sunday, 2 December 2012

MENCARI NAMA RAHASIA ALLAH YANG KE 100


FEEL FREE TO CLICK ON RELATED POST:


+Credits to Sahabatku;
Article (Review) Di Edit Oleh: Anwar Holid
(segaja saya post bulat-bulat , pengolahan & ubah-suaian
hanya dari segi penekanan ayat, perkataan, kalimah & points to ponder
demi mengekalkan penyampaian versi asal)
-----------------------------------------------------------------


Tentang Buku Pak Muh 
---"Agus Kurniawan" 

Mencari Nama Allah yang Keseratus
Penulis : Muhammad Zuhri
Penerbit : Serambi Jakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2007
Tebal : 215 halaman

Tentang buku Pak Muh (Mencari Nama Allah yang Keseratus) mending baca sendiri atau tanya orang lain saja deh. Gak berani menjelaskannya, takut tidak tepat. Tapi sedikit yang saya bisa cerna (maklumlah "pencernaanku" jelek banget untuk urusan dunia pemikiran) mungkin begini:


Allah telah menawarkan nilai- nilai, yang secara artikulatif disimbolkan melalui asmaNya yang jumlahnya 99 (asma'ul husna, nama-nama yang agung). 

  • Tapi sumber itu tidak akan berarti apa-apa bagi seseorang bila tidak direalisasi dalam bentuk tindakan, gerak, amal, atau keterlibatan diri, yang memberi manfaat bagi kehidupan.
  • Ketika sudah direalisasikan dan menginternal dalam diri seseorang, maka seseorang itu akan menemukan/dianugrahi suatu "cara" atau metode yang efektifitasnya sangat tinggi dalam menjalankan amanatnya sebagai khalifah Allah. 
  • "Cara" tadi benar-benar khas milik orang itu sendiri, yang berbeda masing- masing orang. Sama-sama nabi, sama-sama ulama, sama-sama sufi, sama-sama pejuang, tapi perannya masing-masing khas dan berlainan. 

Atau setidak-tidaknya apa yang dihayatinya berbeda-beda. Pada saat itulah dia dikatakan telah menemukan asma Allah yang keseratus. Mungkin maksudnya begitu ya.


Dalam pemahamanku, istilah yang digunakan Pak Muh itu merupakan elaborasi imajinatif (dalam konteks positif lho) terhadap konsep literal yang sudah baku. Tujuannya adalah untuk meneguhkan tentang perlunya keterlibatan sang subjek dalam merealisasikan nilai atau konsep sehingga menjadi aktual. 

Dalam tradisi Jawa, sejauh yang saya tahu, terdapat model pemaparan serupa itu. Misalnya "sedulur papat kelima pancer", atau empat bersaudara dan yang kelimanya adalah sang pelengkap, sebuah elaborasi simbolik dari "kehadiran" Pandawa Lima. 

Puntodewo, si sulung, adalah simbol keikhlasan. 
Werkudoro/bimo simbol kejujuran (bahkan dia ditakdirkan tidak bisa berbasa-basi) . 
Arjuno simbol ilmu pengetahuan atau kemampuan mengelola kehidupan duniawi. 
Nakulo simbol kerendah hatian dan refleksi diri (na=tidak ada, kulo=aku atau ego). 
Sedangkan pelengkapnya adalah si bungsu sadewo (yang arti harfiahnya adalah berkemampuan layaknya dewa). 

Awalan "sa" atau "se" dalam bahasa Jawa artinya bisa "satu" tapi bisa juga "serupa" . Misalnya dalam kalimat "isinku segunung", yang artinya "rasa maluku sebesar gunung". Jadi "Sadewo" bisa diartikan satu dewa, bisa juga berarti berkemampuan serupa dewa. Tapi aku lebih sepakat yang kedua karena konteksnya lebih pas.



Sadewo adalah simbol keterlibatan si subjek dalam mengamalkan nilai-nilai sehingga menjadi aktual. Begitu empat nilai itu menginternal dalam diri si subjek, maka dia akan memiliki efektifitas yang tinggi dalam manajemen semesta, dan layak menjadi wakil Tuhan di bumi, atau bisa dikatakan mewarisi kemampuan ilahiyah. 

Sadewo, seperti kita tahu dalam cerita pewayangan, secara simbolik memiliki kemampuan seperti itu. Salah satu yang terkenal adalah kemampuanya mengetahui masa depan. Dalam cerita wayang, ada dua sosok yang memiliki kemampuan seperti itu, yakni Kresno dan Sadewo. Tetapi kemampuan Kresno lebih disebabkan karena dia memiliki senjata pemberian dewa, yaitu koco paesan (cermin penerawang masa depan = simbol perkakas analisis) . Sedangkan kemampuan Sadewo adalah natural, berasal dari dirinya sendiri. 




Konsep itu juga analog dengan istilah Jawa yang lain, yakni "ilmu lan laku"
Ilmu tentu saja artinya adalah pengetahuan atau kebijaksanaan. Tetapi ilmu tidak akan berarti apa-apa bila tidak disertai dengan laku atau keterlibatan si subjek. Oleh karena itu dalam tradisi Jawa dikenal istilah "nglakoni", atau melibatkan diri dalam berbuat kebaikan kepada masyarakat. 

Salah satu bentuk "laku atau nglakoni" adalah "poso ngrame". Poso hampir sama artinya dengan kata puasa dalam bahasa Indonesia, tapi maknanya lebih luas. "Poso" lebih tepat diartikan memaksa diri atau berkomitmen untuk melakukan sesuatu. 

"Ngrame" dari kata "rame" yang makna konotatifnya adalah meramaikan kehidupan dengan berbuat kebaikan. Memang bentuk "poso ngrame" adalah menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan, seperti dilakukan Raden Rama saat mencari Shinta, dimana dia menolong kera Sugriwo (dalam cerita wayang Jawa Lho) yang dianiaya oleh kakak kandungnya Subali.



Jadi, ringkasnya, dalam pemahaman saya, Pak Muh lewat bukunya ingin menyampaikan bahwa: nilai-nilai (sebaik apapun) belum sempurna bila belum direalisasikan kedalam kehidupan faktual. Mungkin begitu maksudnya. Sehingga apapun harus digenapkan atau disempurnakan, bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh diri si pelaku. Seperti dalam lakon Roro Jonggrang yang populer, seluruh patung yang diminta oleh Roro Jonggrang sebagai punagi (mas kawin) ternyata belum lengkap kecuali dilengkapi oleh diri Roro Jonggrang sendiri. Dan syahdan, Jonggrang pun akhirnya menjadi patung. Lengkaplah sudah, sempurnalah sudah.[]



Diedit oleh Anwar Holid

Awalnya tulisan ini diposting di cyberaki@yahoogroups.com

.

Artikel Pilihan : RAHASIA ISMULLAHIL-A’ZHOM NAMA ALLAH YANG KE SERATUS


FEEL FREE TO CLICK ON RELATED POST:




+Credits to Sahabatku: Abdul Mughni Shiddiq
Article Asal Oleh: Muhammad Zuhri+
(segaja saya post bulat-bulat tanpa pengolahan & ubah-suaian
demi mengekalkan penyampaian versi asal)
-----------------------------------------------------------------

Di tengah kemelut perkembangan sains dan teknologi yang menawarkan kesejahteraan hidup umat manusia di satu sisi, dan mengancam kelestarian alam pada sisi lain, muncul sebuah gagasan besar untuk mengidiologisasikan globalisasi. Pada saat yang sama timbul pula berbagai pembahasan tentang ajaran tasawuf, jalan hidup dan kebijakannya di forum diskusi, penerbitan buku dan media massa, seolah sebuah jawaban yang dilemparkan dari sebuah dunia jauh, dunia masa silam, yang wujud faktualnya semakin langka di abad kita. Umat manusia berjalan dan terus berjalan menyusuri lorong kemungkinan yang bisa dikuakkan, hingga melewati batas yang semestinya didapatkan, tanpa menemukan titik terang yang memberikan makna hakiki dari kehadirannya.



* KETELANJURAN

Nasibnya persis seperti Musa Alaihissalam dan Yusa’ bin Nun ketika mengembara mencari tempat pertemuan dua samudera. Mereka mesti mengalami kebablasan terlebih dahulu sebelum akhirnya menarik mundur langkah yang diambilnya (Lihat QS. Al-Kahfi, ayat 60-64). Fenomena tsb mengisyaratkan telah sampainya manusia modern pada puncak kesadaran mereka akan makna keberadaannya yang bukan anak struktur, melainkan sebagai subjek sejarah yang bertanggung jawab terhadap diri dan semestanya.

Rupanya mereka telah terpanggil oleh rabbul ‘alamin untuk memerankan managerial-Nya di muka bumi lewat situasi khauf, yaitu situasi ketakutan yang memuncak karena terancam kemusnahan akibat hasil karyanya sendiri (Lihat QS. Ar-Rum, ayat 41). Mereka terpaksa harus memilih salah satu dari dua kemungkinan, yaitu siap hancur bersama prasangkanya tentang kenyataan, atau mengakui kelemahan dirinya sebagai hamba (Lihat QS. Al-Kahfi, ayat 29).




*TANDA KEGAGALAN
Di dalam situasi dilematis seperti itu, tiada pilihan yang paling aman daripada menempuh jalan khayal. Dan bangsa-bangsa maju itu pun menciptakan new image of man sebagai kompensasi dari sikap skeptisnya. Sayangnya image mereka tentang Superman, Superboy, Rambo, dan Ninja, tak mampu menciptakan situasi sakinah, bahkan memancing timbulnya rasa cemas, curiga dan counter-kekerasan dari pihak yang merasa dirugikan (Peristiwa Teluk dan Korea).

Sejarah telah membuktikan bahwa umat manusia tak lagi membutuhkan kekerasan dari luar untuk dapat melejit ke langit ketinggian, tetapi mereka butuh situasi damai yang memungkinkan berlangsungnya evolusi spiritual di dalam diri mereka. Era kehidupan itulah yang ditawarkan oleh Rasulullah SAW sebagai ‘jihad akbar’, manakala proses revolusi fisik telah purna. Kemudian lorong tersebut menemukan identitasnya sebagai Jalan Kebenaran (tasawuf) yang ditempuh oleh Para Sufi dari zaman ke zaman.

Kiranya tak akan menyimpang dari jalan lurus yang telah direntangkan oleh Rasulullah SAW, bila mereka yang telah mencapai situasi “Bebas Dari” kendala alami kemudian meningkatkan pendakiannya menggapai “Bebas Untuk” memberi makna kehadiran mereka di tengah lingkungan umat. Dengan demikian status Hamba Allah yang telah dicapai dengan ketaatan nya kepada Tuhan akan mendapatkan fungsinya dalam ikut menentukan warna kehidupan umat manusia di dunia (kekhalifahan).

Perspektif kekhalifahan inilah yang vacum di benak bangsa-bangsa maju ketika mereka tampil mencanangkan ide globalisme. Mereka terlalu dini mengklaim dirinya sebagai polisi yang berhak membatasi bangsa lain. Ambisinya untuk menjadi pihak penentu dan kebijakannya yang rendah di dalam memperlakukan manusia sebagai benda mati yang dapat diproses secara kilat dengan sains dan teknologi, mengandaikan kementahan spiritual mereka sekaligus meramalkan kegagalannya di dalam memandu umat manusia menuju masyarakat global yang diharapkan. Mereka dihadapkan pada masalah keutuhan umat manusia yang tak pernah tuntas (the unfinished universe) tanpa sistem yang memadai.




* NAMA TUHAN KE SERATUS
Pada saat itulah kita perlu mengkaji-ulang Jalan Sufi yang pernah berhasil melahirkan individu-individu besar yang berkualitas universal. Tak berlebihan bila kita katakan, merekalah yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai pionir globalisasi daripada manusia modern yang tak pernah menemukan hakikat dirinya. Ini berdasarkan kenyataan bahwa mereka lebih tulus dalam menyikapi sesama manusia, tanpa pamrih selain Redha Allah, dan tak mengenal putus asa di dalam ibadahnya mengembangkan kualitas hidup umat manusia.

Kondisi pribadi yang demikian tak mungkin terwujud tanpa pendadaran internal yang matang dan sarana teknis yang memadai. Dan kita pun segera memaklumi setelah kita menelaah respon mereka yang brilliant terhadap informasi nabawi tentang nama-nama Tuhan. 

Pemandu mereka (Rasulullah SAW) telah mengajarkan 99 nama yang digunakan oleh rabbul ‘alamin untuk mencipta, memelihara dan mengembangkan semesta sampai mencapai kebulatan yang nyaris sempurna (unfinished; sifat bilangan 99). Tinggal satu nama yang tak diajarkan kepada mereka, yang harus ditemukannya sendiri lewat pengabdiannya sepanjang hidup. Itulah Sebutir Mata Tasbih yang terlepas dari untaiannya. Itulah ismulllahil a’zhom atau nama Tuhan yang ke seratus, yang bila Allah dipanggil dengan nama tersebut, akan ditunaikan hajatnya.

Bila di dalam mencari nama Allah Yang Ke Seratus kita bersikap seperti mencari informasi keilmuan, maka dapat dipastikan kita akan gagal memperolehnya. Karena sebenarnya nama yang kita cari itu bukanlah sebuah objek di luar diri kita, melainkan subjek pencari itu sendiri.



* EKSISTENSIAL

Dengan aset 99 nama Allah Para Sufi mengembara dalam pengabdiannya untuk menggenapkan bilangan yang nyaris sempurna itu. 

Bila mereka berhasil mendapatkannya dalam wujud sifat kesadarannya sendiri, maka berubahlah sifatnya menjadi kudus, lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesamanya. Saat itu mereka berada dalam maqam sayidina Isa AS. Manakala mereka mendapatkannya dalam wujud dzatnya sendiri, maka muncullah dari dalam dirinya keyakinan yang bulat, energik, kreatif dan pantang menyerah. Tentu saja berwujud hasil cipta yang berdaya mampu mengubah struktur dunianya. Itulah maqam tertinggi yang ditemukan oleh sayidina Muhammad SAW. yang meruang dan mewaktu.

Transformasi eksistensial dari individu kecil mencapai individu besar, dilukiskan oleh Muhammad Iqbal dengan tepat dan indah di dalam karyanya Asrari Khudi: 
“Kejadianku arca belum selesai, cinta memahat daku dan aku menjadi manusia.” 

Untuk mencapai kondisi kekhalifahan yang memadai di dalam memandu umat mencapai masyarakat global, kita tidak membutuhkan new image of man. Karena secara fitri umat manusia telah berada di sana (Lihat QS. Al- Baqarah, ayat 30), dan dalam kadar tertentu mereka telah terlatih merealisasi fungsi tersebut ke dalam lingkungan kecil kehidupannya. Misalnya perlindungan orang tua terhadap kelangsungan hidup keluarganya, sikap ramah dan manis terhadap yang lebih muda, upaya pengembangan kualitas hidup mereka dan pengorbanan yang ikhlas dari sang asyik kepada sang ma’syuk dan lain sebagainya merupakan aset fundamental yang diajarkan Allah lewat lingkung kehidupannya.

Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana sifat-sifat luhur yang sejak dini telah disemaikan oleh rabbul ‘alamin di dalam diri kita itu bisa tumbuh optimal dan mensemesta? 
Jawabannya adalah bagaimana kita bisa menemukan sebutir tasbih yang lepas dari untaiannya, yang tak lain menggarap diri kita sedemikian rupa sehingga layak untuk menggenapinya. Untuk itu kita tak perlu mengimport atau pun mengadopsi metodologi dari mana pun, apalagi dari zaman yang telah usang. Jalan sufi selalu kontekstual dan dituntut relevan dengan zamannya.

Jelasnya, kita tak butuh nama lain, kabilah lain, paradigma lain, sarana teknis lain, teknis dasar lain, dan bai’at lain, selain yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, yaitu Islam. Hanya dengan kembali kepada pokok ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW, kita akan dapat merangkaikan kembali mata tasbih yang tersia-sia (diri kita) dalam untaiannya yang fitri.

Dengan demikian, kita berharap dapat menolong umat manusia dalam menyelesaikan karya agungnya, membangun ummatan wahidatan di atas bumi tercinta ini. Insya Allah.

-----------------------------------------------------------------
Takwa dan Sikap Sederhana
Oleh: A. Mustofa Bisri

Takwa, seperti galibnya istilah popular yang lain, sudah dianggap maklum; karenanya jarang orang yang merasa perlu membicarakannya lebih jauh. Secara sederhana, takwa dapat diartikan sebagai sikap waspada dan hati-hati. 
  • Hati-hati menjaga agar tidak ada perintah Allah yang kita abaikan. 
  • Hati-hati menjaga agar tidak ada larangan-Nya yang kita langgar. 
  • Hati-hati menjaga agar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya tidak justru menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah Ia gariskan.
  • Dan tidak kalah penting dari itu semua adalah kehati-hatian menjaga keikhlasan kita. Kita perlu waspada dan hati-hati menjaga agar pelaksanaan perintah Allah maupun penghindaran dari larangan-Nya, semata-mata karena Allah. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah demi dan karena Allah; bukan demi nafsu dan keinginan diri kita atau karena dorongan pamrih-pamrih yang lain.

Kita hidup untuk beribadah, dan kita beribadah semata mengharap redha Allah dan bukan mencari redha dan kepuasan diri sendiri. Dalam ibadah mahdhah atau yang bersifat ritual, seperti sembahyang, berpuasa, dan sebagainya, ketulusan mencari redha Allah ini mungkin relatif lebih mudah dibanding dengan ibadah yang bersifat sosial, seperti berbuat baik kepada sesama misalnya. Oleh karenanya, sudah sewajarnyalah apabila kita lebih berhati-hati dan terus mewaspadai ketulusan batin kita dalam hal melakukan ibadah-ibadah yang bersifat sosial itu.


Misalnya dalam melaksanakan ibadah sosial ingin memperbaiki keadaan dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Tanah Air, untuk menciptakan Indonesia baru yang lebih baik, kita perlu pula terus mewaspadai niat batin kita. Kita perlu selalu bertanya kepada diri-diri kita sendiri, untuk apa sebenarnya kita berjuang. Kita berjuang untuk Tanah Air demi mendapatkan redha Allah, ataukah sekedar untuk memuaskan nafsu dan kepentingan kita atau kelompok kita sendiri?

Getir rasanya dan sekaligus geli kita mendengar banyak orang yang meneriakkan slogan-slogan mulia, seperti akhlakul karimah; ukhuwwah islamiyah; membangun masyarakat yang beradab, dan lain sebagainya, namun dalam pada itu mereka sekaligus bersikap dan berperilaku yang tidak berakhlak, menebarkan permusuhan di antara sesama saudara.

Alangkah tertipunya mereka yang merasa diri dan bahkan mengaku-aku berjuang demi hal-hal yang mulia, seperti demi agama dan demi negara, tapi tindak-tanduknya justru menodai kemulian itu sendiri. Bahkan ada yang-na’udzubillah- meneriakkan asma Allah sambil memperlihatkan keganasannya kepada sesama hamba Allah.

Mereka itu umumnya tertipu oleh semangat mereka sendiri. Setan paling suka dan paling lihai menunggangi semangat orang yang bodoh atau kurang pikir, untuk dibelokkan dari tujuan mulia semula. Mereka yang katanya berjuang ingin menegakkan demokrasi, misalnya, karena terlalu bersemangat, tiba-tiba justru menjadi orang-orang yang sangat tidak demokratis; tidak menghormati perbedaan dan bahkan menganggap musuh setiap pihak yang berbeda. 

Demikian pula, mereka yang katanya ingin berjuang untuk agama, menegakkan syariat Tuhan, karena terlalu bersemangat, sering kali justru dibelokkan oleh setan dan tanpa sadar melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh orang yang ber-Tuhan dan beragama, seperti sudah dicontohkan di muka.

Lebih konyol lagi, apabila yang tergoda melakukan hal-hal bodoh semacam itu adalah mereka yang sudah terlanjur dijadikan atau dianggap imam dan panutan. Karena, para pengikut biasanya akan bertindak lebih bodoh lagi. Seorang panutan cukup memaki untuk membuat para pengikutnya membenci, seperti halnya guru cukup kencing berdiri untuk membuat murid-muridnya kencing berlari.

Biasanya, kekonyolan terjadi lantaran sikap yang berlebihan. Sikap berlebihan tidak hanya dapat membuat orang sulit berlaku adil dan istiqamah, tapi sering kali dapat menjerumuskan orang kepada tindakan yang bodoh. Berlebihan dalam menyintai atau sebaliknya membenci, acap kali membuat orang bersikap konyol. Bahkan, orang yang berlebihan dalam mencintai diri sendiri, dapat kehilangan penalaran warasnya, sebagaimana terjadi pada mereka yang mengangkat diri sebagai imam, nabi, bahkan titisan malaikat Jibril. Mereka yang berlebihan menyintai imamnya pun pada gilirannya juga kehilangan penalaran sehatnya.

Rasanya kita perlu membiasakan kembali sikap hidup sederhana, sebagaimana diajarkan dan dicontohkan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Maka, kita dapat dengan lebih mudah berlaku adil dan istiqamah, dapat memandang sesuatu tanpa kehilangan penalaran sehat.