Showing posts with label AL-AKHFIYA. Show all posts
Showing posts with label AL-AKHFIYA. Show all posts

Tuesday, 2 July 2013

3 TINGKATAN ORANG BERILMU (Menurut `Abdullah bin al-Mubarak)

Belajar ialah ikhtiari hamba,
kefahaman ialah hasil kadar usaha hamba dgn izin Nya,
manakala keyakinan dan makrifah ialah kurnia anugerah Nya.



Tiada kata terindah selain dari hati. Tiada kata yang berkesan selain dari hati. Tiada kata yang menyentuh hati kecuali dari hati. Sebuah kutipan dari seorang ulama besar di masa 118 H. Gelar beliau sangat banyak, di antaranya: Al-Hafizh, Syekh Al-Islam, Fakhr Al-Mujahidin, pemimpin para ahli zuhud, dan masih banyak gelar lainnya. Beliau habiskan usianya untuk melakukan safar dalam rangka berhaji, berjihad, dan berdagang. Karena itu, beliau dikenal dengan “As-Saffar” (orang yang rajin melakukan perjalanan).

Beliau adalah pembelajar sejati. Beliau sering melakukan perjalanan dan petualangan dalam mencari hadith, sehingga beliau memiliki guru yang sangat banyak. Di antara guru beliau adalah Sulaiman At-Taimi, `Ashim Al-Ahwal, Humaid Ath-Thawil, Rabi` bin Anas, Hisyam bin `Urwah, Al-Jariri, Ismail bin Abi Khalid, Khalid Al-Hadza`, Barid bin Abdillah, dan masih banyak deretan ulama lainnya. Bahkan, beliau juga menulis hadis dari orang yang lebih muda atau lebih rendah tingkatan ilmunya dibanding beliau. Beliau adalah `Abdullah bin al-Mubarak, pernah mengatakan bahawa:


“Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:

1)  Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong.  
2)  Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`.
3)  Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa.”




1)  Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong. 

Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa manusia penuntut ilmu memiliki beberapa kriteria.
Yang pertama adalah mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, dia merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki.

Tak mau menerima nasihat orang lain kerana dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasihat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah.

Terkadang dia mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada dia yang berpendidikan tinggi, namun dia tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, bongkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya  nafsu yang diutamakan sehingga emosi  tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.

PENJELASAN: Yang dimaksudkan dengan sombong bagi peringkat pertama di atas ialah dia merasakan bahawa kononnya dia sudah tahu banyak perkara.  Lalu dengan perasaan sombong dia mula berani mengatakan itu dan ini, melabel itu dan ini dan terburu-buru.  Hal ini banyak kelihatan di sekeliling kita.

Ada yang sombong, angkuh dan besar diri dengan ilmu mereka.  Ternyata mereka ini adalah golongan yang baru di peringkat awal menuntut ilmu.  Ramai di peringkat ini.  Bahkan kita semua juga masih di peringkat ini.  Kita selalu berasa diri sudah hebat dan mengatakan orang lain salah disebabkan mereka tidak sama dengan pandangan atau pendapat atau ilmu atau pengalaman kita.

Mengetahui bahawa kita masih di peringkat pertama, justeru bersabarlah.  Jangan terlalu lekas melabel.  Teruskan belajar dan belajar supaya hikmah semakin menebal di dalam diri.



2)  Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`.

Namun adalah berikutnya sebuah tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena peribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi.

Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain.

Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah SWT pun mencintainya.

PENJELASAN: Golongan yang lebih tinggi dari golongan pertama ialah segolongan yang tawadhu` dengan apa yang ada pada mereka.  Mereka merendah diri dengan ilmu mereka walaupun di dalam dada mereka sudah banyak ilmu dan pengalaman.  Sebenarnya ilmu dan pengalaman yang banyak itulah yang menyebabkan mereka faham tentang hakikat ilmu.  Lalu mereka berasa tawadhu`.


3)  Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahawa dia tidak tahu apa-apa.”

Sedangkan yang terakhir adalah yang teristimewa. Dia yang selalu merasa dirinya tetap tidak mengetahui apa-apa meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dadanya. Kerana dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya.

Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka.  Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu yang terlalu luasnya.
.
PENJELASAN: Dan yang paling tinggi dan hebat akan tingkatan ilmu mereka ialah apabila mereka merasakan mereka tidak tahu apa-apa.  Ini kerana hakikat ilmu semakin jelas dan nyata di hadapan mata dan hati mereka.  Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka.  Justeru, mereka bukan sahaja tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu, mereka lalu berasakan mereka tidak tahu apa-apa lantaran terlalu luasnya ilmu sehingga mereka bisa lemas di dalamnya.

...........................................

ALLAHU AKBAR!  Kata-kata ini cukup dapat mengetuk jiwa ini!  Betapa terzahirnya di sekeliling kita akan kelompok-kelompok manusia sesuai dengan apa yang disebut di dalam kata-kata di atas.

Fikirkanlah dan renungkan maksud kata-kata Ibnu al-Mubarak di atas.  Semoga kita dapat bermuhasabah dengannya.

Saturday, 1 December 2012

‘AL-AKHFIYA': SOROK & SEMBUNYI , JAGA HATI


Bismillah…  ‘AL-AKHFIYA': SOROK & SEMBUNYI , JAGA HATI

Tentang orang orang yang telah menggapai ma’rifatullah menjaga agar urusan mereka tidak diketahui oleh siapapun sebagai bentuk ke-hati hatian agar mereka tidak terjatuh dalam perbuatan ujub, sifat sombong, dan tindakan meremehkan orang lain.

Inilah sedikit potret amal orang orang pilihan di lapangan jihad, ilmu, ibadah, dan amal amal kebajikan

Keikhlasan memang perkara yang sangat berat dan sangat mahal harganya.
Lebih berat lagi adalah menjaga keikhlasan setelah memperolehnya





*DALAM LAPANGAN JIHAD & PERPERANGAN
===========================================
Ketika Maslamah ibn Abdul Malik bersama pasukannya mengepung sebuah benteng Romawi, hanya ada satu jalan masuk ke dalamnya. Setelah pengepungan berlangsung beberapa lama, Maslamah berseru kepada pasukannya, “Barangsiapa berani menerobos pintu, seandainya ia mati maka dia akan mendapatkan surga in syaa Allah. Kalau dia selamat, maka tanah yang ada dibalik pintu itu pantas untuknya. Lalu, dia harus membuka pintu agar pasukan Islam dapat masuk kedalam benteng sebagai pemenang.”

Seorang prajurit dengan wajah ditutupi oleh kain berdiri dan maju seraya berkata, “Aku akan melakukannya wahai panglima”

Selama tiga hari Maslamah bin Abdul Malik bertanya tanya, “Siapakah orang yang mengenakan tutup muka itu? Siapakah yang membuka pintu benteng?”

Tak seorangpun berdiri mengaku. Pada hari ketiga, Maslamah pun berkata, “Aku bersumpah, agar orang yang menutup muka itu menemui aku, kapanpun waktunya, siang atau malam.”

Maka pada tengah malam, ada seseorang mengetuk pintu tendanya. Maslamah bertanya, “Engkau kah yang mengenakan tutup muka?”

Orang itu menjawab, “Dia meminta tiga syarat sebelum engkau melihatnya.”

“Apa itu?” tanya Maslamah

“Engkau tidak boleh mengumumkan namanya kepada orang orang, engkau tidak boleh memberinya imbalan apapun, dan engkau tidak boleh melihatnya sebagai seseorang yang memiliki keistimewaan.” kata orang itu

“Aku terima,” kata Maslamah

Orang itu lalu berkata, “Memang, akulah orang yang mengenakan tutup muka itu.”

Maslamah langsung menghampiri dan memeluknya. Dan diantara doa Maslamah yaitu

“Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama orang yang mengenakan tutup muka ini”

Dan kepundak orang orang semacam inilah Allah ‘azza wa jalla melimpahkan barakahNya.. (Hasyim Muhammad al-Minhaj fii al Mafahim al Islamiyyah wa ad Da’wah, jilid 2 Halaman 76)

*DALAM HAL ILMU & MEMBERIKAN MANFAAT
===========================================
Dialah Imam al-Mawardi, yang pada masa hidupnya tak satupun karyanya muncul. Ia hanya mengumpulkan karya karyanya tersebut dalam satu tempat. Ketika ia merasa ajalnya sudah dekat, ia berpesan kepada seseorang yang dipercaya olehnya,

“Semua buku yang ada di tempat fulan adalah tulisanku. Jika aku sudah menyambut ajalku dan dalam keadaan sakaratul maut, peganglah tanganku. Jika ak menggenggam tanganmu, maka ketahuilah bahwa hal ini menunjukkan bahhwa tidak satupun karyaku yang diterima oleh-Nya. Jika sudah begitu, maka ambil seluruh buku karanganku itu, dan lemparkan semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari. Namun jika aku membentangkan tanganku dan tidak menggenggam tanganmu saat meninggal, maka ketahuilah bahwa karyaku diterima. Sebab aku telah berhasil mendapatkan niat ikhlas yang aku harapkan..”

Sepeninggal Imam al Mawardi, orang kepercayaannya itu pun menuturkan, “setelah ajalnya mendekat, aku meletakkan tanganku diatas tangannya, yang ternyata ia membentangkan telapak tangannya dan tidak menggenggam tanganku. Maka, akupun tahu bahwa itu tanda diterimanya amalnya. Sehingga setelah itu aku pun memperlihatkan buku buku hasil karyanya. Abdul Hamid Al-Balali, Waahat al Imaan, jilid I hal 35

Untuk menulis buku buku itu, Imam al-Mawardi sudah menghabiskan umurnya, berjaga pada malam hari dan tidak tidur. Namun, setelah semua selesai, dia masih khawatir kalau kalau amalannya itu akan sia sia begitu saja karena riya’

Lihat juga Imam Syafi’i yang berkata,

“Aku ingin sekiranya semua manusia mempelajari ilmu ini dan mereka tidak menisbatkan sedikitpun kepadaku dan tidak pula memujiku”

Imam Syafi’i beranggapan bahwa pujian hanya akan mengurangi pahala dan mengurangi sifat orang orang yang menyembunyikan amal-amalnya.

*DALAM SHALAT SUNAT
===========================================
Hammad ibn Ja’far ibn Zaid menuturkan bahwa ayahnya menyampaikan kepadanya, “Kami berangkat ke Perang Kabil. Shilah ibn Usyaim juga bergabung dalam pasukan ini. Ketika singgah di al-Atamah, aku berata, ‘Aku benar benar akan memperhatikan apa yang dilakukannya, agar aku dapat meilhat ibadah yang dilakukannya seperti cerita orang orang tentang dirinya.’ Shilah mendirikan shalat lalu berbaring sambil menunggu orang orang terlelap. Ketika semua mata sudah terpejam, dia bangkit dan menuju ke sebuah semak semak tak jauh dari tempatnya. Aku membuntuti dari belakang. Dia berwudhu dan mendirikan shalat.

Tak lama kemudian, tiba tiba seekor singa muncul mendekatinya. Aku pun memanjat pohon. Kulihat Shilah sama sekali tidak menolehkan kepala. Dia tidak memperdulikan keberadaan singa itu. Dia sujud. Aku bergumam dalam hati, ‘Tak lama lagi tentu dia akan dimangsa.’ Setelah mengucapkan salam, Shilah berkata, “Wahai binatang buas, carilah rezeki di tempat lain.’ Singa itupun lalu berbalik menuju gunung.

Pagi harinya Shilah duduk dan memuji Allah. Aku tidak mendengar dzikir darinya kecuali perkataan Maa Syaa Allah. Dia lalu berdoa,’Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar engkau melindungi aku dari neraka. .’

Dia lalu kembali lagi ke tempatnya semula. Dia lalu berbuat seolah olah tetap berada diatas tikarnya seperti sedia kala, sedang aku sendiri merasa letih mengikutinya. [Shifatu shafwah Jilid 3 hal. 143]

Muhammad ibn Ziyad berkata, “Aku pernah melihat Abu Umamah menemui seseorang didalam masjid yang sedang sujud sambil menangis dan berdoa. lalu abu umamah berkata kepada orang itu, “Jika engkau melakukan hal semacam itu, maka lakukanlah didalam rumahmu.” [Nuzhat al-Fudhala' Jilid 2 hal 774]

*DALAM HAL PUASA
===========================================
Ma’aruf berkata,

“Aku selalu berpuasa. Jika aku diundang untuk makan, maka aku pun makan dan tidak kukatakan bahwa aku sedang berpuasa.” [Shifat ash-Shafwah, jilid 2 hal. 211]

Al Fallas menuturkan bahwa ia mendengar ibnu Abi Adi berkata, “Daud ibn Abi Hindun berpuasa selama empat puluh tahun, sementara keluarganya tidak mengetahuinya. Profesinya sebagai tukang jagal. Dia biasa membawa makan siangnya lalu menshadaqahkannya di tengah perjalanan.” [Nuhat al-Fudhala Jilid 2 hal 547]

*DALAM HAL MENYEMBUNYIKAN TANGISAN
===========================================
Syaikh Abdurrozaq suatu hari pernah menyampaikan mudhaharah tentang iman kepada hari kiamat. Beliau dengan sangat menggebu gebu menyampaikan dasyadnya hari kiamat sehingga timbul rasa ‘khauf’ yang sangat amat dalam hati para mahasiswa. Namun tiba tiba saja beliau terdiam, bahkan terpaku membisu. Para mahasiswa terkejut, ada apa gerangan…?

Beliau terus membisu hingga sekitar beberapa menit lamanya. Saat itu mata beliau berkaca kaca, dan hati pun bertanya tanya, “Ada apa gerangan? mengapa syaikh menahan tangisnya? bukankah jika beliau menangis di hadapan kami maka akan semakin menambah haru suasana dan menambah hidup wejangan wejangan beliau?”

Belakangan baru paham, bahwa keikhlasan memang perkara yang sangat berat lagi sangat mahal harganya. Dan yang lebih berat lagi adalah menjaga keikhlasan setelah memperolehnya. Dan memang merupakan kenyataan, bisa jadi seseorang ditimpa PENYAKIT UJUB dihadapan orang banyak. Bisa jadi.

Dikesempatan lain, beliau mengisi pengajian tentang berbakti kepada kedua orang tua. Saat itu beliau menjelaskan bahwa adanya orang tua di sebuah rumah merupakan hiasan rumah tersebut. Keberadaan orang tua menjadikan kehidupan di dalam sebuah rumah menjadi indah, dan ketiadaan mereka membuat kehidupan di rumah terasa gersang. Maka tiba tiba suara beliau berubah menjadi seperti orang yang hendak menangis. Beliau pun terdiam beberapa menit. Kemudian, beliau memberi isyarat seakan akan beliau hendak minum. Lantas tatkala beliau memegang gelas untuk minum, tangan beliau gemetar dan hampir hampir air yang ada di gelas itu tertumpah.

Ada pula sebuah kisah salah seorang salaf, Ayyub Asy-Syukhtiyani ketika menyampaikan sebuah nashihat, tiba tiba dia pun menangis karena terharu. Lantas, untuk menutupinya beliau mengatakan “Sesungguhnya influensa itu berat..”

*DALAM HAL TERKABULNYA DO'A
===========================================
Pada masa khalifah Muawiyah terjadi kemarau panjang dan paceklik. Tanaman meranggas, hewan ternak mati, dan manusia kehausan. Abdullah ibn al-Mubarak menuturkan, aku berada di Mekkah ketika orang orang ditimpa paceklik dan kemarau panjang. Mereka pun keluar ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat istisqa’. Akan tetapi hujan tidak juga turun. Disampingku ada seorang laki laki berkulit hita yang kurus. Kudengar ia berdoa

‘Ya Allah, sesungguhnya mereka telah berdoa kepada Mu, namun Engkau tidak memenuhinya. Sesungguhnya aku bersumpah kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan kepada mereka.’

Demi Allah, tak berapa lama kemudian, hujan pun turun kepada kami dan orang itu beranjak pergi. Aku mengikutinya hingga dia masuk ke sebuah rumah milik seorang penjahit. Keesokan paginya, aku mendatangi rumah itu sambil membawa beberapa dinar. Didepan rumah ada laki laki. Aku bertanya kepadanya, ‘Aku ingin menemui pemilik rumah ini’

‘Akulah orang yang engkau maksudkan’, jawabnya

Aku pun berkata, ‘Aku ingin sekali membeli budak dari dirimu.’

‘Aku mempunyai empat belas budak. Aku akan mengeluarkan mereka semua agar engkau dapat melihat mereka.’ katanya

Pemilik rumah itupun mengeluarkan keempat belas budaknya. Namun tak seorang pun diantara mereka yang aku inginkan. Aku bertanya, ‘Masih adakah lagi?’

Dia menjawab, ‘Aku mempunyai seorang lagi budak yang sedang sakit.’ Dia lalu mengeluarkan budak yang dimaksud, seorang budak kulit hitam.

Juallah budak ini kepadaku, pintaku.

‘Dia menjadi milikmu, wahai Abu Abdirrahman,’ katanya

Aku lantas menyerahkan empat belas dinar keadanya dan membawa budak itu. Ditengah perjalanan ia bertanya kepadaku, ‘Wahai tuanku, apa yang akan engkau perbuat kepadaku sementara aku sedang sakit?

Aku menjawab, ‘Aku tahu apa yang engkau lakukan kemarin sore.’

Budak itu menyandarkan diri ke dinding seraya berkata, ‘Ya Allah, kalau engkau membuatku terkenal maka cabutlah nyawaku’

Maka seketika itu pula budak itu jatuh dan meninggal dunia dan penduduk Mekah mengiringi jenazahnya [shifatu shafwah jilid 2 hal 177]

*DALAM HAL MENYEMBUNYIKAN MUSIBAH
===========================================
Syafiq al-Balkhi menuturkan, “Abdul Aziz ibn Abu Ruwad sudah buta semenjak dua puluh tahun, namun keluarga dan anaknya tidak mengetahui keadaannya itu. Suati hari sang anak memperhatikan keadaannya lalu berkata, ‘Wahai ayah, apakah engkau buta?’

‘Benar wahai anakkku.’ jawabnya, ‘Ini merupakan keridhaan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menjadikan ayahmu buta semenjak 20 tahun yang lalu” [Nuzhat al-Fudhala' jilid 2 halaman 713]

*DALAM HAL TAWADDHU' & MERENDAHKAN DIRI
===========================================
Syaikh Abdurrazaq pernah menjadi moderator saat Syaikh Muhammad bi Shalih al Utsaimin menyampaikan nashihat kepada para mahasiswa. Maka Syaikh Abdurrazaq memulai moderasinya dengan kalimat, ‘Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan mendengarkan mudhaharah yang akan disampaikan oleh ‘Al ‘Allamah’ Muhammad bin shalih..”

Tiba tiba saja Syaikh Muhammad bi Shalih al Utsaimin menimpali dengan suara yang lantang, “Uskut..!!!” (diaam..!!). Syaik Abdurrazaq pun tersentak mendengarnya. Beberapa saat kemudian, barulah beliau sadar bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin tidak ridha jika digelari ‘Al ‘Allamah atau orang yang sangat alim.

Seorang meminta izin kepada Syaikh Abdurrazaq untuk menerjemahkan buku beliau yang berjudul Fikhul Ad’iyaa wal Adzkar (Fikih Doa dan Dzikir) kedalam bahasa indonesia. Beliau mengizinkan dengan syarat: tatkala buku tersebut dicetak, nama beliau hanya ditulis ‘Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr’, tanpa embel embel gelaran Profesor Doktor. Begitu pula dengan buku buku beliau yang dicetak di Arab Saudi maupun di Aljazair, semua tanpa embel embel gelar tersebut. Padahal, sudah hampir 20 tahun beliau menyandang gelar profesor.

Bandingkanlah fenomena ini dengan kenyataan saat ini di kampus kampus. Terkadang permasalahan gelar menjadi hal yang teramat penting. Tidak jarang seorang dosen yang dibutuhkan tanda tangannya tidak mau membubuhkan tanda tangan karena penulisan gelarnya salah. Atau gelarnya bukan lagi doktor namun telah naik menjadi profesor.. Allahul musta’aan..

*DALAM HAL SADAQQAH
===========================================
Kisah ini sudah ma’aruf di telinga kita. Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar pada malam buta dan kemudian Thalhah memergokinya. Umar terus berjalan dan memasuki sebuah rumah, lalu masuk lagi ke rumah yang lain. Ketika pagi tiba, Thalhah datang ke rumah yang dimasuki Umar. Ternyata rumah itu adalah rumah dari seorang wanita tua dan buta yang sudah tidak mampu lagi berdiri. Thalhah bertanya, ‘Apa yang dilakukan orang yang mendatangimu semalam?’ Wanita tua itu menjawab, “dia sudah menyantuni aku semenjak sekian lama. Dia datang ke sini untuk memberikan apapun yang aku butuhkan sehingga aku tidak lagi menderita.”


Semoga yang sedikit ini dapat membawa manfaat bagi yang lain..
-----------------------------------------------------------------------------
+Credits To Irila (Yg Telah Nyalin Dari... )

- ‘Al – Akhfiya; Orang orang yang gemar menyembunyikan amal shalih mereka’ – Walid bin Sa’id Bahakam. 2010. Daun Publishing. Jakarta

- * Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah hingga ke Radio Rodja – Abu Abdil Muhsin Firanda. 2010. Pustaka Cahaya Sunnah..

Saturday, 24 November 2012

'Uwais Al-Qarni (1st Edition)



FEEL FREE TO CLICK ON RELATED ENTRIES :






Siapakah Uwais Al-Qarni? 

Daripada Abu Hurairah r.a., katanya : Telah bersabda Rasulullah saw (mafhumnya kira-kira)
 “Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla menyintai akan makhluuqNya yang bersifat : 


(i) al-asfiyaa` (iaitu orang-orang yang mempunyai hati dan rohani yang bersih, suci, jernih dan tulus dan benar-benar mendampingi Allaah swt) lagi bersifat 

(ii) al-akhfiyaa`(iaitu orang-orang yang mengasingkan diri mereka daripada orang ramai atau orang-orang yang ber'uzlah, yang diam-diam, yang sembunyi-sembunyi, kerana Allah swt) lagi bersifat 
(iii) al-abriyaa` (iaitu orang-orang yang terkena debu/berdebu, iaitu orang-orang yang kehidupannya adalah tersangat miskin, penuh pengorbanan dan kesabaran di atas kesusahan dan keperitan hidup yang mereka lalui kerana Allah swt) lagi bersifat 
(iv) asy-sya'ithah ruusuhum (iaitu orang-orang yang mana adalah rambut mereka kusut gemusut, tidak teratur, mungkin kerana sibuk dengan urusan-urusan ukhrowi dan juga menghadapi liku-liku kemiskinan hidup dan juga pengorbanan atas agama Allah swt) lagi bersifat 
(v) al-mughobbaroh wujuuhuhum (iaitu orang-orang yang mana wajah-wajah mereka penuh berlumuran debu, lantaran liku-liku kesusahan yang dihadapi dalam hidup mereka yang serba sederhana dan kekurangan dan kerana Allaah swt) lagi bersifat 

(vi) al-khomsoh butuunuhum (iaitu orang-orang yang tersangat kempis perut-perut mereka kerana kelaparan dan kurang makan, sama ada kerana sememangnya tiada makanan/miskin, atau pun kerana banyak berpuasa dsbnya), dan lagi bersifat 

(vii) iaitu orang-orang yang bila memohon keizinan (kebenaran/perkenan) daripada pemimpin-pemimpin maka tidak diizinkan atau tidak diperkenankan bagi mereka, dan lagi bersifat 

(viii) kiranya mereka meminang wanita-wanita yang berharta atau berkedudukan duniawi sedikit maka pinangan mereka ditolak (lam yunkahuu, iaitu mereka tidak akan dinikahkan dengan wanita-wanita tersebut) dan lagi bersifat 
(ix) kiranya mereka ghoib atau menghilangkan diri (daripada sesuatu majlis atau tempat mithalnya), maka mereka tidak akan dicari oleh orang lain (iaitu orang ramai tidak ambil kisah dengan kehilangan atau pemergian mereka) dan lagi bersifat 

(x) kiranya mereka muncul atau hadhir (dalam sesuatu majlis atau sesuatu tempat mithalnya), maka orang ramai tidak gembira dengan kemunculan atau kehadhiran mereka itu, dan lagi bersifat 
(xi) kiranya mereka jatuh sakit, maka mereka tidak diziarahi (iaitu orang ramai tidak melawat/ mengunjungi mereka), dan lagi bersifat 
(xii) kiranya mereka mati, maka mereka tidak didatangi atau dikunjungi (iaitu orang ramai tidak menziarahi mayat-mayat mereka). 



(Setelah mendengar sabdaan Baginda saw itu), maka mereka (ya'nii para sahabat r.a.) telah bertanya :
" Wahai Rasuulallaah, bagaimanakah bagi kami (untuk mendapatkan) seorang lelaki daripada mereka itu (iaitu orang-orang yang dicintai Allah swt yang mempunyai sifat-sifat di atas)? " 

Sabda Baginda saw : Itulah Uwais Al-Qoroniyy. 
Mereka (iaitu para sahabat r.a.) bertanya lagi : Dan bagaimanakah (sifat-sifat) Uwais Al-Qarniyy itu ? 

Sabda Baginda saw : 



  • (Dia) mempunyai mata yang agak kebiru-biruan dan juga berwarna kemerah-merahan/perang, di antara kedua bahunya agak jauh (ya'nii bidang dadanya), badannya lurus tegak seimbang bila berdiri, mempunyai warna kulit sawo matang (atau hitam manis), sentiasa cenderung dengan dagunya/janggutnya ke dadanya (ya'nii menundukkan kepalanya kerana tawadhu' dan banyak berzikrullah),
  • pandangan matanya sentiasa berada ditempat sujudnya, sentiasa meletakkan yang kanan di atas yang kirinya, sentiasa mentilawahkan Al-Quraan, sentiasa menangis atas dirinya, mempunyai dua helai kain usang/lusuh, tidak diendahkan oleh orang ramai (iaitu tidak diperhatikan dan tidak dipedulikan oleh orang ramai), sentiasa memakai kain sarung/izaar yang diperbuat daripada suuf (bulu) dan sentiasa memakai selendang yang juga diperbuat daripada suuf (bulu), 
  • tidak dikenali (majhuul) pada kalangan ahli bumi, dikenali (ma'ruuf) pada pandangan ahli langit, seandainya dia bersungguh-sungguh memohon kepada Allah swt pastilah Allah swt akan memberikan bahagian-bahagiannya, ketahuilah bahawa sesungguhnya di bawah bahunya yang kiri terdapat bintik putih, 
  • ketahuilah bahawa bila datang hari qiyamat nanti dikatakan kepada hamba-hamba: Masuklah kalian ke dalam syurga!, dan dikatakan kepada Uwais : Berhenti, dan mintalah syafaa'at ! Maka Allah 'Azza wa Jalla pun menerima syafaa'atnya seperti mana Robii'ah dan Mudhor. 

Wahai 'Umar! Wahai 'Ali, apabila kalian berdua telah berjumpa dengannya maka mohonlah kalian berdua kepadanya supaya dia memohon istighfaar (kepada Allaah swt) untuk kalian berdua, nescaya Allah akan mengampun kalian berdua (menerusi istighfarnya itu).

(Perawi) meneruskan cerita (mafhumnya): Maka mereka berdua (iaitu 'Umar dan 'Ali r.huma) terus menanti dan mencari akan Uwais rah.a. selama sepuluh tahun, tetapi mereka berdua tidak mampu (tidak berpeluang) untuk bertemu dengannya. 

Tetapi pada akhir tahun itu (iaitu tahun kewafatan 'Umar r.a.), maka 'Umar .r.a. terus naik ke Bukit Abu Qubais (iaitu sebuah bukit yang berhampiran dengan Masjidil Haram) lalu menyeru dengan suaranya yang kuat: 

"Wahai ahli-ahli haji (iaitu jemaah-jemaah haji) daripada Yaman ! Adakah Uwais di kalangan kalian ?"

Maka lalu berdirilah seorang tua yang berjanggut panjang dan menjawab: 


"Sesungguhnya kami tidak tahu akan siapakah itu Uwais. Akan tetapi, saya ada seorang anak saudara yang dipanggil Uwais, sebutannya/namanya tidaklah gah pada pandangan orang ramai (iaitu dia adalah amat tidak masyhur), lagi pula dialah yang paling tidak memiliki harta, dan segala urusannya sangat mudah, malah jauh lebih mudah daripada apa yang dapat saya terangkan kepada tuan, dan sesungguhnya dia adalah yang menjaga/mengembala unta kami, dan pada pandangan kami dia adalah seorang yang tidak berharga (iaitu dipandang rendah olehorang ramai).:

(Daripada penerangan itu), 'Umar r.a. masih merasa samar-samar lagi, seolah2 beliau tidak mahu akan dia (ya'nii tidak menduga akan dia). Lalu 'Umar r.a. pun bertanya lagi: Anak saudara kamu tu, adakah dia berada di Haram kita ini ? 

Jawab orang tua yang berjanggut panjang itu : Na'am (Ya). 

Tanya 'Umar lagi: Di manakah ianya boleh didapati? 

Jawab orang tua itu: Nescaya dia memperlihatkan dirinya kepada tuan di 'Arafah. 

(Perawi) melanjutkan ceritanya lagi (mafhumnya): Maka 'Umar dan 'Ali r.huma pun dengan segera menunggang menuju ke 'Arofah, maka disana mereka berdua mendapati seorang yang sedang berdiri solat, ke arah sebatang pokok, dan ada unta di sekelilingnya yang sedang merumput. 


Maka mereka berdua r.a. pun menambat kedua ekor himar mereka kemudian menghadapi lelaki itu sambil berkatalah mereka berdua: Assalaamu'alaikum wa rahmatullaah! 

Uwais rah.a. meringankan (memendekkan) solatnya kemudian menjawab : 

Assalaamu'alaikumaa warohmatullaah! 

Mereka berdua r.a. bertanya: Siapakah lelaki ini (siapa saudara?) 

Jawab Uwais rah.a.: (Saya) adalah seorang pengembala atau penjaga unta dan juga seorang pelayan kepada suatu kaum.

Mereka berdua r.huma membalas: Bukanlah kami bertanya tentang penjagaan /pengembalaan itu, dan bukan juga tentang pelayanan. "Siapa nama saudara ?"

Jawab Uwais rah.a: 'Abdullaah (hamba Allaah). 

Balas mereka berdua r.huma. lagi: 

"Sesungguhnya kami sudah mengetahui bahawa semua ahli langit dan ahli bumi adalah 'Abiidullah (hamba-hamba Allah). Siapakah nama saudara yang mana ibu saudara telah menamakan saudara?"

Jawab Uwais rah.a:" Eh tuan berdua ni ! Sebenarnya apakah yang tuan berdua hendakkan daripada saya ? "

Jawab mereka berdua: 

"Telah menjelaskan kepada kami Muhammmad saw akan sifat-sifat Uwais Al-Qarni, maka sesungguhnya kami telah kenal akan kemerah-merahan dan kebiru-biruan (matanya), dan baginda saw telah mengkhabarkan kepada kami bahawa di bawah bahunya yang kiri ada bintik putih maka jelaskanlah/terangkanlah akan perkara itu kepada kami berdua, maka sekiranya tanda-tanda itu ada pada saudara maka saudaralah dia (iaitu Uwais) yang sebenarnya."
Maka Uwais rah.a. pun menjelaskan (menunjukkan) tanda di bawah bahunya, maka memang benarlah terdapat bintik yang tersebut, maka mereka berdua r.huma pun saling berebut-rebut untuk mengucup akan dia. 


Dan mereka berdua r.huma berkata: 

"Kami naik saksi bahawa saudaralah Uwais Al-Qoroniyy! 
Maka beristighfarlah (ya'nii mohonlah maghfiroh/keampunan kepada Allah) untuk kami berdua, 
semoga Allah swt memberikan maghfiroh untuk saudara!"

.