Showing posts with label Syariat. Show all posts
Showing posts with label Syariat. Show all posts

Tuesday, 27 November 2012

Mengenal Ruh ( Takrif Rohani )


FEEL FREE TO CLICK ON RELATED POST





Takrif Rohani kepada Ahli Syariat
 :-
Rohani itu adalah berhimpun tujuh perkara :-
1.       Hati
2.       Niat
3.       Ikhlas
4.       Ilmu
5.       Cita-cita
6.       Tasdiq
7.       Mahgrifat

      Ahli Syariat berpendapat yang dinamakan Rohani itu adalah didalam tubuhnya berpandukan martabat Firman,”Tiap2 yang bernyawa itu mati”, maka yang bernama Rohani itu keluarlah daripada jasadnya.

Takrif Rohani kepada Ahli Tarikat:-
      Ahli Tarikat berpendapat yang bernama Rohani itu ialah nyawa yang keluar masuk melalui dua lubang hidungnya berpandukan martabat Firman,”Tiap2 yang bernyawa itu mati”, maka yang bernama Rohani itu keluarlah daripada jasadnya.

Takrif Rohani kepada Ahli Hakikat:-
      Ahli Hakikat berpendapat yang dinamakan Rohani itu ialah Sifat Fardhu, maka dinamakan Fardhu Ma’ani.  Fardhu Ma’ani itu:-
1.       Haiyun (hidup)
2.       Ilmu (tahu)
3.       Kudrat (kuasa)
4.       Iradat (berkehendak)
5.       Samaq (dengar)
6.       Basar (lihat)
7.       Kalam (berkata-kata)

Maka Rohani itulah nyawa pada orang2 yang Mukmin dan tubuh pada Rohani itulah dinamakan Jasmani. Diri kita diakhirat itulah Rohani dan Jasmani. Rohani itulah yang bernama Muhammad. Erti Rohani itu perbendaharaan dalam tempat kecintaan Tuhan. Jadilah Rohani itu dengan kajian ilmu yang bernama Ilmu Rohani. Barangsiapa mengenal Rohnya, maka bergembiralah ia diakhirat. Sebaliknya barangsiapa yang tiada mengenal Rohnya, maka dukacitalah ia diakhirat.

Takrif Rohani kepada Ahli Ma'arifat:-
Ahli Ma'arifat berpendapat bahawa Rohani itu adalah satu Mufrad Nurani. Rohani itu ialah Afa’al Muhammad, maka nyawa Rohani itu bernama Roh Idofi dan Rohani itu dikehendaki menjadi hati kepada orang2 Mukmin kerana segala pekerjaan dunia ini adalah dengan Rohani. Rohani itulah hati yang dinamakan Latifatul Kalb. Bayang2 Rohani itu dinamakan Jasmani.

Maka hendaklah seseorang itu mengingati Rohaninya setiap hari. Orang2 yang tidak berdamping dengan Rohaninya belumlah sempurna darjatnya dengan Insan Kamil Wa Kamil. Dalam al-Quran mengatakan:-
“Senanglah Roh2 yang telah beramal soleh masa hidupnya. Azablah Roh2 yang telah membuat maksiat dalam hidupnya”.
Rugilah mereka yang tidak mengenal  nyawanya (Rohani). Beruntunglah mereka yang mengenal nyawanya (Rohani). Maka untuk mengetahui lebih lanjut berkenaan dengan Rohani iaitu hati kita yang beriman kepada Allah dan diri kita diakhirat, pelajarilah ilmu Rohani untuk keselamatan dunia dan akhirat.

Hadith mengatakan,” Barangsiapa derhaka kepada guru (Mursyid) adalah jadi kafir. Hanya Imam Abu Hassan Basri bila muridnya yang benar Wasil yang derhaka kepadanya hanya dinamakannya MUKTAZILLAH sahaja. 

Maka dari Wasil itulah pengasas mazhab MUKTAZILLAH sedunia. Memang peristiwa murid yang mempelajari ilmu ma'arifat ada yang derhaka kepada gurunya yang mursyid dalam tiap2 masa dan zaman. Oleh kerana demikian jarang2 Arifin Billah yang mahu mengajar pada semua orang tentang ilmu ma'arifat..

Sebagaimana yang difahamkan oleh ahli Rohaniah bahawa semua nyawa yang ada dalam alam ini adalah daripada terpancarnya Rohul Qudus, yang memakai Sifat Jalal dan Jamal yang tidak ada kepadanya ialah sifat2 Kamal dan Kahar. Daripada Rohul Qudus itula terbit amalan yang dinamakan oleh ahli Sufi:-

  1. SYUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH
  2. SYUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH

Hanya mereka yang tahu Syuhud yang dua itu sahaja yang beroleh sembahyang Daiem yang dikatakan sebenar-benar beramal soleh. Orang2 yang tidak mempelajari ilmu Tasauf dari guru yang mursyid walaupun ia pandai dalam ilmu Usulludin, tetapi pada hakikatnya tetap tidak akan kenal akan nyawanya yang sebenar dan tubuhnya tetap sebagai orang2 awam juga. Dengan itu maka jadilah:-

  1. Takkan sama ilmu seorang Nabi dengan Rasulullah SAW
  2. Takkan sama ilmu seorang Sufi dengan Nabi2
  3. Takkan sama ilmu orang2 Syariat dengan orang2 Sufi
  4. Takkan sama ilmu orang2 awam dengan orang2 Rohaniah
  5. Takkan sama ilmu orang2 yang membaca kitab2 tanpa guru dengan orang2 yang berguru. ( Orang2 yang membaca kitab2 tanpa guru adalah syaitan gurunya )

Oleh itu menjadi syarat pada orang2 yang ingin mempelajari ilmu yang delapan (salah satunya ialah ilmu Tasawwuf)  berhati-hati jangan berguru dengan guru yang derhaka kepada gurunya. Kesesatan yang banyak berlaku pada mereka yang mempelajari Ilmu Batin kerana berguru pada guru2 yang berasal gurunya derhaka kepada gurunya, maka faham yang demikian rupalah yang tidak mengambil berat akan perintah syariat dengan alasan mengetahui Daiem padahal Daiem yang tidak benar.

  • Tidak ada Nabi2 yang meninggalkan Syariat
  • Tidak ada Wali2 Allah yang meninggalkan Syariat kecuali apabila ia Majzub, Wujdan dan Fana Kamil
  • Tidak ada ugama yang tidak sembahyang

Maka sembahyang yang diredhai dan diterima Tuhan ialah sembahyang yang datangnya dari ajaran Rasulullah SAW tanpa tambah dan kurang dan tanpa alih bahasa, ia tetap dalam konteks bahasa Arab. 

Perbezaannya tak akan sama sembahyang seorang ahli taqwa dengan seorang awam walaupun bacaannya sama kerana sembahyang itu berkehendakan:-

  1. Tubuhnya sembahyang
  2. Hatinya sembahyang
  3. Jiwanya sembahyang
  4. Nyawanya sembahyang
  5. Rahsia (sirr) nya pun sembahyang

Maka semuanya diatas bersatu menyembah Tuhan yang Maha Esa. Jika satu sama lain tidak bersatu dalam satu gus maka jadilah pura2 namanya. Maka roh2 yang tersebut terpaksa sembahyang bersama-sama tubuhnya itu.

+Credits : ITC Batch 6

Sunday, 14 October 2012

Tasawwuf Dalam Hubungan Syariat



FEEL FREE TO CLICK ON RELATED POST





Agama dan ilmu pengetahuan memiliki kebenaran dan karakteristiknya sendiri yang sangat jelas, sehingga bisa menjadi “alat ukur” untuk mengungkap berbagai kebohongan dan kebatilan yang telah dilontarkan oleh para pendusta. Begitu juga dengan tasawuf.

Kami kemukakan hal di atas, karena berkaitan dengan apa yang pernah kami dengar berkaitan dengan adanya bid’ah dlalalah (bid’ah yang sesat) yang telah meresap dalam sebagian hati orang-orang yang belum mendalami agama secara khusus dan tasawuf secara umum.


Bid’ah ini memandang bahwa seseorang yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat tertentu, ia dibebaskan dari kewajiban syari’at, sehingga ia boleh meninggalkan shalat, zakat, haji dan lain-lain yang telah menjadi kewajiban seorang muslim.

Ironisnya, pandangan tersebut pertama kali dimunculkan oleh mereka yang menggeluti bidang hukum dan syari’at. Mereka mengaku bahwa dirinya telah sampai pada tingkat ma’rifat tasawuf yang tertinggi dan sampai pada satu kondisi yang menurut anggapan mereka sudah tidak diwajibkan lagi menjalankan kewajiban-kewajiban syari’at.


Ketika saya melacak sumber “ma’arifat” mereka, maka anda pasti akan sangat heran, karena sumber pengetahuan mereka tidak lain adalah ruh-ruh yang sengaja mereka hadirkan – yang menurut mereka – melalui perantaraan tubuh seseorang. Ruh-ruh tersebut memberikan informasi kepada mereka mengenai berbagai persoalan ghaib dan lain-lain.

Perbuatan bid’ah yang berupa “menghadirkan ruh” telah bgitu tersebar dan populer di kalangan mereka. Kegiatan tersebut telah menjadi “agama” mereka. Dalam pandangan mereka, informasi yang diberikan ruh tersebut mengalahkan kedudukan al-Qur’an dan Sunnah.

Lebih ironis lagi, mereka justeru mengaku sebagai pengamal ajaran tasawuf. Mereka menganggap diri mereka sebagai tokoh sufi, orang ‘arif dan orang yang memperoleh ilham. Bahkan ada yang sudah keterlaluan karena mengaku sebagai seorang wali. Ada juga yang mengaku sebagai seorang rasul. Bahkan ada yang berani mengaku bahwa dirinya adalah Isa (‘alaihi salam), kemudian ada juga yang mengaku sebagai Nabi Muhammad Saw.

Yang lebih keterlaluan lagi, ada yang bahwa “kemanusiaan” yang ada dalam dirinya telah lenyap dalam sekejap, kemudian mengaku kepada para pengikutnya bahwa “Tuhan telah menyatu dengan dirinya”. Semua pengakuan orang tersebut selalu diperkuat dan didukung oleh ruh yang dihadirkannya. Ruh tersebut selalu membenarkan apa yang dikatakan orang tersebut. Maha Benar Allah Swt, karena Dia memberikan perumpamaan tentang orang yang berhubungan dengan jin dan berpaling dari jalan kebenaran.

“Dan ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” Qs. Al-Jin; 6).

Mungkin anda akan bertanya: “Apakah ada hubungan antara menghadirkan ruh dengan tasawuf?” Jawaban ahli tasawuf tentang hal itu sangat jelas, bahwa antara menghadirkan ruh dengan tasawuf sama sekali tidak memiliki keterkaitan, justeru sebaliknya, keduanya saling bertentangan. Para ahli tasawuf menganggap bahwa menghadirkan ruh termasuk perbuatan pembodohan, karena hal itu sama saja dengan bekerja sama dengan jin dan syaitan. Allah Swt berfirman tentang hal itu.

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta” (Qs. Al-Syu’ara; 221-223).

Allah Swt juga berfirman: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk” (Qs. Al-Zuhruf; 36-37).

Tujuan tulisan kami di sini hanyalah untuk menjelaskan pandangan tasawuf tentang “gugurnya kewajiban-kewajiban syari’at”. Persoalan ini sering dianggap bukan sebagai sesuatu yang bid’ah (mengada-ada) oleh mereka yang mengaku sebagai orang sufi di era modern ini. Sesungguhnya, persoalan tersebut merupakan kesesatan yang telah ada sejak lama dan telah muncul di tengah-tengah masyarakat, kemudian dianggap sebagai salah satu dasar ajaran tasawuf. Suatu anggapan yang sangat keliru dan ditentang oleh tokoh-tokoh sufi yang sejati kapanpun dan di manapun mereka berada.

Yang pasti, jika ada beberapa problem atau permasalahan, maka yang menjadi rujukan dalam penyelesaiannya adalah mereka yang benar-benar menguasai bidang permasalahan tersebut. Oleh karena itu, ketika kami merujuk pada tokoh-tokoh tasawuf yang tidak lagi diragukan kredibilitasnya, baik mereka yang hidup di masa lalu maupun di era modern sekarang ini, semuanya sangat mengingkari dan menentang pendapat di atas. Mereka menganggap bahwa gagasan tentang “gugurnya kewajiban syari’at” merupakan gagasan atau pendapat yang menyesatkan, penuh kebohongan dan tidak sejalan dengan ajaran agama secara umum.Kami akan membicarakan tentang pendapat sebagian ahli tasawuf klasik mengenai persoalan tersebut.
Abu Yazid al-Busthami pernah berkata kepada salah seorang temannya: “Marilah kita sama-sama melihat seorang lelaki yang mengaku dirinya sebagai seorang wali” – dan dia memang dikenal ke-zuhud-annya. Kemudian, ketika laki-laki tadi keluar dari rumahnya dan memasuki masjid, dia membuang ludahnya ke arah kiblat. Melihat kejadian tersebut, Abu Yazid langsung bergegas meninggalkannya dan tidak memberi salam kepadanya, lalu beliau berkata: “Laki-laki tadi tidak bisa mengamalkan akhlaq Rasulullah Saw, bagaimana mungkin pengakuannya (sebagai seorang wali) bisa dipercaya?”
Abu Yazid al-Busthami juga pernah berkata: “Kalian jangan tertipu, jika kalian melihat seseorang yang memiliki karamah -meski dia bisa terbang di udara-, sampai kalian melihat bagaimana orang tersebut melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah Swt, menjaga dirinya dari hudud (hukum pidana Allah Swt) dan bagaimana dia melaksanakan syari’at Allah Swt.”
Sahl al-Tusturi mengatakan tentang pinsip-prinsip dasar tasawuf: “Dasar-dasar tasawuf itu adalah tujuh, yaitu berpegang teguh pada al-Qur’an; meneladani Sunnah Nabi Muhammad Saw; memakan makanan yang halal; menahan diri dari menyakiti (orang lain); menjauhi maksiyat; senantiasa bertaubat; dan memenuhi segala yang telah menjadi kewajibannya”.
Al-Junaid, seorang tokoh dan Imam para sufi, berkata – sebagaimana dikutip oleh al-Qusyairi: “Barang siapa yang tidak menghafal al-Qur’an dan tidak menulis hadits, maka janganlah ia mengikuti jalan tasawuf ini, karena ilmu kami ini berasal dari dalil-dalil al-Qur’an dan sunnah.” Beliau menambahkan: “Ilmu kami ini selalu diperkuat dengan hadits Rasulullah Saw”. Beliau juga berkata: “Pada dasarnya jalan tasawuf itu tertutup bagi semua orang, kecuali bagi mereka yang memilih jalan yang ditempuh Rasulullah Saw, mengikuti sunnahnya dan terus tetap berada di jalannya.”
Pernah ada seorang laki-laki yang menuturkan tentang ma’rifat di hadapan al-Junaid dengan berkata: “Ahli ma’rifat kepada Allah Swt akan sampai pada satu kondisi dimana ia bisa meninggalkan perbuatan baik apapun dan ber-taqarrub¬ kepada Allah Swt”. Mendengar perkataan orang tersebut, al-Junaid berkata: “Itulah pendapat sekelompok orang yang menyatakan tentang ‘gugurnya amal perbuatan’, dan hal ini, menurutku, merupakan suatu kesalahan atau dosa yang sangat besar. Bahkan orang yang mencuri dan bezina masih lebih baik keadaannya daripada orang yang mengatakan pendapat tersebut”.
Jika kita menengok pada Imam al-Ghazali, maka kita akan melihat bahwa beliau menyatakan pendapatnya dengan tegas, jelas dan kuat argumentasinya.
 “Ketahuilah, bahwa orang yang menempuh perjalanan menuju Allah Swt itu sangat sedikit jumlahnya, namun mereka yang mengaku-aku sangat banyak jumlahnya. 
Kami ingin anda mengetahui seorang salik yang sebenarnya, antara lain; semua amal perbuatannya yang bersifat ikhtiyari selalu selaras dengan aturan-aturan syari’at, baik keinginannya, aktualisasinya maupun performansinya. Karena tidak mungkin bisa menmpuh jalan tasawuf, kecuali setelah ia benar-benar menjalankan syari’at. Tidak ada orang yang akan sampai (pada tujuan tasawuf), kecuali mereka yang selalu mengamalkan amalan-amalan sunah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seseorang yang meremehkan kewajiban-kewajiban syari’at bisa sampai (pada tujuan tasawuf tersebut)?”

Jika anda bertanya: “Apakah kedudukan salik akan sampai pada suatu tingkatan di mana ia boleh meninggalkan sebagian yang menjadi kewajiban syari’atnya dan atau melakukan sebagian perbuatan yang dilarang oleh syari’at, sebagaimana pendapat sebagian syeikh yang menggampangkan persoalan tersebut?”
Jawabanku: “Ketahuilah, bahwa pendapat tersebut merupakan bentuk tipuan dan kebohongan yang nyata, karena orang-orang sufi sejati mengatakan: ‘Jika engkau melihat seseorang yang dapat terbang di atas udara dan berjalan di atas air tetapi dia melakukan satu hal yang bertentangan dengan syari’at, maka ketahuilah bahwa dia adalah syaitan’.”
Selanjutnya, kita sampai pada pendapat Abi Hasan al-Syadzali yang mengatakan: “Jika kasyf-mu bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka berpeganglah kepada al-Qur’an dan Sunnah dan abaikanlah kasyf-mu itu, lalu katakan pada dirimu sendiri; sesungguhnya Allah Swt telah memberikan jaminan tentang kebenaran al-Qur’an dan Sunnah kepadaku, tetapi Allah Swt tidak memberikan jaminan kepadaku tentang kebenaran kasyf, ilham dan musyahadah kecuali setelah dikonfirmasikan dengan al-Qur’an dan Sunnah”.
Orang-orang sufi mengikuti semua petunjuk yang berupa nash al-Qur’an dan Sunnah, baik Sunnah qauliyah (perkataan Nabi) maupun Sunnah ‘amaliyah (perbuatan Nabi). Mereka pasti sangat menyadari akan kebenaran sejarah bahwa Rasulullah Saw adalah contoh ideal dalam segala hal hingga akhir hayatnya.

Itulah beberapa pendapat dari kalangan sufi klasik. Sebagai penutup, kami kutipkan sebuah hadits Nabi Muhammad Saw. Beliau pernah ditanya tentang sekelompok orang yang meninggalkan amal perbuatan atau kewajiban agama, tetapi mereka ber-husnu al-dzan (berprasangka baik) kepada Allah Swt. 

Rasulullah Saw menjawab: “Mereka itu bohong, kalau mereka itu berprasangka baik, tentu baik pula amal perbuatan mereka”.

+Credits to Alifbraja


.