Showing posts with label Asma'. Show all posts
Showing posts with label Asma'. Show all posts

Wednesday, 22 May 2013

ASMA AGUNG, NAMA AGUNG @ ISMU AZDHOM YANG DIAMALKAN OLEH IMAM MUSA AL KAZIM

                                               BISMILLAH-IR-RAHMAAN-IR-RAHIIM


Feel free to click older entries regarding Ismu Azdhom Imam Musa Al Kazim Ibnu Imam Ja'afar As-Sadiq Rahimullah-u Ta'ala

* Ismu Azdhom Entry Saturday, 24th November 2012
* Ismu Azdhom Entry Wednesday, 22nd May 2013



ISMUL A’ZAM YANG DI AMALKAN OLEH MUSA AL-KADHIM IBNU JA’FAR S-SHADIQ

KETERANGAN:
       Pada suatu peristiwa, khalifah Al-Rasyid telah menahan seorang ulama besar bernama Musa Al-Kazim bin Ja’far Shadiq pada suatu tempat tahanan karena ada terdengar fatwanya di masyarakat yang sifatnya tidak menyetujui tindakan khalifah dalam beberapa hal. Tetapi anehnya dalam waktu tidak beberapa lama kemudian khalifah memanggil penjaga pintu tahanan agar Musa Al-Kazim segera di keluarkan dan di beri hadiah sebesar 30.000 dirham.
          Penjaga pintu bertanya kepada khalifah: “ Apakah sebabnya wahai Amirul Mukminin maka demikian?”.
          Khalifah menjawab: “ Malam tadi ketika aku sedang tidur, aku bermimpi seorang lelaki dengan pisau terhunus datang kepadaku dan berkata ‘lepaskan Musa Al-Kazim, dia di fitnah dan di dzalim. Jika tidak saya akan menikam-mu dengan pisau ini’. Saya merasa seram terhadap mimpi ini. Lepaskanlah dia”.
          Dengan segera penjaga pintu itu pergi ke tempat tahanan dimana Musa Al-Kazim di tahan. Pintu tahanan segera di buka dan di persilakan beliau keluar.
          Di saat itu penjaga pintu menerangkan kepada Musa Al-Kazim tentang mimpi yang terjadi diri khalifah.
          Musa Al-Kazim berkata: “ Saya selama dalam tahanan dan bermimpi berjumpa dengan Rasulullah Salla Allahu 'Alayhi Wassallam  lalu Baginda Salla Allahu 'Alayhi Wassallam  mengajarkan kepadaku kalimat Ismul A’zam. Rasululah Salla Allahu 'Alayhi Wassallam berkata: ‘bacalah kalimat itu (do’a tersebut di atas), Allah akan memelihara kamu. Kalimat-kalimat itu lalu saya baca dan saya amalkan selama dalam tahanan ini."



مما حكاه ابن خلكان في ترجمة موسى الكاظم بن جعفر الصادق:
أن هارون الرشيد حبسه في بغداد ثم ذات يوم دعا ضابط شرطته،
 فقال له:
رأيت حبشياً أتاني ومعه حربة وقال لي:
 إن لم تخل عن موسى بن جعفر نحرتك بهذه الحربة فاذهب فخل عنه وأعطه ثلاثين ألف درهم.
 وقل له إن أحببت المقام عندنا فلك عندي ما تحب ،
وإن أحببت المضي إلي المدينة فامض. 
قال صاحب الشرطة:
ففعلت ذلك وقلت له (أي لموسى الكاظم) رأيت من أمرك عجباً؟ 
فقال:
أنا أخبرك، بينما أنا نائم إذ أتاني رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال:
يا موسى حبست مظلوماً فقل هذه الكلمات فإنك لا تبيت هذه الليلة في السجن .. قل:


يا سامع  كل صوت،
YAA SAMI’A KULLI SHOUTIN
Wahai Dzat yang mendengar setiap suara
ويا سابق  كل فوت
WA YAA SAABI'QA KULLI FAUTIN,
Wahai Dzat yang mendahului setiap yang berlalu
ويا كاسي  العظام  لحماً ـ ومنشرها  بع د الموت 
WA YAA KAASIYAA-L 'IZHOOMA LAHMAN
WA MUNSHI- RAHAA BA’DAL MAAUT
Wahai Dzat Yang membalut tulang dengan daging
~ kemudian memisahkannya setelah mati
أسألك  بأسمائك  العظام،
AS -AALUKA   BI- ASMAA-IKA -AL ‘IZHOOM
aku memohon dengan NAMA-MU YANG AGUNG
وباسمك  الأعظم  الأكبر  المخزون  المكنون
WA BI-ISMIKA-AL  A'ZHOOM AL- AKBAR  , AL- MAKH-ZUUN  -IL  MAK.NUUN 
dengan Nama-MU Yang Maha Agung Yang Maha Besar
yang tersembunyi & tersimpan
الذي  لم  يطلع  عليه  أحد  من  المخلوقين.
AL-LA DZII   LAM  YATH-THAL'IQ   ‘A-LAY.HI     AHAD.UN  MIN.AL MAKHLUUQ.EEN
yang sesungguhnya, tidak diketahui ke atasnya 
oleh seorangpun dari kalangan makhluq
يا  حليماً  ذا  أناة، 
YAA HALIIMAN      DZAA   ANAAHH 
Wahai Dzat Yang Maha Lemah Lembut Maha Kasih Sayang, 
tidak terbatas kasih sayang-MU
لا يقدر  على  أناته  أحد.
LAA YU.QODDARU   ‘ALAA   ANAA-TIH.II     AHAD-UN,
tidak terbatas ke atasnya satu pun
يا  ذا  المعروف  ـ  الذي  ل ا ينقطع  معروفه  أبداً،
YAA  DZAL MA’RUUF     ~ AL-LA DZII   LA  YANK- QATHI ’U    MA’RUUFUHU  ABADAN
Wahai Dzat Yang Mempunyai Kebaikan
sesungguhnya tidak terputus kebaikan-MU selama-lamanya abadi
ولا  نحصي  له  عدداً 
 WALAA TUHSHAA LAHUU   ‘ABADAN
dan tidak terhitung banyaknya

افرج عن
 FARRIJ ‘ANNII.
semoga kiranya Engkau mengeluarkan aku @ menyelamatkan aku 


فكان ما ترى!

Saturday, 16 February 2013

Al Hasiib, Yang Memberi Kecukupan


Dasar penetapan

Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha agung ini disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an:
وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
Dan cukuplah Allah sebagai pemberi kecukupan” (an-Nisaa’: 6).
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapapun  selain kepada-Nya. Dan cukuplah Allah sebagai pemberi kecukupan” (al-Ahzaab: 39).
Berdasarkan ayat di atas, para ulama menetapkan nama al-Hassib sebagai salah satu dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla yang maha indah, seperti Imam Ibnul Atsir[1], Ibnu Qayyim al-Jauziyyah[2], Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di[3], Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin[4], dan lain-lain.

Makna nama Allah Subhanahu wa Ta’ala al-Hasiib dan penjabarannya
Imam Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan empat makna, salah satunya adalah al-kifaayah (memberi kecukupan)[5]. Makna asal secara bahasa ini juga disebutkan oleh imam al-Fairuz Abadi[6] dan Ibnu Manzhur[7]. Imam Ibnul Atsir menjelaskan bahwa makna nama Allah ‘Azza wa Jalla ini adalah al-Kaafi (Yang Maha Memberi kecukupan)[8].
Maka makna nama Allah ‘Azza wa Jalla al-Hasiib adalah Yang Maha Mencukupi hamba-hamba-Nya dalam semua kebutuhan mereka, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia, Dia yang memudahkan bagi mereka segala kebaikan dan mencegah dari mereka segala keburukan[9].
Termasuk makna nama-Nya al-Hasiib adalah bahwa maha menjaga, menghitung dan mengetahui semua amal perbuatan para hamba-Nya, membedakan antara amal yang baik dan buruk, serta mengetahui balasan yang berhak mereka dapatkan dan kadar pahala atau siksaan yang mereka terima[10].
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di memerinci penjabaran makna nama Allah Ta’ala yang maha agung ini dalam ucapan beliau: “Al-Hasiib adalah yang maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya, yang maha memberi kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya, dan maha memberikan balasan (yang sempurna) bagi para hamba-Nya dengan kebaikan atau keburukan sesuai dengan hikmah-Nya (yang maha tinggi) dan pengetahuan-Nya (yang maha sempurna) tentang amal perbuatan mereka yang besar maupun kecil.
Al-Hasiib (juga) bermakna yang maha mengawasi dan memperhitungkan (amal perbuatan) hamba-hamba-Nya, serta memberikan balasan bagi mereka dengan keadilan (yang sempurna) dan keutamaan (dari-Nya). Juga bermakna yang maha mencukupi hamba-Nya dalam (segala) kesedihan dan kekalutannya. (Makna yang) lebih khusus dari semua itu, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala maha memberi kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq: 3).
Artinya, Allah akan memberikan kecukupan baginya dalam (segala) urusan agama dan dunianya.
Demikian juga al-Hasiib adalah yang maha menjaga dan memperhitungkan semua amal perbuatan hamba-hamba-Nya, yang baik maupun buruk, (kemudian memberikan balasan yang sempurna), jika amal baik maka akan mendapatkan balasan yang baik, dan jika buruk maka akan mendapatkan balasan yang buruk. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين
Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikuti (petunjuk)mu” (QS al-Anfaal:64).
Artinya: Allah akn memberikan kecukupan (perlindungan) bagimu dan bagi orang-orang yang mengikuti (petunjuk)mu. Maka kecukupan (dari) Allah bagi hamba-Nya adalah sesuai dengan kesungguhan hamba tersebut dalam mengikuti (petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir dan batin, juga sesuai dengan penghambaan dirinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla[11].

Pembagian sifat “memberi kecukupan” dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada makhluk-Nya
Kecukupan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada makhluk-Nya ada dua macam, yaitu:
1. Kecukupan yang bersifat umum meliputi semua makhluk-Nya, yang beriman maupun yang kafir, yang taat kepada-Nya maupun yang durhaka, yaitu dengan menciptakan, menolong, menyiapkan dan memberikan segala keperluan untuk kelangsungan hidup mereka di dunia, berupa makanan, minuman dan penunjang kehidupan dunia lainnya.

2. Kecukupan yang bersifat khusus dari-Nya, ini hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan bertawakkal kepada-Nya. Dengan inilah Allah Ta’ala memperbaiki dan meluruskan semua urusan mereka, baik yang berhubungan dengan agama maupun dunia[12].
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).
Artinya: Barangsiapa yang percaya kepada Allah dalam memasrahkan (semua) urusan kepada-Nya maka Dia akan mencukupi (segala) keperluan dan urusannya, baik yang berhubungan dengan agama maupun dunia[13].
Salah seorang ulama salaf berkata: “Cukuplah bagimu untuk melakukan tawassul (sebab yang disyariatkan untuk mendekatkan diri) kepada Allah adalah dengan Dia mengetahui (adanya) tawakal yang benar kepada-Nya dalam hatimu, berapa banyak hamba-Nya yang memasrahkan urusannya kepada-Nya, maka Diapun mencukupi (semua) keperluan hamba tersebut”. Kemudian ulama ini membaca ayat tersebut di atas[14].
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين
Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikuti (petunjuk)mu” (QS al-Anfaal:64).
Ayat ini menunjukkan bahwa kecukupan (khusus) dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-Nya adalah sesuai dengan kadar keimanan dan kesungguhan hamba tersebut dalam mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[15].

Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah al-Hasiib
Keimanan yang benar terhadap nama-Nya yang maha agung ini akan menumbuhkan dalam diri seorang hamba sikap tawakkal (penyandaran hati) yang benar kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang ini merupakan sebab utama untuk meraih kecukupan dan pertolongan dari-Nya dalam semua urusan yang dihadapi hamba tersebut. Maka jika seorang mukmin bertawakkal dengan benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan dia menyandarkan hatinya secara utuh dan sempurna kepada-Nya dalam mengusahakan semua kebaikan dan mencegah semua keburukan, disertai dengan keyakinan dan sangka baik kepada-Nya, maka Allah Ta’ala akan memberikan kecukupan yang sempurna kepadanya, memperbaiki keadaannya, meluruskan semua ucapan dan perbuatannya, serta melapangkan semua kesusahan dan kesedihannya.
Ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan bahwa penghambaan diri dan tawakkal yang benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan perkara yang wajib dilakukan untuk meraih kecukupan dari-Nya yang khusus diperuntukkan-Nya kepada para kekasih-Nya dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya[16]. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq: 3).
Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
Bukankan Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS az-Zumar: 36).
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tawakkal kepada Allah adalah termasuk sebab yang paling kuat untuk melindungi diri seorang hamba dari gangguan, kezhaliman dan permusuhan orang lain yang tidak mampu dihadapinya sendiri. Allah akan memberikan kecukupan kepada orang yang bertawakkal kepada-Nya. Barangsiapa yang telah diberi kecukupan dan dijaga oleh Allah Ta’ala maka tidak ada harapan bagi musuh-musuhnya untuk bisa mencelakakannya. Bahkan dia tidak akan ditimpa kesusahan kecuali sesuatu yang mesti (dirasakan oleh semua makhluk), seperti panas, dingin, lapar dan dahaga. Adapun gangguan yang diinginkan musuhnya maka selamanya tidak akan menimpanya. Maka (jelas sekali) perbedaan antara gangguan yang secara kasat mata menyakitinya, meskipun pada hakikatnya merupakan kebaikan baginya (untuk menghapuskan dosa-dosanya) dan untuk menundukkan nafsunya, dan gangguan (dari musuh-musuhnya) yang dihilangkan darinya.
Salah seorang ulama salaf berkata: “Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan bagi setiap perbuatan balasan dari jenis perbuatan itu, dan Dia menjadikan balasan bagi (hamba yang) bertawakkal kepada-Nya (adalah) kecukupan dari-Nya untuk hamba tersebut. Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq: 3).
Dia tidak berfirman: (barangsiapa yang bertawakal kepada Allah) maka Kami akan berikan kepadanya pahala sekian dan sekian, sebagaimana dalam amal-amal shaleh lainnya. Akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan diri-Nya sebagai pemberi kecukupan, pelindung dan penolong bagi hamba-Nya yang bertawakkal kepada-Nya. Maka kalau seorang hamba bertawakkal kepada-Nya dengan tawakkal yang sebenarnya, kemudian langit dan bumi beserta semua makhluk yang ada di dalamnya ingin memperdayainya (mencelakakannya) maka sungguh Allah akan memberikan jalan keluar, melindungi dan menolong hamba tersebut”[17].
Makna inilah yang terungkap dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang ketika keluar rumah membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)?”[18].
Artinya: diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan lurus, diberi kecukupan dalam semua urusan dunia dan akhirat, serta dijaga dan dilindungi dari segala keburukan dan kejelekan, dari setan atau yang lainnya[19].
Demikian juga, keimanan yang benar terhadap nama-Nya yang maha agung ini akan menumbuhkan dalam hati seorang hamba perasaan takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata dan tidak takut kepada gangguan makhluk dalam menegakkan agama-Nya, karena dia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu menjaga dan melindungi hamba yang selalu bertakwa dan menegakkan agama-Nya.
Allah ‘Azza wa Jalla memuji para shahabat radhiallahu ‘anhum yang merealisasikan sikap ini dalam menghadapi gangguan dan ancaman orang-orang kafir, dalam firman-Nya:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang ketika orang-orang berkata kepada mereka: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu (justru) menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung” (QS Ali ‘Imraan:173).
Sikap ini pulalah yang ditunjukkan oleh Nabi Allah ‘Azza wa Jalla yang mulia, Ibrahim ‘alaihissalam ketika beliau dilemparkan ke dalam api oleh musuh-musuh beliau, karena beliau menghancurkan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah Ta’ala.
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Ucapan terakhir (yang dikatakan oleh) Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika dilemparkan ke dalam api (adalah): Hasbiyallahu wani’mal wakiil” (cukuplah Allah menjadi Penolongku dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung)

Penutup
Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita petunjuk dan taufik-Nya, serta kecukupan dan penjagaan dari-Nya, sesungguhnya Dia Maha memberi kecukupan dan Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 12 Dzulqo’dah 1432 H

[1] Dalam kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadiitsi wal atsar” (1/955).
[2] Dalam kitab beliau “Bada-i’ul fawa-id” (2/473).
[3] Dalam kitab “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 30).
[4] Dalam kitab “al-Qawa-’idul mutsla” (hal. 40).
[5] Mu’jamu maqaayiisil lughah (2/47).
[6] Kitab “al-Qamus al-muhith” (hal. 94).
[7] Kitab “Lisaanul ‘Arab” (1/310).
[8] Dalam kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadiitsi wal atsar” (1/955).
[9] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 234).
[10] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 234).
[11] Lihat penjelasan syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 30-31).
[12] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 234).
[13] Lihat kitab “Fathul Qadiir” (7/241) dan “Aisarut tafaasiir” (4/274).
[14] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/497).
[15] Lihat penjelasan syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam kitab “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 31).
[16] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 234-235).
[17] Kitab “Bada-i’ul fawa-id” (2/464-465).
[18] HR Abu Dawud (no. 5095) dan at-Tirmidzi (no. 3426), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani.
[19] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 235).

Tuesday, 12 February 2013

Hasbunallahu Wa Ni’mal Wakeel, Ni’mal Maula Wa Ni’man Naseer

Feel Free to Click  On My Other Related Posts:



بسم الله الرحمن الرحیم
و لا حول ولا قوة الا بالله العلی العظیم، حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
والصلاه و السلام علی اشرف الانبیاء و المرسلین و اللعنه الدائمه الابدیه علی اعدائهم اجمعین
هدیه محضر بقیه الله الاعظم روحی و ارواح العالمین له الفداه همگی باهم صلواتی می فرستیم .


HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER
HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER

HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER

HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER

HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER

HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER

HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER

HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER

HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER

HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER

HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER


HASBUNALLAHU WA NIKMAL WAKIL NIKMAL MAWLA WA NIKMAN NASIR
حَسبنا الله و نعم الوکیل نعم المولی و نعم النصیر
HASBUNALLAHU WA NI'MAL WAKEEL, NI'MAL MAULA WA NI'MAN NASEER