Thursday, 4 October 2012

Mihrab Kaum 'Arifin : HAKIKAT HAJI (IMAM GHAZALI)


Bagi yang bermaksud menunaikan haji, haruslah memperkuatkan niat - yerlah, bakal beroleh haju merdud (ditolak or being rejected or bounced back).

Seharusnya yang bermaksud menunaikan haji pasang tekad seolah-olah dia TIDAK INGIN KEMBALI LAGI, berbaik sesama teman seperjalanan. ... dan ketika dia memasuki ihram dia mengosongkan diri, membersihkan dosa-dosa serta mengenakan busana kesetiaan & kejujuran.

DIA PENUHI PANGGILAN TUHANNYA.

... dan selama di Tanah Haram, 
dia hindari perbuatan-perbuatan yang dapat menjauhkannya dari Tuhannya. 
dia bertawaf dengan hatinya di sekitar 'Kursy Kemuliaan-Nya'.
dia bersihkan lahir bathinnya saat berdiri di Bukit Safa/.
dia berlari dari kongkongan nafsu serta tidak berharap dari yg telah diharamkan Allah.
dia mengakui dosanya ketika wuquf di Padang 'Arafah
& bertaqarrub (mendekatkan diri) saat di Muzdalifah.
dia melempakan jauh-jauh syahwatnya bersamaan dengan lemparan jumrahnya.
dia sembelih hawa nafsunya serta mencukur dosa-dosanya
dia menziarah ke Baitullah dengan mengagungkan pemilikNya
lalu mencium Hajar Aswad sebagai bukti kerelaannya terhadap ketentuanNya.
dan manakala tiba detik-detik thawaf Wada' (perpisahan), dia tinggalkan selain Allah.


Part 2:


HAJI HAKIKI : bermakna KESEMPURNAAN KEISLAMAN sasaorang muslim itu. Haji ditafsirkan sebagai HAJAT. Maka apabila kita telah berjaya SE –kan diri kita dengan Zat, Sifat, Asma’ & Af’al Allah maka mencapailah kita akan HAJAT. HIDUPLAH DG KEBESARAN ALLAH. SAMPAI LAH IA.

QALBU MUKMIN BAITILLAH iaitu pasangan kepada KA'ABAH zahir di Makkah.



Part 3:


Hakikat Berhaji Menurut Imam Ghazali ; Ketika Tawaf

Yang perlu diperhatikan adalah;
1.       Ketika tawaf hati perlu diisi dengan cinta, takut, harap dan pengakuan atas keagungan Allah,
2.       Sadar bahwa ada juga lintasan malaikat yang teramat dekat dengan-Nya. Mereka mengelilingi ‘Arasy. Tawaf tidak sekedar jasmani, namun tawaf hati melalui ingat pada Allah SWT.
3.       Menyadari kehadiran-Nya, Baitullah adalah symbol pengadilan Ilahi di dunia dan sekedar gerbang menuju alam malakut. Sadar adanya hubungan dengan Bait al-Ma’mur [rumah berpenduduk banyak] yang terletak antara syurga dan ka’bah. Malaikat yang tawaf di syurga mirip dengan manusia yang tawaf di bumi.
4.       Bila tidak dapat ‘menlihat’ ini dan melakukan tawaf tingkat ini, maka yang perlu dilakukan adalah melakukan sebaik mungkin, meniru sebaik mungkin. Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa menyerupai suatu golongan, maka ia termasuk dalam golongan tersebut.’ HR. Abu Dawud, sahih. Imam Ghazali menjelaskan bahwa siapa yang mampu melakukan tawaf tingkatan tinggi ini, Ka’bah akan mengunjunginya dan berputar mengelilingi dan hanya orang yang  mempunyai kasyaf untuk melihat peristiwa ini, dia orang yang sangat dekat dengan Allah SWT.
Sumber; Ibadah Perspektif Sufistik dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam, Al Imam Abu Hamid Ghazali. Surabaya; Risalah Gusti. Penerjemah Roudlon, S.Ag. dari Inner Dimensions of Islamic Worship, Muhtar Holland.
HAKIKAT TAWAF HAKIKAT TAWAF

Haji Hakiki


Pada rukun Islam pun sudah ada kewajiban yaitu Ziarah ke Mekah dan Madinah, ke makam Rasulullah saw dan Kerajaan Allah Ta’ala yang terdapat pada diri sendiri, sebagaimana Firman Allah:

Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya.(Q.S. Yunus, 10:47)

 Oleh sebab itu kita perlu penasaran, wajib untuk mengetahui akan Hakikatnya Rasulullah saw yang ada pada diri sendiri. Apalagi apabila kemampuan kita untuk pergi ke Makkah dan Madinah tidak ada, tetapi di atas sudah ditekankan bahwa pergi haji itu ada dua macam, yaitu Haji Majaji dan Haji Hakiki.

Haji Majaji adalah mereka yang mampu berziarah ke Baitullah dan Madinah. Haji Hakiki adalah yang sudah mengetahui pada Hakikat Baitullah dan Rasulullah  saw pada dirinya sendiri, karena Rasulullah  saw itu tidak “meninggal dunia”, jikalau “meninggal dunia” Alam dunia ini tidak akan ada. Maka kita ini jikalau berkehendak untuk menjadi umat Rasulullah saw harus dapat mengetahui akan Hakikat Rasulullah  saw  yang disebut Johar Awal tadi, supaya tercapai  -kelebihan dari para Wali.

Hakikat Haji Hok Sebenar


Haji itu wajib bagi setiap Muslim yang berakal sihat yang mampu melaksanakannya dan telah mencapai kedewasaan. Haji itu adalah memakai pakaian haji (ihram) pada tempat yang ditentukan, singgal di A’rafah, mengelilingi Ka’bah, dan berlari antara Shafa dan Marawah. Tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci tanpa berpakaian ihram. Kawasan suci (haram) disebut demikian karena di situ terdapat Makam Ibrahim. Ibrahim as mempunyai dua makam: makam badannya, yakni, Makkah dan makam ruhaninya, yakni, persahabatan (dengan Tuhan).


Barangsiapa mencari makam badaniahnya, dia harus menafikan semua hawa nafsu dan kesenangan, memakai pakaian ihram, mencegah dari perbuatan yang dihalalkan, mengendalikan sepenuhnya semua indra, hadir di Arafah dan dari sana menuju Muzdalifah dan Masy’ar Al-Haram, mengambil batu-batu dan mengelilingi Ka’bah, mengunjungi Mina dan tinggal di sana tiga hari, melemparkan batu-batu dengan cara yang sudah ditentukan, memotong rambutnya, melaksanakan kurban dan memakai pakaian biasa (sehari-hari).


Tetapi barang siapa mencari makam ruhaniahnya, harus menafikan pergaulan dengan sesamanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesenangan-kesenangan, dan tidak berpikir lain selain tentang Tuhan. Kemudian dia harus singgah di “Arafatnya makrifat dan dari sana pergi ke Muzdalifahnya persahabatan, dan dari sini menyuruh hatinya untuk mengelilingi Ka’bahnya penyucian Ilahi, dan melemparkan batu-batu hawa nafsu dan pikiran-pikiran kotor di Mina keimanan, dan mengorbankan jiwa rendahnya di altar musyahadat dan sampai pada makam persahabatan. Memasuki makam badaniah berarti aman dari musuh-musuh dan pedang-pedang mereka, tetapi memasuki makam ruhaniah berarti aman dari keterpisahan (dari Tuhan) dan akibat-akibatnya.


Muhammad bin Al-Fadhl mengatakan, “Aku heran pada orang-orang yang mencari Ka’abah-Nya di dunia ini. Mengapa meraka tidak berupaya melakukan musyahadat tentang-NYa di dalam hati mereka? Tempat suci kadangkala mereka capai dan kadangkala mereka tinggalkan, tetapi musyahadat bisa mereka nikmati selalu. Jika mereka harus mengunjungi batu (Ka’abah), yang dilihat hanya setahun sekali, sesungguhnya meraka lebih harus mengunjungi Ka’abah hati, di mana Dia bisa dilihat tiga ratus enam puluh kali sehari semalam. Tetapi setiap langkah mistikus adalah simbol perjalanan menuju Meakkah, dan bilamana ia mencapai tempat suci ia menerima jubah kehormatan, bagi setiap langkah.”

Dan Abu Yazid mengatakan, “Pada hajiku yang pertama aku hanya melihat Ka’abah, kedua kalinya, aku melihat Ka’abah dan Tuhannya Ka’abah, dan ketiga kalinya, aku hanya melihat Tuhan saja.” Pendeknya, tempat suci ada di mana musyahadat ada.


Karena itu, yang sebenarnya bernilai bukalah Ka’abah, melainkan kontemplasi (musyahadat) dan pelenyapan (fana’) di dalam istana persabatan, dan melihat Ka’bah merupakan sebab tidak langsung. Tetapi, kita harus tahu bahwa setiap sebab bergantung pada pencipta sebab-sebab, dari tempat tersembunyi mana pun kuasa ilahi tampak, dan dari mana pun keinginan si pencari bisa dipenuhi. Tujuan mistikus dengan melintas belantara dan padang pasir bukanlah tempat suci itu sendiri.

Tujuan mereka adalah mujahadat dalam suatu kerinduan yang membuat mereka tak bisa tenang, dan kelenyapan dalam cinta yang tak pernah berakhir. Seseorang datang kepada Junayd. Junayd bertanya kepadanya dari mana ia datang, Ia menjawab, ” Aku baru saja melakukan ibadah haji.”

“Dari saat engkau permata kali berjalan dari rumahmu, apakah engakau juga telah meninggalkan semua dosa?” tanya Junayd.
“Tidak,” jawab orang itu.
“Berarti,” kata Junayd, “engkau tidak mengadakan perjalanan. Di setiap tahap dimana engkau beristirahat di malam hari, apakah engkau telah melintas sebuah makam di jalan menuju Allah?”
“Tidak”.
“Berarti engkau tidak menempuh perjalanan tahap demi tahap. Ketika engkau mengenakan pakaian ihram di tempat yang ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan pakaian-pakaian sehari-harimu?”
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji. Ketika engkau singgah di Arafah, apakah telah singgah barang sebentar dalam musyahadat kepada Tuhan?”
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak singgah di Arafat. Ketika engkau pergi ke Muzdalifah dan mencapai keinginanmu, apakah engkau sudah meniadakan semua hawa nafsu?”
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak pergi ke Muzdalifah. Ketika engkau mengelilingi Ka’bah, apakah engkau sudah memandang keindahan non material Tuhan di tempat suci?”
“Tidak”
“Berarti engaku tidak mengelilingi Ka’bah. Ketika engkau lari antar Shafa dan Marwah, apakah engkau telah mencapai peringkat kesucian dan kebajikan?”
“Tidak.”
“Berarti engakau tidak lari. Ketika engkau datang ke Mina, apakah semua keinginanmu sirna?”
“Tidak.”
“Berarti engkau belum mengunjungi Mina. Ketika engkau sampai di tempat penyembelihan dan melakukan kurban, apakah engkau telah mengurbankan segala hawa nafsu?”
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak berkurban. Ketika engkau melemparkan batu-batu, apakah engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang menyertaimu?”
“Tidak.”
“Berarti engkau belum melemparkan batu-batu, dan engkau belum melaksanakan ibadah haji. Kembalilah dan lakukan ibadah haji seperti yang telah kugambarkan supaya engkau bisa sampai pada makam ibrahim.”


Selanjutnya, haji ada dua macam :
1. dalam ketidakhadiran (dari Tuhan) dan
2. dalam kehadiran (bersama Tuhan).

Sesesorang yang tidak hadir dari Tuhan di Makkah, maka ia dalam kedudukan yang seolah-olah ia tidak hadir dari Tuhan di rumahnya sendiri, dan seseorang yang hadir bersama Tuhan di rumahnya sendiri, maka ia berada dalam kedudukan yang seolah-olah ia hadir bersama Tuhan di Makkah.

Haji adalah suatu tindakan mujahadat untuk memperoleh musyahadat, dan mujahadat tidak menjadi sebab langsung musyahadat melainkan hanya sarana untuk mencapai musyahadat. Maka dari itu, karena sarana tidak mempunyai pengaruh lebih jauh atas realitas segala hal, tujuan haji yang sebenarnya bukanlah mengunjungi Ka’bah, melainkan untuk memperoleh musyahadat tentang Tuhan.

.

Monday, 1 October 2012

HOK SEBENAR

HADITH QUDSY: 
"AKU JADI PENGLIHATAN, AKU JADI KAKINYA, AKU JADI TANGANNYA, ETC"
-----------------------------------------------------------------------
ALANGKAH HEBATNYA KATA-KATA ITU
ADAKAH YANG BERTANYA & MEMBANTAH?
KENAPA ALLAH MAU JADI TANGAN & KAKI HAMBA?
DAN KENAPA JADI BEGITU?
TIDAK ADA TANYA & BANTAH
MASHA ALLAH HEBAT SEKALI

.