Sunday, 2 December 2012

MENCARI NAMA RAHASIA ALLAH YANG KE 100


FEEL FREE TO CLICK ON RELATED POST:


+Credits to Sahabatku;
Article (Review) Di Edit Oleh: Anwar Holid
(segaja saya post bulat-bulat , pengolahan & ubah-suaian
hanya dari segi penekanan ayat, perkataan, kalimah & points to ponder
demi mengekalkan penyampaian versi asal)
-----------------------------------------------------------------


Tentang Buku Pak Muh 
---"Agus Kurniawan" 

Mencari Nama Allah yang Keseratus
Penulis : Muhammad Zuhri
Penerbit : Serambi Jakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2007
Tebal : 215 halaman

Tentang buku Pak Muh (Mencari Nama Allah yang Keseratus) mending baca sendiri atau tanya orang lain saja deh. Gak berani menjelaskannya, takut tidak tepat. Tapi sedikit yang saya bisa cerna (maklumlah "pencernaanku" jelek banget untuk urusan dunia pemikiran) mungkin begini:


Allah telah menawarkan nilai- nilai, yang secara artikulatif disimbolkan melalui asmaNya yang jumlahnya 99 (asma'ul husna, nama-nama yang agung). 

  • Tapi sumber itu tidak akan berarti apa-apa bagi seseorang bila tidak direalisasi dalam bentuk tindakan, gerak, amal, atau keterlibatan diri, yang memberi manfaat bagi kehidupan.
  • Ketika sudah direalisasikan dan menginternal dalam diri seseorang, maka seseorang itu akan menemukan/dianugrahi suatu "cara" atau metode yang efektifitasnya sangat tinggi dalam menjalankan amanatnya sebagai khalifah Allah. 
  • "Cara" tadi benar-benar khas milik orang itu sendiri, yang berbeda masing- masing orang. Sama-sama nabi, sama-sama ulama, sama-sama sufi, sama-sama pejuang, tapi perannya masing-masing khas dan berlainan. 

Atau setidak-tidaknya apa yang dihayatinya berbeda-beda. Pada saat itulah dia dikatakan telah menemukan asma Allah yang keseratus. Mungkin maksudnya begitu ya.


Dalam pemahamanku, istilah yang digunakan Pak Muh itu merupakan elaborasi imajinatif (dalam konteks positif lho) terhadap konsep literal yang sudah baku. Tujuannya adalah untuk meneguhkan tentang perlunya keterlibatan sang subjek dalam merealisasikan nilai atau konsep sehingga menjadi aktual. 

Dalam tradisi Jawa, sejauh yang saya tahu, terdapat model pemaparan serupa itu. Misalnya "sedulur papat kelima pancer", atau empat bersaudara dan yang kelimanya adalah sang pelengkap, sebuah elaborasi simbolik dari "kehadiran" Pandawa Lima. 

Puntodewo, si sulung, adalah simbol keikhlasan. 
Werkudoro/bimo simbol kejujuran (bahkan dia ditakdirkan tidak bisa berbasa-basi) . 
Arjuno simbol ilmu pengetahuan atau kemampuan mengelola kehidupan duniawi. 
Nakulo simbol kerendah hatian dan refleksi diri (na=tidak ada, kulo=aku atau ego). 
Sedangkan pelengkapnya adalah si bungsu sadewo (yang arti harfiahnya adalah berkemampuan layaknya dewa). 

Awalan "sa" atau "se" dalam bahasa Jawa artinya bisa "satu" tapi bisa juga "serupa" . Misalnya dalam kalimat "isinku segunung", yang artinya "rasa maluku sebesar gunung". Jadi "Sadewo" bisa diartikan satu dewa, bisa juga berarti berkemampuan serupa dewa. Tapi aku lebih sepakat yang kedua karena konteksnya lebih pas.



Sadewo adalah simbol keterlibatan si subjek dalam mengamalkan nilai-nilai sehingga menjadi aktual. Begitu empat nilai itu menginternal dalam diri si subjek, maka dia akan memiliki efektifitas yang tinggi dalam manajemen semesta, dan layak menjadi wakil Tuhan di bumi, atau bisa dikatakan mewarisi kemampuan ilahiyah. 

Sadewo, seperti kita tahu dalam cerita pewayangan, secara simbolik memiliki kemampuan seperti itu. Salah satu yang terkenal adalah kemampuanya mengetahui masa depan. Dalam cerita wayang, ada dua sosok yang memiliki kemampuan seperti itu, yakni Kresno dan Sadewo. Tetapi kemampuan Kresno lebih disebabkan karena dia memiliki senjata pemberian dewa, yaitu koco paesan (cermin penerawang masa depan = simbol perkakas analisis) . Sedangkan kemampuan Sadewo adalah natural, berasal dari dirinya sendiri. 




Konsep itu juga analog dengan istilah Jawa yang lain, yakni "ilmu lan laku"
Ilmu tentu saja artinya adalah pengetahuan atau kebijaksanaan. Tetapi ilmu tidak akan berarti apa-apa bila tidak disertai dengan laku atau keterlibatan si subjek. Oleh karena itu dalam tradisi Jawa dikenal istilah "nglakoni", atau melibatkan diri dalam berbuat kebaikan kepada masyarakat. 

Salah satu bentuk "laku atau nglakoni" adalah "poso ngrame". Poso hampir sama artinya dengan kata puasa dalam bahasa Indonesia, tapi maknanya lebih luas. "Poso" lebih tepat diartikan memaksa diri atau berkomitmen untuk melakukan sesuatu. 

"Ngrame" dari kata "rame" yang makna konotatifnya adalah meramaikan kehidupan dengan berbuat kebaikan. Memang bentuk "poso ngrame" adalah menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan, seperti dilakukan Raden Rama saat mencari Shinta, dimana dia menolong kera Sugriwo (dalam cerita wayang Jawa Lho) yang dianiaya oleh kakak kandungnya Subali.



Jadi, ringkasnya, dalam pemahaman saya, Pak Muh lewat bukunya ingin menyampaikan bahwa: nilai-nilai (sebaik apapun) belum sempurna bila belum direalisasikan kedalam kehidupan faktual. Mungkin begitu maksudnya. Sehingga apapun harus digenapkan atau disempurnakan, bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh diri si pelaku. Seperti dalam lakon Roro Jonggrang yang populer, seluruh patung yang diminta oleh Roro Jonggrang sebagai punagi (mas kawin) ternyata belum lengkap kecuali dilengkapi oleh diri Roro Jonggrang sendiri. Dan syahdan, Jonggrang pun akhirnya menjadi patung. Lengkaplah sudah, sempurnalah sudah.[]



Diedit oleh Anwar Holid

Awalnya tulisan ini diposting di cyberaki@yahoogroups.com

.

Artikel Pilihan : RAHASIA ISMULLAHIL-A’ZHOM NAMA ALLAH YANG KE SERATUS


FEEL FREE TO CLICK ON RELATED POST:




+Credits to Sahabatku: Abdul Mughni Shiddiq
Article Asal Oleh: Muhammad Zuhri+
(segaja saya post bulat-bulat tanpa pengolahan & ubah-suaian
demi mengekalkan penyampaian versi asal)
-----------------------------------------------------------------

Di tengah kemelut perkembangan sains dan teknologi yang menawarkan kesejahteraan hidup umat manusia di satu sisi, dan mengancam kelestarian alam pada sisi lain, muncul sebuah gagasan besar untuk mengidiologisasikan globalisasi. Pada saat yang sama timbul pula berbagai pembahasan tentang ajaran tasawuf, jalan hidup dan kebijakannya di forum diskusi, penerbitan buku dan media massa, seolah sebuah jawaban yang dilemparkan dari sebuah dunia jauh, dunia masa silam, yang wujud faktualnya semakin langka di abad kita. Umat manusia berjalan dan terus berjalan menyusuri lorong kemungkinan yang bisa dikuakkan, hingga melewati batas yang semestinya didapatkan, tanpa menemukan titik terang yang memberikan makna hakiki dari kehadirannya.



* KETELANJURAN

Nasibnya persis seperti Musa Alaihissalam dan Yusa’ bin Nun ketika mengembara mencari tempat pertemuan dua samudera. Mereka mesti mengalami kebablasan terlebih dahulu sebelum akhirnya menarik mundur langkah yang diambilnya (Lihat QS. Al-Kahfi, ayat 60-64). Fenomena tsb mengisyaratkan telah sampainya manusia modern pada puncak kesadaran mereka akan makna keberadaannya yang bukan anak struktur, melainkan sebagai subjek sejarah yang bertanggung jawab terhadap diri dan semestanya.

Rupanya mereka telah terpanggil oleh rabbul ‘alamin untuk memerankan managerial-Nya di muka bumi lewat situasi khauf, yaitu situasi ketakutan yang memuncak karena terancam kemusnahan akibat hasil karyanya sendiri (Lihat QS. Ar-Rum, ayat 41). Mereka terpaksa harus memilih salah satu dari dua kemungkinan, yaitu siap hancur bersama prasangkanya tentang kenyataan, atau mengakui kelemahan dirinya sebagai hamba (Lihat QS. Al-Kahfi, ayat 29).




*TANDA KEGAGALAN
Di dalam situasi dilematis seperti itu, tiada pilihan yang paling aman daripada menempuh jalan khayal. Dan bangsa-bangsa maju itu pun menciptakan new image of man sebagai kompensasi dari sikap skeptisnya. Sayangnya image mereka tentang Superman, Superboy, Rambo, dan Ninja, tak mampu menciptakan situasi sakinah, bahkan memancing timbulnya rasa cemas, curiga dan counter-kekerasan dari pihak yang merasa dirugikan (Peristiwa Teluk dan Korea).

Sejarah telah membuktikan bahwa umat manusia tak lagi membutuhkan kekerasan dari luar untuk dapat melejit ke langit ketinggian, tetapi mereka butuh situasi damai yang memungkinkan berlangsungnya evolusi spiritual di dalam diri mereka. Era kehidupan itulah yang ditawarkan oleh Rasulullah SAW sebagai ‘jihad akbar’, manakala proses revolusi fisik telah purna. Kemudian lorong tersebut menemukan identitasnya sebagai Jalan Kebenaran (tasawuf) yang ditempuh oleh Para Sufi dari zaman ke zaman.

Kiranya tak akan menyimpang dari jalan lurus yang telah direntangkan oleh Rasulullah SAW, bila mereka yang telah mencapai situasi “Bebas Dari” kendala alami kemudian meningkatkan pendakiannya menggapai “Bebas Untuk” memberi makna kehadiran mereka di tengah lingkungan umat. Dengan demikian status Hamba Allah yang telah dicapai dengan ketaatan nya kepada Tuhan akan mendapatkan fungsinya dalam ikut menentukan warna kehidupan umat manusia di dunia (kekhalifahan).

Perspektif kekhalifahan inilah yang vacum di benak bangsa-bangsa maju ketika mereka tampil mencanangkan ide globalisme. Mereka terlalu dini mengklaim dirinya sebagai polisi yang berhak membatasi bangsa lain. Ambisinya untuk menjadi pihak penentu dan kebijakannya yang rendah di dalam memperlakukan manusia sebagai benda mati yang dapat diproses secara kilat dengan sains dan teknologi, mengandaikan kementahan spiritual mereka sekaligus meramalkan kegagalannya di dalam memandu umat manusia menuju masyarakat global yang diharapkan. Mereka dihadapkan pada masalah keutuhan umat manusia yang tak pernah tuntas (the unfinished universe) tanpa sistem yang memadai.




* NAMA TUHAN KE SERATUS
Pada saat itulah kita perlu mengkaji-ulang Jalan Sufi yang pernah berhasil melahirkan individu-individu besar yang berkualitas universal. Tak berlebihan bila kita katakan, merekalah yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai pionir globalisasi daripada manusia modern yang tak pernah menemukan hakikat dirinya. Ini berdasarkan kenyataan bahwa mereka lebih tulus dalam menyikapi sesama manusia, tanpa pamrih selain Redha Allah, dan tak mengenal putus asa di dalam ibadahnya mengembangkan kualitas hidup umat manusia.

Kondisi pribadi yang demikian tak mungkin terwujud tanpa pendadaran internal yang matang dan sarana teknis yang memadai. Dan kita pun segera memaklumi setelah kita menelaah respon mereka yang brilliant terhadap informasi nabawi tentang nama-nama Tuhan. 

Pemandu mereka (Rasulullah SAW) telah mengajarkan 99 nama yang digunakan oleh rabbul ‘alamin untuk mencipta, memelihara dan mengembangkan semesta sampai mencapai kebulatan yang nyaris sempurna (unfinished; sifat bilangan 99). Tinggal satu nama yang tak diajarkan kepada mereka, yang harus ditemukannya sendiri lewat pengabdiannya sepanjang hidup. Itulah Sebutir Mata Tasbih yang terlepas dari untaiannya. Itulah ismulllahil a’zhom atau nama Tuhan yang ke seratus, yang bila Allah dipanggil dengan nama tersebut, akan ditunaikan hajatnya.

Bila di dalam mencari nama Allah Yang Ke Seratus kita bersikap seperti mencari informasi keilmuan, maka dapat dipastikan kita akan gagal memperolehnya. Karena sebenarnya nama yang kita cari itu bukanlah sebuah objek di luar diri kita, melainkan subjek pencari itu sendiri.



* EKSISTENSIAL

Dengan aset 99 nama Allah Para Sufi mengembara dalam pengabdiannya untuk menggenapkan bilangan yang nyaris sempurna itu. 

Bila mereka berhasil mendapatkannya dalam wujud sifat kesadarannya sendiri, maka berubahlah sifatnya menjadi kudus, lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesamanya. Saat itu mereka berada dalam maqam sayidina Isa AS. Manakala mereka mendapatkannya dalam wujud dzatnya sendiri, maka muncullah dari dalam dirinya keyakinan yang bulat, energik, kreatif dan pantang menyerah. Tentu saja berwujud hasil cipta yang berdaya mampu mengubah struktur dunianya. Itulah maqam tertinggi yang ditemukan oleh sayidina Muhammad SAW. yang meruang dan mewaktu.

Transformasi eksistensial dari individu kecil mencapai individu besar, dilukiskan oleh Muhammad Iqbal dengan tepat dan indah di dalam karyanya Asrari Khudi: 
“Kejadianku arca belum selesai, cinta memahat daku dan aku menjadi manusia.” 

Untuk mencapai kondisi kekhalifahan yang memadai di dalam memandu umat mencapai masyarakat global, kita tidak membutuhkan new image of man. Karena secara fitri umat manusia telah berada di sana (Lihat QS. Al- Baqarah, ayat 30), dan dalam kadar tertentu mereka telah terlatih merealisasi fungsi tersebut ke dalam lingkungan kecil kehidupannya. Misalnya perlindungan orang tua terhadap kelangsungan hidup keluarganya, sikap ramah dan manis terhadap yang lebih muda, upaya pengembangan kualitas hidup mereka dan pengorbanan yang ikhlas dari sang asyik kepada sang ma’syuk dan lain sebagainya merupakan aset fundamental yang diajarkan Allah lewat lingkung kehidupannya.

Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana sifat-sifat luhur yang sejak dini telah disemaikan oleh rabbul ‘alamin di dalam diri kita itu bisa tumbuh optimal dan mensemesta? 
Jawabannya adalah bagaimana kita bisa menemukan sebutir tasbih yang lepas dari untaiannya, yang tak lain menggarap diri kita sedemikian rupa sehingga layak untuk menggenapinya. Untuk itu kita tak perlu mengimport atau pun mengadopsi metodologi dari mana pun, apalagi dari zaman yang telah usang. Jalan sufi selalu kontekstual dan dituntut relevan dengan zamannya.

Jelasnya, kita tak butuh nama lain, kabilah lain, paradigma lain, sarana teknis lain, teknis dasar lain, dan bai’at lain, selain yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, yaitu Islam. Hanya dengan kembali kepada pokok ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW, kita akan dapat merangkaikan kembali mata tasbih yang tersia-sia (diri kita) dalam untaiannya yang fitri.

Dengan demikian, kita berharap dapat menolong umat manusia dalam menyelesaikan karya agungnya, membangun ummatan wahidatan di atas bumi tercinta ini. Insya Allah.

-----------------------------------------------------------------
Takwa dan Sikap Sederhana
Oleh: A. Mustofa Bisri

Takwa, seperti galibnya istilah popular yang lain, sudah dianggap maklum; karenanya jarang orang yang merasa perlu membicarakannya lebih jauh. Secara sederhana, takwa dapat diartikan sebagai sikap waspada dan hati-hati. 
  • Hati-hati menjaga agar tidak ada perintah Allah yang kita abaikan. 
  • Hati-hati menjaga agar tidak ada larangan-Nya yang kita langgar. 
  • Hati-hati menjaga agar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya tidak justru menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah Ia gariskan.
  • Dan tidak kalah penting dari itu semua adalah kehati-hatian menjaga keikhlasan kita. Kita perlu waspada dan hati-hati menjaga agar pelaksanaan perintah Allah maupun penghindaran dari larangan-Nya, semata-mata karena Allah. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah demi dan karena Allah; bukan demi nafsu dan keinginan diri kita atau karena dorongan pamrih-pamrih yang lain.

Kita hidup untuk beribadah, dan kita beribadah semata mengharap redha Allah dan bukan mencari redha dan kepuasan diri sendiri. Dalam ibadah mahdhah atau yang bersifat ritual, seperti sembahyang, berpuasa, dan sebagainya, ketulusan mencari redha Allah ini mungkin relatif lebih mudah dibanding dengan ibadah yang bersifat sosial, seperti berbuat baik kepada sesama misalnya. Oleh karenanya, sudah sewajarnyalah apabila kita lebih berhati-hati dan terus mewaspadai ketulusan batin kita dalam hal melakukan ibadah-ibadah yang bersifat sosial itu.


Misalnya dalam melaksanakan ibadah sosial ingin memperbaiki keadaan dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Tanah Air, untuk menciptakan Indonesia baru yang lebih baik, kita perlu pula terus mewaspadai niat batin kita. Kita perlu selalu bertanya kepada diri-diri kita sendiri, untuk apa sebenarnya kita berjuang. Kita berjuang untuk Tanah Air demi mendapatkan redha Allah, ataukah sekedar untuk memuaskan nafsu dan kepentingan kita atau kelompok kita sendiri?

Getir rasanya dan sekaligus geli kita mendengar banyak orang yang meneriakkan slogan-slogan mulia, seperti akhlakul karimah; ukhuwwah islamiyah; membangun masyarakat yang beradab, dan lain sebagainya, namun dalam pada itu mereka sekaligus bersikap dan berperilaku yang tidak berakhlak, menebarkan permusuhan di antara sesama saudara.

Alangkah tertipunya mereka yang merasa diri dan bahkan mengaku-aku berjuang demi hal-hal yang mulia, seperti demi agama dan demi negara, tapi tindak-tanduknya justru menodai kemulian itu sendiri. Bahkan ada yang-na’udzubillah- meneriakkan asma Allah sambil memperlihatkan keganasannya kepada sesama hamba Allah.

Mereka itu umumnya tertipu oleh semangat mereka sendiri. Setan paling suka dan paling lihai menunggangi semangat orang yang bodoh atau kurang pikir, untuk dibelokkan dari tujuan mulia semula. Mereka yang katanya berjuang ingin menegakkan demokrasi, misalnya, karena terlalu bersemangat, tiba-tiba justru menjadi orang-orang yang sangat tidak demokratis; tidak menghormati perbedaan dan bahkan menganggap musuh setiap pihak yang berbeda. 

Demikian pula, mereka yang katanya ingin berjuang untuk agama, menegakkan syariat Tuhan, karena terlalu bersemangat, sering kali justru dibelokkan oleh setan dan tanpa sadar melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh orang yang ber-Tuhan dan beragama, seperti sudah dicontohkan di muka.

Lebih konyol lagi, apabila yang tergoda melakukan hal-hal bodoh semacam itu adalah mereka yang sudah terlanjur dijadikan atau dianggap imam dan panutan. Karena, para pengikut biasanya akan bertindak lebih bodoh lagi. Seorang panutan cukup memaki untuk membuat para pengikutnya membenci, seperti halnya guru cukup kencing berdiri untuk membuat murid-muridnya kencing berlari.

Biasanya, kekonyolan terjadi lantaran sikap yang berlebihan. Sikap berlebihan tidak hanya dapat membuat orang sulit berlaku adil dan istiqamah, tapi sering kali dapat menjerumuskan orang kepada tindakan yang bodoh. Berlebihan dalam menyintai atau sebaliknya membenci, acap kali membuat orang bersikap konyol. Bahkan, orang yang berlebihan dalam mencintai diri sendiri, dapat kehilangan penalaran warasnya, sebagaimana terjadi pada mereka yang mengangkat diri sebagai imam, nabi, bahkan titisan malaikat Jibril. Mereka yang berlebihan menyintai imamnya pun pada gilirannya juga kehilangan penalaran sehatnya.

Rasanya kita perlu membiasakan kembali sikap hidup sederhana, sebagaimana diajarkan dan dicontohkan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Maka, kita dapat dengan lebih mudah berlaku adil dan istiqamah, dapat memandang sesuatu tanpa kehilangan penalaran sehat.



Saturday, 1 December 2012

‘AL-AKHFIYA': SOROK & SEMBUNYI , JAGA HATI


Bismillah…  ‘AL-AKHFIYA': SOROK & SEMBUNYI , JAGA HATI

Tentang orang orang yang telah menggapai ma’rifatullah menjaga agar urusan mereka tidak diketahui oleh siapapun sebagai bentuk ke-hati hatian agar mereka tidak terjatuh dalam perbuatan ujub, sifat sombong, dan tindakan meremehkan orang lain.

Inilah sedikit potret amal orang orang pilihan di lapangan jihad, ilmu, ibadah, dan amal amal kebajikan

Keikhlasan memang perkara yang sangat berat dan sangat mahal harganya.
Lebih berat lagi adalah menjaga keikhlasan setelah memperolehnya





*DALAM LAPANGAN JIHAD & PERPERANGAN
===========================================
Ketika Maslamah ibn Abdul Malik bersama pasukannya mengepung sebuah benteng Romawi, hanya ada satu jalan masuk ke dalamnya. Setelah pengepungan berlangsung beberapa lama, Maslamah berseru kepada pasukannya, “Barangsiapa berani menerobos pintu, seandainya ia mati maka dia akan mendapatkan surga in syaa Allah. Kalau dia selamat, maka tanah yang ada dibalik pintu itu pantas untuknya. Lalu, dia harus membuka pintu agar pasukan Islam dapat masuk kedalam benteng sebagai pemenang.”

Seorang prajurit dengan wajah ditutupi oleh kain berdiri dan maju seraya berkata, “Aku akan melakukannya wahai panglima”

Selama tiga hari Maslamah bin Abdul Malik bertanya tanya, “Siapakah orang yang mengenakan tutup muka itu? Siapakah yang membuka pintu benteng?”

Tak seorangpun berdiri mengaku. Pada hari ketiga, Maslamah pun berkata, “Aku bersumpah, agar orang yang menutup muka itu menemui aku, kapanpun waktunya, siang atau malam.”

Maka pada tengah malam, ada seseorang mengetuk pintu tendanya. Maslamah bertanya, “Engkau kah yang mengenakan tutup muka?”

Orang itu menjawab, “Dia meminta tiga syarat sebelum engkau melihatnya.”

“Apa itu?” tanya Maslamah

“Engkau tidak boleh mengumumkan namanya kepada orang orang, engkau tidak boleh memberinya imbalan apapun, dan engkau tidak boleh melihatnya sebagai seseorang yang memiliki keistimewaan.” kata orang itu

“Aku terima,” kata Maslamah

Orang itu lalu berkata, “Memang, akulah orang yang mengenakan tutup muka itu.”

Maslamah langsung menghampiri dan memeluknya. Dan diantara doa Maslamah yaitu

“Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama orang yang mengenakan tutup muka ini”

Dan kepundak orang orang semacam inilah Allah ‘azza wa jalla melimpahkan barakahNya.. (Hasyim Muhammad al-Minhaj fii al Mafahim al Islamiyyah wa ad Da’wah, jilid 2 Halaman 76)

*DALAM HAL ILMU & MEMBERIKAN MANFAAT
===========================================
Dialah Imam al-Mawardi, yang pada masa hidupnya tak satupun karyanya muncul. Ia hanya mengumpulkan karya karyanya tersebut dalam satu tempat. Ketika ia merasa ajalnya sudah dekat, ia berpesan kepada seseorang yang dipercaya olehnya,

“Semua buku yang ada di tempat fulan adalah tulisanku. Jika aku sudah menyambut ajalku dan dalam keadaan sakaratul maut, peganglah tanganku. Jika ak menggenggam tanganmu, maka ketahuilah bahwa hal ini menunjukkan bahhwa tidak satupun karyaku yang diterima oleh-Nya. Jika sudah begitu, maka ambil seluruh buku karanganku itu, dan lemparkan semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari. Namun jika aku membentangkan tanganku dan tidak menggenggam tanganmu saat meninggal, maka ketahuilah bahwa karyaku diterima. Sebab aku telah berhasil mendapatkan niat ikhlas yang aku harapkan..”

Sepeninggal Imam al Mawardi, orang kepercayaannya itu pun menuturkan, “setelah ajalnya mendekat, aku meletakkan tanganku diatas tangannya, yang ternyata ia membentangkan telapak tangannya dan tidak menggenggam tanganku. Maka, akupun tahu bahwa itu tanda diterimanya amalnya. Sehingga setelah itu aku pun memperlihatkan buku buku hasil karyanya. Abdul Hamid Al-Balali, Waahat al Imaan, jilid I hal 35

Untuk menulis buku buku itu, Imam al-Mawardi sudah menghabiskan umurnya, berjaga pada malam hari dan tidak tidur. Namun, setelah semua selesai, dia masih khawatir kalau kalau amalannya itu akan sia sia begitu saja karena riya’

Lihat juga Imam Syafi’i yang berkata,

“Aku ingin sekiranya semua manusia mempelajari ilmu ini dan mereka tidak menisbatkan sedikitpun kepadaku dan tidak pula memujiku”

Imam Syafi’i beranggapan bahwa pujian hanya akan mengurangi pahala dan mengurangi sifat orang orang yang menyembunyikan amal-amalnya.

*DALAM SHALAT SUNAT
===========================================
Hammad ibn Ja’far ibn Zaid menuturkan bahwa ayahnya menyampaikan kepadanya, “Kami berangkat ke Perang Kabil. Shilah ibn Usyaim juga bergabung dalam pasukan ini. Ketika singgah di al-Atamah, aku berata, ‘Aku benar benar akan memperhatikan apa yang dilakukannya, agar aku dapat meilhat ibadah yang dilakukannya seperti cerita orang orang tentang dirinya.’ Shilah mendirikan shalat lalu berbaring sambil menunggu orang orang terlelap. Ketika semua mata sudah terpejam, dia bangkit dan menuju ke sebuah semak semak tak jauh dari tempatnya. Aku membuntuti dari belakang. Dia berwudhu dan mendirikan shalat.

Tak lama kemudian, tiba tiba seekor singa muncul mendekatinya. Aku pun memanjat pohon. Kulihat Shilah sama sekali tidak menolehkan kepala. Dia tidak memperdulikan keberadaan singa itu. Dia sujud. Aku bergumam dalam hati, ‘Tak lama lagi tentu dia akan dimangsa.’ Setelah mengucapkan salam, Shilah berkata, “Wahai binatang buas, carilah rezeki di tempat lain.’ Singa itupun lalu berbalik menuju gunung.

Pagi harinya Shilah duduk dan memuji Allah. Aku tidak mendengar dzikir darinya kecuali perkataan Maa Syaa Allah. Dia lalu berdoa,’Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar engkau melindungi aku dari neraka. .’

Dia lalu kembali lagi ke tempatnya semula. Dia lalu berbuat seolah olah tetap berada diatas tikarnya seperti sedia kala, sedang aku sendiri merasa letih mengikutinya. [Shifatu shafwah Jilid 3 hal. 143]

Muhammad ibn Ziyad berkata, “Aku pernah melihat Abu Umamah menemui seseorang didalam masjid yang sedang sujud sambil menangis dan berdoa. lalu abu umamah berkata kepada orang itu, “Jika engkau melakukan hal semacam itu, maka lakukanlah didalam rumahmu.” [Nuzhat al-Fudhala' Jilid 2 hal 774]

*DALAM HAL PUASA
===========================================
Ma’aruf berkata,

“Aku selalu berpuasa. Jika aku diundang untuk makan, maka aku pun makan dan tidak kukatakan bahwa aku sedang berpuasa.” [Shifat ash-Shafwah, jilid 2 hal. 211]

Al Fallas menuturkan bahwa ia mendengar ibnu Abi Adi berkata, “Daud ibn Abi Hindun berpuasa selama empat puluh tahun, sementara keluarganya tidak mengetahuinya. Profesinya sebagai tukang jagal. Dia biasa membawa makan siangnya lalu menshadaqahkannya di tengah perjalanan.” [Nuhat al-Fudhala Jilid 2 hal 547]

*DALAM HAL MENYEMBUNYIKAN TANGISAN
===========================================
Syaikh Abdurrozaq suatu hari pernah menyampaikan mudhaharah tentang iman kepada hari kiamat. Beliau dengan sangat menggebu gebu menyampaikan dasyadnya hari kiamat sehingga timbul rasa ‘khauf’ yang sangat amat dalam hati para mahasiswa. Namun tiba tiba saja beliau terdiam, bahkan terpaku membisu. Para mahasiswa terkejut, ada apa gerangan…?

Beliau terus membisu hingga sekitar beberapa menit lamanya. Saat itu mata beliau berkaca kaca, dan hati pun bertanya tanya, “Ada apa gerangan? mengapa syaikh menahan tangisnya? bukankah jika beliau menangis di hadapan kami maka akan semakin menambah haru suasana dan menambah hidup wejangan wejangan beliau?”

Belakangan baru paham, bahwa keikhlasan memang perkara yang sangat berat lagi sangat mahal harganya. Dan yang lebih berat lagi adalah menjaga keikhlasan setelah memperolehnya. Dan memang merupakan kenyataan, bisa jadi seseorang ditimpa PENYAKIT UJUB dihadapan orang banyak. Bisa jadi.

Dikesempatan lain, beliau mengisi pengajian tentang berbakti kepada kedua orang tua. Saat itu beliau menjelaskan bahwa adanya orang tua di sebuah rumah merupakan hiasan rumah tersebut. Keberadaan orang tua menjadikan kehidupan di dalam sebuah rumah menjadi indah, dan ketiadaan mereka membuat kehidupan di rumah terasa gersang. Maka tiba tiba suara beliau berubah menjadi seperti orang yang hendak menangis. Beliau pun terdiam beberapa menit. Kemudian, beliau memberi isyarat seakan akan beliau hendak minum. Lantas tatkala beliau memegang gelas untuk minum, tangan beliau gemetar dan hampir hampir air yang ada di gelas itu tertumpah.

Ada pula sebuah kisah salah seorang salaf, Ayyub Asy-Syukhtiyani ketika menyampaikan sebuah nashihat, tiba tiba dia pun menangis karena terharu. Lantas, untuk menutupinya beliau mengatakan “Sesungguhnya influensa itu berat..”

*DALAM HAL TERKABULNYA DO'A
===========================================
Pada masa khalifah Muawiyah terjadi kemarau panjang dan paceklik. Tanaman meranggas, hewan ternak mati, dan manusia kehausan. Abdullah ibn al-Mubarak menuturkan, aku berada di Mekkah ketika orang orang ditimpa paceklik dan kemarau panjang. Mereka pun keluar ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat istisqa’. Akan tetapi hujan tidak juga turun. Disampingku ada seorang laki laki berkulit hita yang kurus. Kudengar ia berdoa

‘Ya Allah, sesungguhnya mereka telah berdoa kepada Mu, namun Engkau tidak memenuhinya. Sesungguhnya aku bersumpah kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan kepada mereka.’

Demi Allah, tak berapa lama kemudian, hujan pun turun kepada kami dan orang itu beranjak pergi. Aku mengikutinya hingga dia masuk ke sebuah rumah milik seorang penjahit. Keesokan paginya, aku mendatangi rumah itu sambil membawa beberapa dinar. Didepan rumah ada laki laki. Aku bertanya kepadanya, ‘Aku ingin menemui pemilik rumah ini’

‘Akulah orang yang engkau maksudkan’, jawabnya

Aku pun berkata, ‘Aku ingin sekali membeli budak dari dirimu.’

‘Aku mempunyai empat belas budak. Aku akan mengeluarkan mereka semua agar engkau dapat melihat mereka.’ katanya

Pemilik rumah itupun mengeluarkan keempat belas budaknya. Namun tak seorang pun diantara mereka yang aku inginkan. Aku bertanya, ‘Masih adakah lagi?’

Dia menjawab, ‘Aku mempunyai seorang lagi budak yang sedang sakit.’ Dia lalu mengeluarkan budak yang dimaksud, seorang budak kulit hitam.

Juallah budak ini kepadaku, pintaku.

‘Dia menjadi milikmu, wahai Abu Abdirrahman,’ katanya

Aku lantas menyerahkan empat belas dinar keadanya dan membawa budak itu. Ditengah perjalanan ia bertanya kepadaku, ‘Wahai tuanku, apa yang akan engkau perbuat kepadaku sementara aku sedang sakit?

Aku menjawab, ‘Aku tahu apa yang engkau lakukan kemarin sore.’

Budak itu menyandarkan diri ke dinding seraya berkata, ‘Ya Allah, kalau engkau membuatku terkenal maka cabutlah nyawaku’

Maka seketika itu pula budak itu jatuh dan meninggal dunia dan penduduk Mekah mengiringi jenazahnya [shifatu shafwah jilid 2 hal 177]

*DALAM HAL MENYEMBUNYIKAN MUSIBAH
===========================================
Syafiq al-Balkhi menuturkan, “Abdul Aziz ibn Abu Ruwad sudah buta semenjak dua puluh tahun, namun keluarga dan anaknya tidak mengetahui keadaannya itu. Suati hari sang anak memperhatikan keadaannya lalu berkata, ‘Wahai ayah, apakah engkau buta?’

‘Benar wahai anakkku.’ jawabnya, ‘Ini merupakan keridhaan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menjadikan ayahmu buta semenjak 20 tahun yang lalu” [Nuzhat al-Fudhala' jilid 2 halaman 713]

*DALAM HAL TAWADDHU' & MERENDAHKAN DIRI
===========================================
Syaikh Abdurrazaq pernah menjadi moderator saat Syaikh Muhammad bi Shalih al Utsaimin menyampaikan nashihat kepada para mahasiswa. Maka Syaikh Abdurrazaq memulai moderasinya dengan kalimat, ‘Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan mendengarkan mudhaharah yang akan disampaikan oleh ‘Al ‘Allamah’ Muhammad bin shalih..”

Tiba tiba saja Syaikh Muhammad bi Shalih al Utsaimin menimpali dengan suara yang lantang, “Uskut..!!!” (diaam..!!). Syaik Abdurrazaq pun tersentak mendengarnya. Beberapa saat kemudian, barulah beliau sadar bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin tidak ridha jika digelari ‘Al ‘Allamah atau orang yang sangat alim.

Seorang meminta izin kepada Syaikh Abdurrazaq untuk menerjemahkan buku beliau yang berjudul Fikhul Ad’iyaa wal Adzkar (Fikih Doa dan Dzikir) kedalam bahasa indonesia. Beliau mengizinkan dengan syarat: tatkala buku tersebut dicetak, nama beliau hanya ditulis ‘Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr’, tanpa embel embel gelaran Profesor Doktor. Begitu pula dengan buku buku beliau yang dicetak di Arab Saudi maupun di Aljazair, semua tanpa embel embel gelar tersebut. Padahal, sudah hampir 20 tahun beliau menyandang gelar profesor.

Bandingkanlah fenomena ini dengan kenyataan saat ini di kampus kampus. Terkadang permasalahan gelar menjadi hal yang teramat penting. Tidak jarang seorang dosen yang dibutuhkan tanda tangannya tidak mau membubuhkan tanda tangan karena penulisan gelarnya salah. Atau gelarnya bukan lagi doktor namun telah naik menjadi profesor.. Allahul musta’aan..

*DALAM HAL SADAQQAH
===========================================
Kisah ini sudah ma’aruf di telinga kita. Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar pada malam buta dan kemudian Thalhah memergokinya. Umar terus berjalan dan memasuki sebuah rumah, lalu masuk lagi ke rumah yang lain. Ketika pagi tiba, Thalhah datang ke rumah yang dimasuki Umar. Ternyata rumah itu adalah rumah dari seorang wanita tua dan buta yang sudah tidak mampu lagi berdiri. Thalhah bertanya, ‘Apa yang dilakukan orang yang mendatangimu semalam?’ Wanita tua itu menjawab, “dia sudah menyantuni aku semenjak sekian lama. Dia datang ke sini untuk memberikan apapun yang aku butuhkan sehingga aku tidak lagi menderita.”


Semoga yang sedikit ini dapat membawa manfaat bagi yang lain..
-----------------------------------------------------------------------------
+Credits To Irila (Yg Telah Nyalin Dari... )

- ‘Al – Akhfiya; Orang orang yang gemar menyembunyikan amal shalih mereka’ – Walid bin Sa’id Bahakam. 2010. Daun Publishing. Jakarta

- * Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah hingga ke Radio Rodja – Abu Abdil Muhsin Firanda. 2010. Pustaka Cahaya Sunnah..

(melihat yang diingati)


Entah mengapa entry yang masih lagi baru di post oleh seorang yang bernama Haji Shaari @ Maarifat Tok Kenali , dipost pada November 23, 2012 telah saya jumpai ketika saya baharu sahaja selesai menelefon saudara lelaki saya Firdaus Rohim di Tikam Batu, Sungai Petani, Kedah @ 5.31 pagi sebentar tadi berkenaan wasiat & amanat pakcik yang telah pergi.  Secara tak sengaja telah saya click & baca.


Berikut adalah entry dari saudara Shaari yang agak menarik perhatian saya.

Saya amat bersetuju dan selari dengan pembentangan beliau. Sama-samalah kita membaca article di bawah untuk renungan... semoga beroleh manfaatnya.
------------------------------------------------------------------



Pada 23hb Nov. Sahabat yang bernama Fadhil (012-3949 265), sms saya bertanyakan apakah itu ertinya kasyaf. Beliau dikatakan dapat melihat warna baju sahabat yang akan datang menemuinya. Setelah berjumpa, sahabatnya betul-betul memakai warna baju sebagaimana yang dia kasyaf. Seperkara lagi, beliau dapat membaca dan dapat meneka isi hati seseorang. Setelah ditanya dan disoal, benar-benar sebagaimana yang disanggkakan itu!. Beliau bertanya kepada saya melalui sms, tentang apa yang sedang berlaku pada dirinya, apakah itu yang dikatakan khasyaf?.

Tuan Fadhil dan para-para sahabat yang dirahmati Allah sekalian. Apa yang berlaku kepada tuan itu, adalah suatu “kelebihan” “kebolehan” “kepandaian” atau “kepakaran” yang dikurniakan Allah kepada seseorang. Kelebihan atau kebolehan itu, bukan merujuk kepada khasyaf. Itu adalah merujuk kepada kepakaran, kebolehan atau kepandaian seseorang, mengikut amalan yang diamal. Itu adalah hasil daripada amalan kita atau hasil melalui tuntutan ilmu yang kita tuntut!. Sedangkan khasyaf itu, adalah satu anugerah Allah, kepada sesiapa yang dikehendakiNya!.

Contohnya;
Seumpama berlaku kepada seseorang bomoh, bilamana pesakit hendak menceritakan penyakit atau masalah, bomoh itu berkata bahawa beliau sudah tahu apa masalah atau apa sakit kamu. Satu cerita lagi, bilamana kita kehilangan barang, kita pergi berjumpa dengan seseorang bomoh, beliau berkata bahawa, barang kita itu, ada disana dan ada disini!. Ternyata dakwaan atau sangkaan bomoh itu betul dan benar!. Apakah itu yang dikatakan kasyaf?. Menurut suluhan serta pandangan ilmu Tok Kenali atau mengikut sudut tilikan melalui kaca mata ilmu makrifat, Erti atau makna khasyaf itu adalah,

Khasyaf itu, adalah bilamana seseorang itu dapat melihat Allah melalui apa yang  mereka pandang, melalui apa yang mereka lihat dan dapat melihat Allah melalui apa yang  mereka tilik!.
Pandangan ini, adalah dipanggil pandangan makrifat. Pandangan makrifat itu, adalah penglihatan yang boleh menembus tujuh bukit, menyeberangi tujuh lautan dan merentasi tujuh benua. Barang siapa yang mengenal Allah (makrifatullah), tidak mustahil akan dapat melihat Allah pada sesuatu!. Inilah baru boleh dikatakan khasyaf!.

Allah bukan sesuatu tetapi zahir pada tiap-tiap sesuatu!
Sungguhpun Allah itu bukan sesuatu, tetapi Allah itu, tetap terzahir pada tiap-tiap sesuatu!. Bagi yang tidak terlihat Allah pada sebelum sesuatu dan tidak terpandang Allag pada sesudah sesuatu, maka itulah orang yang benar-benar dikatakan buta mata zahir dan bertambah buta mata hatinya!. Kasyaf itu, adalah mereka-mereka yang dapat melihat Allah pada sebelum dan pada sesudah sesuatu!.
Kasyaf itu, bukan bererti dapat melihat orang pakai baju warna apa, sebelum berjumpa, bukan merujuk kepada dapat melihat barang yang hilang atau bukan merujuk kepada orang yang mengetahi penyakit, sebelum kita bercerita!.

Kasyaf itu, hanya berlaku kepada orang makrifat sahaja!.
Kasyaf mengikut pandangan ilmu makrifat itu, hanya boleh terjadi dan hanya boleh berlaku kepada mereka-mereka yang mengenal Allah sahaja!. Bilamana mengenal Allah, mereka-mereka itu, adalah mereka-mereka yang dengan sendirinya dapat melihat, memandang serta dapat menilik apa sahaja, biarpun sesuatu itu berada disebarang tujuh lautan, disebalik tujuh benua atau biarpun ianya terlindung diseberang tujuh gunung!.

Apakah perkara yang dapat dilihat oleh orang makrifat biarpun disebalik tujuh gunung, tujuh lautan atau tujuh benua?. Yang dapat dilihat,dipandang dan ditilik oleh orang makrifat itu, biarpun dibatasi oleh tujuh gunung, dilindungi oleh tujuh benua atau dijahui oleh tujuh lautan itu, adalah Allah, adalah Allah dan adalah Allah!. Mereka-mereka itu, adalah mereka-mereka yang hanya ternampak Allah, terlihat Allah dan terpandang Allah,  disebelum gunung dan disesudah gunung!. Disebelum benua dan disesudah benua dan di sebelum lautan dan disesudah lautan!.

Hanya Allah cahaya langit dan bumi!.
Hanya Allah yang dapat terlihat oleh pandangannya di tujuh petala langit dan di tujuh petala bumi!. Tidak ada selain Allah. Tidak ada yang wujud, yang ujud dan yang maujud pada langit dan bumi, selain wajah Allah!.

(Allah Hu Nurussama Watiwalard)

Allah itu, adalah cahaya langit dan bumi”.

Siapa yang tidak nampak Allah pada diantara kedua-duanya, maka itulah orang yang buta!. Inilah yang dikatakan orang yang benar-benar khasyaf!.
Inilah ilmu yang ada pada dada saya Hj. Shaari tentang khasyaf yang dapat kita kongsi bersama pada pagi ini, jam 9.26 pagi, 23hb Nov.


Sambungan Kasyaf jam 12.33 tengah hari!
Setelah mendapat talipon dari sahabat saya dari Sungai Bakap, timbul rasa nak sambung sedikit lagi bab Kasyaf. Kasyaf itu, sehingga terlihat segala-galanya Allah, barulah benar-benar dikatakan kasyaf. nak rasa benar-benar khasyaf, sila ikuti lagi karangan di bawah.

Saya ingin berkongsi pendapat dengan tuan-tuan sekalian,  bahawa pegangan serta iktikad, salah seorang dari pembaca blog dari Sungai Bakap Perak talian fon no. 04 3809020, merupakan pegangan serta iktikad yang sangat baik untuk dikongsi dengan tuan-tuan semua. Setelah membaca blog saya, beliau terus menalifon saya, Pada jam 10.15 pagi, tanggal sama. Katanya setelah mengikuti blog saya yang lepas-lepas, beliau dengan berani dan tegas mengatakan bahawa, “Setelah sifat diri kita binasa, sifat diri kita telah semuanya dikembalikan kepada Allah, disitulah penglihatan kita itu, boleh menjangkau tujuh lautan dan tujuh benua”.

Saya kira beliau telah berhasil menyelami dari apa yang telah saya perkatakan selama ini!. Dari kata-kata beliau, saya sungguh teramat kagum dan bangga.

Sekiranya kita sudah karam di lautan wajah Allah, diamanakah lagi timbulnya diri?. Bilamana diri dan segala isinya sudah tertelan oleh lautan wajah Allah yang maha luas, mana lagi boleh terlihat adanya diri?. Diri kita sekarang, sudah dihanyutkan ombak dan sudahpun ditelan lautan wajah Allah yang deras. Ombak deras dan lautan dalam  telah menghayut dan telah menenggelamkan sifat diri kita kedasar laut yang dalam lagi luas!.
Bilamana diri kita sudah berada ditengah-tengah dasar lautan yang teramat dalam, apa lagi yang kelihatan dipermukaan lautan?. Cuba jawab?……………………., Yang kelihatan hanyalah masin, hanyalah masin dan hanyalah masin…………………………………..


Cara-cara latihan amali (praktikal)
Bila-bila masa terluang, saya minta tuan-tuan pergi ke sungai atau ketepi pantai, cuba ambil seketul batu, dan cuba tuan-tuan campakkan kedalam sungai atau ke dalam pantai!. Apakah lagi keliahatan batu?. Cuba jawab?………………..

Jika tak cukup dengan batu, dan masih tidak faham lagi dengan kiasan yang saya gambarkan, saya minta cuba tuan-tuan pinjam perahu orang dan saya mahu tuan-tuan ikat batu besar pada badan tuan-tuan sendiri dan sesampainya tuan-tuan ditengah lautan atau ditengah sungai, saya minta tuan-tuan terjun atau campakkan diri tuan-tuan kedalam lautan atau sungai!. Tengelamkan betul-betul diri tuan-tuan kedalam lautan. Setelah betul-betul tengelam, apakah lagi boleh dilihat orang?. Cuba jawab?
………………………… Tapi jangan betul-betul dibuat ya….., itu sekadar kiasan sahaja, tidak tertakluk kepada orang hidup atau orang yang sudah mati.  Jika betul-betul dibuat, susah saya nak menjawab dibalai polis nanti!.

Tapi, jika tuan betul-betul nak rasa, cubalah…………………………….Bagi saya, saya tak berani, saya takut betul-betul mati!. Bila saya mati, siapa nak tanggung anak isteri saya. Jika tuan-tuan berani, buatlah sorang-sorang!. Saya tak nak ikut tuan-tuan, nanti betul-betul mati, tak sempat nak berbuat ibadah!. (Maaf saya bergurau, tapi jika benar sekalipun, apa salahnya)!…………………….

Bilamana diri kita sudah tengelam di dasar lautan, barulah kita tahu yang bahawasa yang di tepi itu lautan, di tengah itu lautan, di hujung itu lautan dan barulah kita sedar bahawa lautan itulah sebenar-benarnya lautan. Biar kemana kita hadapkan muka kita, itulah lautan wajah Allah………………..

Terima kasih kepada pemanggil dari Sungai Bakap Perak (penganjur ceramah kita di Hotel Jawi Sungai Bakap). T.kasih Hambami……………………………..T.kasih dan T.kasih atas kefahaman itu, walau yang saya bagi itu hanya sedikit.  Amin drp hj Shaari

.